Di Negara Ini, Anak di Bawah Umur 18 Tahun Dilarang Mengendarai Motor, Bagaimana dengan Indonesia?

Di Negara Ini, Anak di Bawah Umur 18 Tahun Dilarang Mengendarai Motor, Bagaimana dengan Indonesia?

Tingginya angka kecelakaan membuat pemerintah Filipina membuat sebuah aturan baru soal berkendara dengan motor. Akankah aturan ini berhasil kurangi kecelakaan?

Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, mengesahkan sebuah undang-undang lalu lintas yang mengatur soal larangan mengendarai motor dan membonceng motor bagi anak di bawah usia 18 tahun, 19 Mei 2017 lalu.

Peraturan tersebut sebenarnya adalah peninggalan mantan presiden Benigno Aquino No. 10666 tahun 1995. Namun, baru kali ini diimplementasikan.

Presiden Duterte menekankan bahwa negara melindungi keselamatan setiap anak. Untuk itu, keprihatinannya diwujudkan dengan mengesahkan aturan tersebut.

Tak hanya melarang anak di bawah usia 18 tahun untuk menyetir, Duterte juga melarang anak kecil untuk membonceng motor, baik posisinya berada di belakang supir maupun di depan.

Manila Buletin mencatat bahwa aturan ini tidak berlaku untuk anak di bawah usia 18 tahun yang tubuhnya sudah besar hingga kakinya mampu memijak tanah saat berada di atas motor, sehingga diperbolehkan untuk membonceng. Selain itu, lengan sang anak harus sudah bisa memeluk supir motor.

Anak tersebut juga wajib menggunakan alat-alat standar keselamatan lengkap saat membonceng, helm misalnya.

Satu-satunya pengecualian yang dibuat oleh pemerintah Filipina adalah apabila keadaaan yang terjadi sedang dalam masa gawat darurat dan si anak harus secepatnya dibawa ke rumah sakit. Di luar untuk gawat darurat tersebut, anak-anak dilarang untuk membonceng motor.

Warga yang melanggar aturan tersebut akan dikenai denda yang tinggi dan diancam dengan pencabutan Surat Izin Mengemudi (SIM) selama 1 bulan lamanya dan termasuk pemenjaraan.

Menurut data yang dihimpun Rappler, kecelakaan lalu lintas oleh pengendara motor adalah salah satu penyumbang kematian terbesar di Filipina. 53% kecelakaan di jalan dialami oleh pengendara motor roda dua dan tiga, 14% dialami oleh pengendara mobil.

Sebelum menerapkan aturan ini, kepolisian Filipina telah membuat aturan ketat soal pemeriksaan kadar alkohol di jalan, razia surat kelengkapan kendaraan, maupun melarang keras penggunaan ponsel saat motor sedang melaju.

Sebenarnya, dalam hal penyumbang kecelakaan terbanyak, Indonesia menyumbang lebih banyak kematian di jalan yang berhubungan dengan motor. Data dari Kementerian Perhubungan Republik Indonesia menyebut bahwa 73% kecelakaan di jalanan melibatkan motor di dalamnya.

Data ini terus menerus meningkat seiring dengan bertambahnya tahun dan banyaknya kendaraan. Jalanan yang sempit, macet, dan aturan kredit motor yang mudah menjadi pilihan masyarakat Indonesia dalam berkendara.

Artikel terkait: Hati-Hati Membawa Bayi Naik Motor! Bayi Bisa Terperangkap di Jari-jari Ban

Sekalipun angka kecelakaan tinggi, masih banyak orangtua di Indonesia yang mengizinkan anak usia SD untuk mengendarai motor sekalipun kakinya belum sampai menginjak tanah. Sedangkan larangan memboncengkan anak di atas motor pernah dijalankan pemerintah ketika musim mudik tiba.

Bagaimana jika di Indonesia diterapkan aturan larangan membonceng motor yang serupa seperti di Filipina? Akankah memancing protes keras dari para orangtua? Atau justru didukung? Bagaimana pendapat Anda?

 

Baca juga:

Beredar Petisi; Penjarakan Orangtua yang Mengizinkan Anak di Bawah Umur Mengendarai Motor/Mobil

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner