Belajar matematika dengan metode Kumon dan Sakamoto, apa bedanya?

lead image

Meskipun kedua metode ini berasal dari Jepang, namun keduanya memiliki berbedaan dalam sistem belajar.

Setuju tidak kalau saya bilang, salah satu pelajaran yang sering membuat anak pusing adalah pelajaran metematika? Jika setuju, maka Parents perlu mengetahui metode belajar matematika, seperti kumon atau sakamoto, yang bisa disenangi anak.

“Duh, pelajaran matematika bikin aku pusing…”

“Bunda, aku nggak paham rumus matematika yang ini…”

“Kenapa, ya, aku sulit memahami pelajaran matematika?”

Siapa di antara Parents yang sering mendengar keluhan anak seperti ini? Atau justru, zaman sekolah dulu, Parents sendiri yang merasakannya?

Ya, dari sekian banyaknya pelajaran di sekolah, tidak sedikit yang menganggap kalau pelajaran matematika seperti momok menakutkan. Tidak mengherankan untuk lebih memahami pelajaran matematika, diperlukan cara belajar yang menyenangkan. Dan tentunya, perlu disesuaikan dengan karakter dan gaya belajar anak.

Setidaknya, dari sekian banyak metode belajar matematika, ada kumon dan sakamoto. Keduanya sama-sama metode belajar yang berasal dan dikembangkan dari Jepang.

Apa bedanya metode belajar matematika dengan Kumon atau Sakamoto?

Metode Kumon didirikan oleh Toru Kumon di Osaka, Jepang pada 1954. Toru mengembangkan metode ini saat menjadi guru matematika SMA.

Dikutip dari laman Kumon Global, metode kumon merupakan metode belajar perseorangan. Artinya, untuk masuk di awal, akan ditentukan secara perseorangan. Sehingga level yang diikuti tidak tergantung pada usia ataupun pada sekolah anak. 

Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya.

Tujuan utama belajar matematika di Kumon untuk membentuk dasar matematika yang kuat pada anak. Oleh karena itulah belajar matematika di Kumon tidak bisa dilakukan secara instan.

Selain itu juga untuk membantu para orangtua membentuk anak menjadi individu yang mandiri. Andal dan cakap menentukan jalan hidupnya sendiri.

Perlu diketahui bahwa belajar matematika menggunakan metode Kumon ini bisa diterapkan pada anak usia pra-sekolah. Parents pun tidak perlu khawatir, dan menganggap bahwa metode ini terlalu dini dikenalkan untuk anak-anak pra-sekolah.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/08/belajar matematika.jpg Belajar matematika dengan metode Kumon dan Sakamoto, apa bedanya?

Pasalnya, pada pelajaran Matematika Kumon, materi dimulai dari konsep pengenalan bilangan, yang dapat diberikan kepada anak yang belum bisa memegang pensil sekalipun.

Kepada theAsianParent Indonesia, Felicia Harjadi mengatakan bahwa keputusannya untuk mengajak dua buah hatinya, Paike dan Ben untuk belajar matematika di Kumon, tidak terlapas karena dirinya ingin memilih metode yang membuat kedua anaknya bisa menikmati saat belajar matematika.

“Selain itu, karena supaya anak-anak bisa menghitung dengan cara efektif dan melatih mereka ketelitian. Lagi pula, karena waktunya fleksibel, anak-anak bisa datang kapan saja. Cuma memang soal yang dipelajari di Kumon itu beda dari sekolah di Indonesia, kurikulum Kumon disesuaikan dengan kurikulum Jepang,” paparnya.

Semantara, Retno Kristiani memiliki pengalaman yang berbeda. Ia mengatakan kalau anak pertamanya, Rafa hanya bertahan selama 6 bulan saja mengikuti Kumon. Hal ini tidak terlepas, metode belajar yang diterapkan dirasa tidak cocok untuk puteranya.

“Dengan adanya tugas yang tidak lepas, hampir diberikan setiap hari juga bikin anak saya bosan. Memang kalau memilih belajar tambahan tetap harus disesuikan dengan anaknya,” ujar ibu dua anak yang kerap disapa Ade ini.

Bagaimana dengan metode belajar matematika Sakamoto?

Meskipun sama-sama dari Jepang, motode belajar matematika Sakamoto,memiliki cara yang berbeda dari kumon. Metode ini sendiri pertama kali diperkenalkan di Jepang oleh Dr Hideo Sakamoto yaitu sejak 1980, dan telah berkembang di beberapa negara, salah satunya adalah Indonesia.

Dikutip dari laman Tribun News, pengelola Sakamoto Master Japanese Mathematics Centre, Serlyani Khosama menjelaskan, motode ini memiliki tiga langkah utama dalam sistem pengajaran.

Ciri utama metode sakamoto adalah berfokus pada soal cerita yang memiliki bobot nilai tinggi dalam pelajaran matematika di sekolah dan telah disesuaikan dengan kurikulum. Metode Sakamoto ini menekankan menggunakan pemikiran yang logis dan analitis.

Serlyani Khosama juga mengklaim kalau bahwa metode Sakamoto efektif membantu anak sekolah mulai dari tingkat sekolah dasar dalam menguasai metematika dengan cepat dan mudah. Karena dengan metode ini, siswa diajarkan tentang problem solving, logical thinking, dan creative thinking melalui pelajaran matematika.

“Targetnya adalah siswa dapat memahami soal, kemudian berpikir secara logika atau menganalisis soal tersebut, serta mengembangkan kreativitasnya untuk memecahkan soal tersebut, ” katanya.

 

Baca juga:

Metode belajar di Singapura ini membuat Matematika lebih mudah – Yuk ajarkan ke anak, Parents!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.