7 Nilai Keuangan ala Keluarga Jepang Agar Sejahtera di Hari Tua

7 Nilai Keuangan ala Keluarga Jepang Agar Sejahtera di Hari Tua

Termotivasi hidup makmur di masa tua tanpa menyusahkan buah hati, terapkan prinsip keuangan keluarga Jepang berikut ini!

Setiap keluarga di Indonesia pastinya memiliki impian agar apa yang diinginkan tercapai. Untuk itu, manajemen keuangan yang baik diperlukan agar semua impian bisa diraih tanpa merepotkan orang lain. Seperti belum lama ini, penulis menemukan postingan menarik perihal ilmu keuangan ala keluarga Jepang yang dibagikan oleh Prita Hapsari Ghozie, SE, MCom, GCertFinPlanning, CFP, QWP seorang financial planner kenamaan dalam akun instagram pribadinya.

7 Nilai Keuangan ala Keluarga Jepang

Rajin memberikan petuah keuangan pada masyarakat; tak banyak yang tahu bahwa Prita Ghozie menikah di usia yang terbilang muda, yakni jelang 23 tahun. Bahkan, saat itu dirinya belum memiliki pekerjaan tetap hingga akhirnya memantapkan diri untuk menikah dengan sang suami, Ghozie Dalel.

Memiliki suami seorang pria keturunan Kobe Jepang, membuat Prita memelajari banyak nilai keuangan dari suaminya tersebut. Nilai tersebut ia kombinasikan dengan ilmu financial planning yang telah dipelajari sejak 2002 lalu.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Prita Hapsari Ghozie (@pritaghozie) on  

Salah satu ajaran dahsyat yang Prita dapatkan, yaitu hampir seluruh keluarga sang suami yang telah berpulang tidak mewariskan masalah keuangan pada keturunan di masa depan. Padahal, keluarga besar sang suami bukanlah keluarga kaya raya. Hal ini rupanya tak lepas dari pelajaran keuangan yang diadopsi sejak dini. Apa saja?

1. Penabung yang ulung

Bukan mitos, banyak literasi Jepang yang mengisahkan dengan gamblang bahwa Japanese people are huge saver alias menyimpan uang dalam jumlah besar semasa hidupnya. Di samping bekerja keras, orang Jepang percaya kestabilan keuangan menjadi kunci kesejahteraan.

Teori ini diimbangi dengan kebiasaan orang Jepang menyisihkan upah yang diperoleh untuk masa depan. Mengingat warga Jepang terkenal memiliki rentang usia panjang, menyisihkan uang dilakukan agar mereka dapat bertahan hidup dengan nyaman. Terbukti, generasi senior Jepang menyiapkan dana pensiun dengan sangat serius agar tidak membebani keturunannya kelak.

2. Disiplin adalah kebiasaan positif

Sudah bukan rahasia umum jika masyarakat Jepang dikenal paling disiplin di dunia, yang rupanya tercermin dalam pengelolaan keuangan. Statistik Bank of Japan mengungkap, orang Jepang lebih senang membayar dengan uang tunai dibanding kartu kredit.

Selain itu, kebanyakan generasi tua Jepang memilih deposito bank sebagai tempat penyimpanan uang walaupun kini sudah banyak generasi mudanya yang melirik pasar modal untuk menginvestasikan uangnya.

Hal inilah yang dikedepankan dalam keluarga suami Prita, bahwa tidak perlu menunggu kenaikan gaji untuk menabung. Berapapun penghasilan yang diterima tetap harus ada alokasi uang yang disimpan untuk masa depan.

Artikel terkait: Jangan sampai salah! Begini cara kelola keuangan saat pandemi Covid-19

nilai keuangan ala keluarga Jepang

3. Memiliki rumah sendiri itu harus

“Saya bingung kenapa orang Indonesia tidak suka membeli tanah. Di Jepang, tanah itu tergolong langka dan mahal. Saat punya uang malah lebih suka digunakan untuk beli kendaraan atau liburan. Padahal, rumah itu kebutuhan dasar yang akan terpakai sepanjang hidup,” tutur Nenek Eiko, generasi senior keluarga suami Prita Ghozie yang membuat penulis tertegun.

