"Aku menemukan ayah dan adikku berpelukan tertimbun lumpur," kisah tsunami Palu

lead image

"Saya dapat menyelamatkan orang lain, tetapi saya tidak dapat menyelamatkan keluarga saya sendiri..."

Sebuah kisah pilu seorang relawan penyelamat yang menemukan keluarganya sendiri menjadi korban gempa yang tidak bisa diselamatkan di Palu. 

Selama dua hari, seorang lelaki bernama Edi Setiwan membantu mencari korban gempa dan tsunami di Palu. Baik yang bisa bertahan hidup  ataupun korban yang tidak bisa selamat, terjebak dari lautan lumpur dan puing-puing bangunan runtuh.

Tidak bisa dipungkiri, bahwa peritiwa gempa Palu ini merupakan bencana alam begitu besar yang tercatat dalam sejarah di Indonesia. Hal ini tentu saja tidak terlepas karena bencana ini telah menelan banyak korban.

Melihat ‘pemandangan’ yang membuat hati teriris menjadi hal dipelajari Edi lantaran dirinya harus ikut mengevakusai korban. Namun ia tidak pernah menduga bahwa ia harus dihadapkan pada kenyataan pahit yang akan ia kenang sepanjang hidupnya.

Edi melihat dua mayat, korban gempa yang sudah terbujur kaku yang terkubur di lautan lumpur cokelat dan menghancurkan jantungnya.

“Saya bisa melihat ayah saya masih memeluk saudara perempuan saya,” kata Edi Setiwan, menceritakan momen yang membuat hatinya begitu remuk saat menemukan anggota keluarga yang menjadi korban bencana.

Almarhum ayah dan saudara perempuannya ditemukan di bawah lumpur dekat rumah mereka di kota Palu.

“Saya baru saja menangis. Saya bisa menyelamatkan orang lain, tetapi saya tidak dapat menyelamatkan keluarga saya sendiri,” rintihnya.

Gempa berkekuatan 7,4 SR memang telah menewaskan 925 orang korban luka 755 (data Kompas.com pada 2 Oktober 2018 pukul 8 pagi), menghancurkan ribuan rumah, memicu krisis yang harus dirasakan oleh masyarakat. Para korban yang selamat pun kini sangat membutuhkan makanan, air dan bahan bakar.

Sebagian besar korban disebabkan oleh gempa itu sendiri dan tsunami yang menghantam garis pantai di sekitar Palu. Selain itu, tidak sedikit korban gempa dan tsunami yang dikubur hidup-hidup oleh fenomena yang disebut likuifaksi. Yaitu, tanah menjadi gembur dan terbelah karena digoncang gempa hingga akhirnya runtuh.

Juru bicara badan bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa lingkungan Petobo di Palu, tempat tinggal Edi, merupakan salah satu lokasi yang terkena gempa yang begitu keras.

“Masih ada ratusan korban yang terkubur di lumpur [di daerah],” terangnya.

Bantuan telat datang menolong korban gempa

Kemarin, Senin (1 Oktober 2018) tim penyelamat baru tiba menghadapi tugas yang begitu besar, mencoba menggali mereka. Berusaha menemukan korban yang terkubur di bawah lumpur dan reruntuhan bangunan.

Palu, kota berpenduduk sekitar 380.000 jiwa di pantai barat pulau Sulawesi di Indonesia tengah, hancur berkeping-keping. Menara ponsel yang dijungkirbalikkan telah memutus komunikasi, sementara kabel listrik yang jatuh meninggalkan kota dalam kegelapan setelah matahari terbenam.

Sementara ribuan orang yang putus asa mengerumuni aspal bandara yang berusaha melarikan diri di atas sebuah pesawat militer yang tiba dengan bantuan. Dan, penguburan dimulai di sebuah kuburan massal yang baru digali.

Setelah gempa besar melanda, Edi mengatakan ia membersihkan puing-puing dari guncangan kuat yang telah meretakkan dinding rumahnya.

“Tanah yang saya injak retak… air dan lumpur kemudian keluar, semakin banyak dari segala arah,” kenangnya.

Lingkungan tempat ia tinggal pun langsung tenggelam. Ia berhasil menyelamatkan diri bersama istri dan putrinya yang yang masih berusia satu tahun. Namun sayang, anggota keluarganya lain, teman-teman sekaligus tetangga terdekatnya banyak yang hilang.

Ia menceritakan, bahwa dirinya berusaha mencapai rumah orang tuanya, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumahnya. Tetapi lautan lumpur yang menyelimuti daerah itu membuatnya sulit untuk menjangkau lokasi tersebut.

Bersama penduduk desa lainnya, dia pun berusaha untuk menyelamatkan siapa pun yang dia bisa.

“Saya mengambil seorang anak berusia dua tahun yang saya gendong di kepala saya, seorang anak berusia tiga tahun di punggung saya, dan saya pun menggandeng seorang anak berusia lima tahun sambil berjuang untuk berenang keluar dari lumpur dan menuju jalan aspal,” kata Edi Setiwan.

Penduduk desa melemparkan tali ke orang-orang yang terjebak di kolam lumpur tebal yang tampak seperti pasir apung, dan menariknya keluar dengan tangan. Beberapa dari mereka berusaha keras untuk menyelamatkan keluarga yang disayangi.

Pada hari Sabtu, mereka berhasil menyelamatkan korban gempa Palu. Sebanyak 11 orang dewasa, termasuk seorang wanita hamil, dan dua anak lainnya – meskipun salah seorang dari mereka kemudian meninggal dunia.

Setelah menyelamatkan korban gempa yang masih hidup, mereka pun mulai fokus mencari korban yang sudah tidak bisa diselamatkan.

Saat itu hari Sabtu ketika Edi kemudian melihat mayat ayah dan adiknya di lumpur, kedua terlihat saling berpelukan. Menandakan saat terakhir hidup mereka, keduanya berusaha tetap bersama-sama.

Banyak yang mengeluh karena lamanya tim penyelamat yang datang, banyak warga yang mengeluh kewalahan dan merasakan krisis.

Warga lainnya, Idrus, 52 tahun, mengatakan “Sampai hari Sabtu, kami masih melihat banyak korban gempa yang berteriak minta tolong dari atap.”

“Tapi kami tidak bisa melakukan [apa pun] untuk membantu mereka,” katanya. “Sekarang, tangisan mereka tidak lagi terdengar.”

Setiawan mengatakan tim penyelamat pemerintah pertama tiba di daerahnya hari Minggu, tetapi karena lumpur masih tidak stabil, mereka hanya dapat mengambil foto yang mendokumentasikan adegan tragis tersebut.

Pada hari Senin, mereka kembali, dan menemukan korban gempa Palu yang sudah tidak bisa diselamatkan, sebanyak delapan orang mayat.

 

Sumber : www.scmp.com

Baca juga:

Terjebak reruntuhan bersama ibunya yang sudah meninggal, korban gempa ini selamat