Mengapa Lelaki yang Baik Sulit Menjadi Suami yang Bahagia?

Kebaikan tak selalu setara dengan kebahagiaan. Perasaan tidak bahagia saat merasa sudah menjadi orang baik, bisa menyebabkan seseorang frustasi. Pelajari penyebab mengapa hal ini bisa terjadi dan temukan solusinya dalam artikel di bawah ini.

Saat memilih suami, istri sering yakin bahwa ia telah memilih lelaki yang baik. Ada harapan bahwa lelaki yang baik otomatis akan jadi ayah yang baik untuk anak. Ayah yang baik untuk anak otomatis akan jadi suami yang baik untuk istri. Namun, apakah lelaki yang baik lantas jadi suami yang bahagia?

Lelaki baik cenderung akan menuruti apapun yang pasangannya minta. Ia cenderung akan mengalah atau diam dengan dalih mencegah perkelahian. Ia tak pernah melakukan kekerasan atau kejahatan apapun. Tapi ia juga tak membuat istri maupun dirinya sendiri bahagia.

Identifikasi masalah

Lelaki yang baik selalu memikirkan respon pasangannya hingga seringkali membuatnya bingung apa yang harus ia lakukan untuk menyenangkan sang istri, ini akan membuatnya selalu kikuk dan serba salah.

Bukan saja ia yang tak bahagia, namun akibatnya bisa jadi pasangannya pun tak bahagia. Ia tidak ingin mengecewakan pasangannya, tapi juga bingung bagaimana caranya membuat istri tak kecewa.

Barangkali ia adalah orang yang dihormati di kantor, orang yang menjadi panutan di lingkungannya, orang yang bisa menjadi teman yang baik. Namun saat berada di sekitar pasangannya, ia jadi seseorang yang selalu bingung tentang apa yang harus ia lakukan agar terlihat baik oleh pasangannya.

Perasaan khawatir tidak dapat menyenangkan pasangan juga mengikis kepercayaan diri yang membuat nilai pada diri sendiri terus berkurang, Apalagi, ia selalu berharap bahwa pasangannya akan jadi orang yang semakin baik dengan mengakui kelebihan-kelebihannya.

Ia selalu berharap sesuatu terjadi di luar dirinya, bukan di dalam dirinya sendiri. Motivasi-motivasinya untuk menjadi baik berasal dari ekspektasi orang lain, bukan berasal dari dirinya sendiri.

Dalam laman Yout Tango, lelaki yang sangat jatuh cinta pada pasangannya sulit untuk bahagia karena selalu ada perasaan kikuk saat berhadapan dengan pasangan, Ada rasa tanggung jawab untuk membahagiakan pasangan yang diemban saat ia berhasil bersama orang yang ia cintai.

Bagaimana solusinya?

Lelaki yang baik bisa menjadi lelaki yang bahagia sekaligus, jika kita mampu mengidentifikasi masalahnya. Perasaan soal tanggung jawab membahagiakan pasangan ini akan berubah menjadi rasa frustasi ketika ia merasa gagal melakukan hal yang baik untuk pasangannya.

Di sisi lain, menyerah dengan jalan perpisahan juga bukan pilihan. Ia akan terus bertahan dalam kondisi yang tidak membuatnya bahagia karena ia lebih takut kehilangan orang yang ia cintai.

Steve Harsman, seorang profesional dalam hal bimbingan kehidupan berpasangan mengatakan bahwa untuk jadi suami bahagia, seseorang harus bisa menjadi lelaki yang bahagia dahulu.

Dalam tulisannya yang dimuat di Goodmen Project, Harsman menyarankan lelaki bisa bahagia dengan memanipulasi kebahagiaan dari dalam dirinya sendiri, bukan dari selain dirinya.

Bisa dimulai dengan mengevaluasi pandangan diri tentang nilai-nilai maskulinitas, wanita, maupun sex. Dari sana, mulailah percaya bahwa kita bertanggung jawab terhadap nilai-nilai yang kita pilih. Bukan hidup di bawah ekspektasi orang lain.

Jika Anda adalah tipe lelaki yang baik, maka cobalah untuk menjadi lelaki yang bahagia sekaligus. Identifikasi lagi potensi terdalam diri anda agar anda dapat mencintai dan menghargai diri sendiri lagi. Hal itu penting untuk meraih kembali kepercayaan diri yang runtuh.

Ingat satu hal penting, Anda tidak mungkin membahagiakan pasangan jika Anda tidak dapat membahagiakan diri sendiri dahulu.

 

Baca juga :

id-admin.theasianparent.com/5-hal-utama-yang-istri-inginkan-dari-suami/