Kalau dipikir ada benarnya juga, kebanyakan orang Indonesia memilih menunda membeli rumah karena anggapan masih bisa menetap di rumah orangtua. Padahal, menetap di rumah sendiri akan membuat pernikahan berdiri secara mandiri.

Hal ini yang mendorong Prita untuk menjadikan rumah tinggal sebagai tujuan keuangan nomor satu bersama sang suami, tentunya disesuaikan dengan kondisi finansial mereka saat itu.

4. Mengapresiasi hal kecil

Prita menuturkan, sang suami rupanya sangat menyenangi kegiatan yang bersentuhan dengan alam dan dirinya tidak. Menurut Ghozie, berdekatan dengan alam akan membuat kita mensyukuri segala hal kecil. Termasuk fakta bahwa kita sebagai manusia tak ada apa-apanya dibandingkan kebesaran alam.

Prinsip itu rupanya juga diturunkan dalam hal mengelola keuangan; apalagi di masa pandemi seperti saat ini. Ungkapan ‘gampang, kan uang bisa dicari lagi’ seolah tak relevan. Pengelolaan keuangan harus berjalan agar kehidupan tetap lancar.

5. Simplicity is the key

Keterbatasan lahan membuat orang Jepang ‘dipaksa’ untuk hidup simpel; function not fashion menjadi pedoman dalam kultur masyarakat Jepang. Budaya ini tak pelak sempat membuat Prita shock saat awal menikah.

Beruntugnya, prinsip ini ternyata menurun pada salah satu anak Prita. Hidup sederhana bukan berarti susah dan pelit mengeluarkan sesuatu, namun membeli barang dilakuan secara mindful karena memang membutuhkan. Selain itu, membeli sesuatu pun mampu memberikan kebahagiaan jangka panjang.

nilai keuangan ala keluarga Jepang

Artikel terkait: Kena PHK akibat pandemi Corona, ini 5 nasihat penting perencana keuangan

6. Memberikan hadiah

Membangun keluarga dengan pria berdarah Jepang membuat Prita tersadar akan satu hal: orang Jepang memilih hadiah sebagai cara untuk mengapresiasi orang lain. Konon, budaya satu ini merupakan cara berbagi kebahagiaan dengan orang terkasih.

Jangan pikirkan nominal barang yang wah, berbagi dalam hal ini yaitu turut memastikan impact hadiah bagi penerima barang. Memberi karena ingin, bukan karena pujian atau ingin dihormati.

Aspek ini yang juga harus diperhatikan saat ingin menghadiahi sesuatu untuk diri sendiri. Carilah wujud hadiah yang memang memberikan kebahgiaan hakiki untuk diri sendiri.

7. Cari Ikigai Anda

nilai keuangan ala keluarga Jepang

Dalam bahasa Jepang; iki berarti hidup dan gai artinya alasan – Ikigai jika diterjemahkan yaitu alasan untuk hidup. Prinsip kehidupan ini yang juga diterapkan Prita dan suami kala mengelola keuangan, yaitu membeli sesuatu tidak berdasarkan gengsi.

Dengan kata lain, tidak masalah membeli barang atau pengalaman dengan harga tinggi asalkan ada kepuasan dan kebahagiaan jangka panjang. Sebagai contoh, suami Prita Ghozie mengoleksi kartu basket serial Michael Jordan. Berbeda dengan Nenek Eiko yang semasa hidup mengoleksi kain batik dan kain nusantara yang membuatnya bahagia.

Contoh ini yang ditanamkan Prita dalam kehiudupannya. Milikilah sesuatu karena rasa cinta, bukan karena komentar atau trend yang sedang berlangsung apalagi karena gengsi.

Bagaimana Parents, sudahkah menerapkan keuangan ala keluarga Jepang dalam kehidupan Anda?

Sumber: Instagram

Baca juga : 

Kakeibo, cara atur keuangan ala Jepang ini bikin Parents tidak boros

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner