Bila Anak Tak Mau Kalah

Apakah si Kecil sering tak mau kalah dari siapapun, terlebih teman-temannya? Mari kita koreksi, siapa tahu ada yang salah dengan pola asuh kita.

Jika anak selalu tak mau kalah, bagaimana mengatasinya?

Jika anak selalu tak mau kalah, bagaimana mengatasinya?

Anak-anak usia pra-sekolah memang sering menunjukkan perilaku tak mau kalah dari teman-temannya. Egosentris yang masih tinggi serta ketidakmampuannya untuk membedakan mana yang baik dan tidak baik adalah beberapa penyebabnya.

Meski begitu, tidak berarti bahwa kita boleh membiarkannya. Salah-salah perilaku ini akan terbawa hingga ia besar dan mengganggu hubungan sosialnya nanti.

Alasan anak tak mau kalah

Alasan seorang anak tak mau kalah bisa sangat beragam, di antaranya:

1. Terobsesi dengan tokoh idola

Bisa jadi karena ia terobsesi tokoh idolanya, sehingga ia mengidentifikasi dirinya sebagai si tokoh idola. Entah si tokoh idola tersebut adalah tokoh dalam film, orang dewasa di sekitar rumah yang ia anggap keren, atau bisa jadi malah Parents sendiri yang ia idolakan.

2. Tuntutan orang tua untuk menjadi yang terbaik

Selain alasan di atas, tuntutan kita sebagai orang tua yang selalu ingin si Kecil sempurna, juga bisa jadi membuatnya takut menjadi nomor dua.

Harus selalu disiplin, harus selalu menjadi nomor satu di Kelas, harus berani dan menang dalam kompetisi adalah beberapa contoh yang bisa membuat si Kecil takut salah atau kalah meski hanya dalam permainan.

Baca juga : 10 Alasan Membiarkan Anak Belajar dari Kesalahan

Anak yang seperti ini cenderung menjadi anak yang perfeksionis, apa pun yang ia lakukan harus sempurna hingga ha-hal sekecil apa pun.

Setiap anak memang terlahir dengan kecenderungan untuk menjadi perfeksionis. Ini adalah karunia Tuhan untuk menjadikannya seorang yang kompetitif; namun lingkungan dan tuntuan orang tua untuk selalu menjadi yang terbaik, bisa menjadikan si Kecil memiliki sifat tak mau kalah dari siapa pun dan dalam hal apa pun.

3. Pengaruh dari dalam diri anak

Anak dengan kecenderungan rasa rendah diri, biasanya akan sangat senang bila mendapat pujian. Ketika melihat kebiasaan lingkungan yang sering memuji kepada mereka yang memiliki hal lebih terutama materi, akan membuat anak belajar bahwa jika memiliki kelebihan, maka akan dipuji dan disukai banyak orang.

Pemahaman ini akan membuat anak sangat senang memamerkan barang yang ia miliki. Tidak bermaksud sombong, hanya saja ia sangat senang untuk diperhatikan. Ia menikmati ketika orang berada di sekitarnya dan memujinya.

Mengapa perilaku tak mau kalah harus dikoreksi

Perilaku ini harus dikoreksi karena akan mengganggu hubungan sosial si Kecil kelak. Perlu kita ingat, bahwa karakter dan kebiasaan anak terbentuk sebelum usia 6 tahun. Untuk itu sebagai orang tua penting kiranya untuk memberitahu si Kecil batasan-batasan dalam pergaulan sosialnya.

Akibat yang biasa langsung terjadi, adalah anak dijauhi oleh teman-temannya karena dianggap sombong. Sementata akibat jangka panjangnya, si Kecil bisa memiliki sikap egosentris yang tinggi.

Tips mengatasi si Tak Mau Kalah

Perilaku tak mau kalah juga terkait dengan pola pengasuhan anak di rumah (misalnya selalu menuntut yang tebaik dari anak). Untuk itu cobalah cermati kembali pola asuh yang diterapkan di rumah.

Apakah selama ini kita terlalu memuji padanya? Apakah ia selalu mendapat semua yang dinginkan? Bila ia bersalah atau melakukan tindakan yang tidak benar, maka kita terbiasa memberikan permakluman?

Usia balita memang belum bisa mengerti penjelasan untuk setiap hal, namun paling tidak kita bisa memberikan contoh, menegur saat ia terlalu berlebihaan dan juga memberlakukan konsekuensi ketika ia melakukan kesalahan.

Kita harus selalu ingat bahwa standar yang kita berlakukan adalah kebenaran yang tidak memihak. Dengan cara ini ia perlahan-lahan akan belajar bahwa ia memang tak selalu benar atau salah.

Kunci mengoreksi si Tak Mau Kalah

Mengoreksi tingkah si Kecil yang seperti ini memang tidak mudah; butuh kesabaran dan konsistensi. Bila anak termasuk tipe introvert, maka masalah ini akan sedikit lebih rumit.

Kita harus pandai-pandai memilih kata agar penjelasan, teguran atau konsekuensi yang kita berikan tidakakan membuatnya “menarik diri” dari lingkungan teman-temannya. Karena itu kenalilah sifat dan karakter anak, agar arahan yang kita berikan menjadi lebih mudah ia terima.

Teguran yang kita berikan juga sebaiknya jangan ditunda. Lakukan ketika ia mulai menunjukkan perilakunya yang tidak benar.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Anak Agresif yang Suka Bertengkar

Mungkin Anda Sering Melakukan Kekerasan pada Anak Tanpa Disadari