Kisah Lubang Bekas Tambang Pencabut Nyawa Anak-Anak di Samarinda

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Duka dari Samarinda tak hanya soal terorisme yang mencabut nyawa Intan, namun juga soal lubang bekas tambang yang telah menewaskan 22 anak.

Beberapa minggu lalu, kita mendengar kabar duka dari Samarinda tantang wafatnya Intan, korban aksi terorisme yang menyerang gereja. Duka dari bumi Pesut Mahakam itu tak berhenti pada soal kasus terorisme, ada persoalan lubang bekas tambang yang telah merenggut nyawa banyak anak yang hingga kini belum diselesaikan.

Nuraeni cemas setelah anaknya tak pulang seharian. Ia berusaha untuk terus berpikir positif tentang anaknya yang tak kunjung pulang.

Terlintas kengerian tentang lubang bekas tambang menganga yang selama ini menghantui para orangtua. Sudah banyak anak-anak tetangganya menjadi korban. Ia tak ingin anaknya jadi salah satunya.

Perempuan yang sudah ditinggal suaminya menikah lagi ini mengingat betapa bergantungnya Ardi dengan ibunya dalam hal apapun. Dari mandi, buang air besar, sampai urusan makan. Kondisi tunarungu memang membuat anaknya mengalami kelambatan masa perkembangan.

Sampai malam hari, Ardi tak kunjung pulang ke rumah. Ia dan warga sekitar sudah mencarinya di segala penjuru kampung. Hasilnya nihil.

Tiga hari kemudian, warga menemukan tubuh Ardi sudah kaku dan penuh lumpur di lubang bekas tambang. Jenazah disambut keluarganya dengan histeris.

“Selama ini saya mengasuh Ardi sendirian. Susah-sudah saya urus, saya perjuangkan, sudah mau pinter anaknya. Sekarang malah meninggal.”

Saat ibunya bekerja, ia biasa main di sekitar rumah bersama teman-temannya. Anak usia 11 tahun ini tinggal tak jauh dari lubang bekas tambang yang berjarak ± 700 meter.

Lubang bekas tambang PT. Cahaya Energi Mandiri. Sumber: Youtube.

Lubang bekas tambang PT. Cahaya Energi Mandiri. Sumber: Youtube.

Kasus ini pernah dibawa ke pihak kepolisian dan dilakukan visum et reperteum (keterangan dari seorang ahli saat autopsi mengenai sebuah kasus) oleh Polsek Samarinda Ilir. Menurut laman Hukum Online, visum ini bisa dijadikan sebagai bukti dalam pengadilan.

Namun, sejak meninggal pada 25 Mei 2015 lalu, belum ada tindak penanganan dari kepolisian. Bahkan, hingga kini hasil visum belum diberikan.

Ardi bukanlah korban satu-satunya. Dewi Ratna Pratiwi juga meninggal di lubang bekas pertambangan Koperasi Serba Usaha (KSU) Sebulu, kabupaten Kutai, Kertanegara.

Lubang bekas tambang tersebut ditinggalkan begitu saja oleh perusahaan dalam posisi terbuka sejak tahun 2012.

Padahal, jaraknya dari pemukiman warga dan tempat bermain anak-anak hanya sekitar 70 meter.

Jenazah anak usia 9 tahun ini baru ditemukan selama 16 jam setelah ia tenggelam. Lambatnya proses evakuasi dikarenakan peralatan warga yang sederhana. Saat itu, tidak ada Tim SAR yang membantu pencarian korban.

Lubang bekas tambang batubara PT. Insani Bara Perkasa di atas tanah milik Said Darmadi tersebut dibiarkan menganga seperti kolam renang. Tempat ini sering menjadi arena bermain anak-anak karena tidak ada papan tanda larangan untuk bermain di sana sama sekali.

Hal itu membuat Maulana Mahendra dan kawan-kawannya rutin bermain di lubang tambang. Mengingat bahwa kasus anak tenggelam sering terjadi, orang-orang dewasa sudah melarangnya.

Hasrat bermain anak-anak yang ingin menjelajahi semua tempat berujung maut. Hidupnya terpaksa berakhir pada usia 11 tahun.

“Kalau sudah selesai menambang, baiknya perusahaan atau pemilik tanah segera menguburnya supaya tidak makan korban. Kalau ada korbannya, yang jadi korban adalah anak saya, bukan anaknya pemilik perusahaan ataupun anaknya pak Said,” isak Marsinah, ibunda Maulana.

Marsinah menyesali ketidakpedulian para pelaku tambang yang menggali di sekitar pemukiman warga. Ia menyadari bahwa aturan yang dibuat oleh pemerintah tentang aturan lokasi pertambangan telah dilanggar oleh pemerintah sendiri dengan diterbitkannya izin pertambangan.

Perusahaan memang sempat berkunjung ke rumah Marsinah. Mereka memberikan santunan sebesar Rp 500.000,00.

Santunan tersebut ditolak karena ganti rugi lima ratus ribu tidak akan dapat mengobati luka hati atas kehilangan anaknya.

Selain Ardi, Dewi, dan Maulana, data JATAM (Jaringan Advokasi Tambang) Kalimantan Timur, sejak 2010-2015 sudah ada 19 orang anak-anak lain yang meninggal di lubang bekas tambang. Korban tersebar di Kota Samarinda (15 anak) dan Kutai Kertanegara (7 anak).

Halaman selanjutnya: Kegagalan upaya hukum yang dituntut keluarga.





Kisah Mengharukan Tidak Ada Kategori