Kekurangan Pasangan, Haruskah Selalu Ditutupi?

lead image

Pasangan kita adalah manusia yang tentu mempunyai kekurangan. Namun, sejauh manakah kekurangan pasangan harus kita tutupi?

Haruskah kekurangan pasangan ditutupi Kekurangan Pasangan, Haruskah Selalu Ditutupi?

Kekurangan pasangan yang mana saja yang sebaiknya kita tutupi?

Saat menikah dulu salah satu nasehat yang sering kita dengar dari orang tua kita adalah bahwa suami/ istri, sejatinya adalah seperti baju yang wajib menutupi kekurangan pasangan masing-masing. Karena, kekurangan pasangan berarti adalah kekurangan diri sendiri, yang seharusnyalah menjadi rahasia pribadi bagi pasangan tersebut.

Masalahnya adalah, sampai sejauh manakah kekurangan pasangan ini bisa ditoleransi untuk ditutupi. Benarkah seluruh kekurangan pasangan kita harus kita tanggung sendiri?

Batas toleransi kekurangan pasangan

Setiap manusia, pasti memiliki kekurangan. Namun, tentulah ada kekurangan yang dapat ditoleransi dan tidak. Sejauh mana batasannya? Pribadi Anda sebagai pasanganlah yang mampu mengetahuinya; karena Andalah yang merasakan langsung akibat dari kekurangan pasangan tersebut.

Pertimbangkan plus-minus akibat yang Anda terima, dan kemudian putuskan apakah kekurangan pasangan ini merupakan hal yang utama untuk Anda sekeluarga.

Meskipun begitu, ada pula kekurangan pasangan yang sifatnya sangat prinsip. Selain karena telah membuat Anda merasa tidak nyaman, bisa juga karena telah melanggar norma yang berlaku. Misalkan, ketika pasangan terlibat masalah pelanggaran hukum, terlibat hutang dalam skala besar, atau tindak kekerasan dalam rumah tangga.

Kekurangan seperti di atas tidak ada salahnya untuk dibuka dan diceritakan pada keluarga besar di kedua belah pihak.

Alasannya, bila yang dihadapi adalah kekurangan yang terkait masalah hukum, bila tidak diceritakan, dapat menimbulkan salah paham yang malah memperkeruh suasana nantinya.

Baca juga: Berdamai Dengan Kebiasaan Buruk Pasangan

Bagaimana menyikapi kekurangan pasangan

Pada kasus yang prinsip, seperti pelanggaran hukum, yang pertama kali harus dilakukan adalah menentukan sikap terlebih dahulu. Apakah Anda akan terus mendukung atau terpaksa melepaskan pasangan karena kesalahannya sudah tidak dapat Anda toleransi.

Tidak mudah memang; apa pun keputusan Anda, bisa saja Anda akan dituduh dengan “habis manis sepah dibuang.” Namun, perlu sadari, bahwa baik dan buruk Anda yang akan menanggung akibatnya.

Karena itu pertimbangkan baik-baik, terlebih bila kemudian ada anak-anak juga akan menanggung akibat dari kesalahan yang pasangan lakukan.

Bila masalah yang Anda hadapi termasuk dalam kekerasan rumah tangga, maka sebaiknya tidak Anda tunda lagi. Masalah seperti ini tidaklah sehat untuk hubungan suami istri namun juga untuk perkembangan putra-putri Anda.

Tunjukkan bukti, dan minta bantuan dari keluarga besar untuk membantu Anda menyelesaikan permasalahan ini.

PHK

Kedua masalah di atas merupakan masalah yang termasuk prinsip dalam rumah tangga. Mungkin tidak akan terlalu bermasalah bila hal ini terjadi pada istri, yang biasanya bukan pihak yang menjadi tulang punggung keluarga.

Akan berbeda halnya bila ini terjadi pada suami atau pasangan yang berperan sebagai sumber nafkah keluarga. Bila hal ini yang terjadi, maka diskusikanlah dengan pasangan, kapan sebaiknya keluarga besar tahu masalah ini.

Ketika pasangan, misalkan pihak suami di PHK, akan lebih baik bila pihak istri tidak terburu-buru mengumbar ”curhatan” kepada keluarga besar.

Bagi suami, PHK bisa menyangkut harga diri, dan merupakan kekurangan yang sebetulnya ingin dia tutupi. Untuk itu, bicarakanlah terlebih dahulu kapan sebaiknya keluarga besar tahu akan masalah internal keluarga Anda.

Ingatlah, terburu-buru curhat bisa saja menimbulkan kekhawatiran pada orangtua atau keluarga besar akan nasib rumah tangga Anda.

Selingkuh

Bagaimana dengan selingkuh? Hal yang satu ini memang sangat menyakitkan, tidak hanya Anda harus menentramkan perasaan Anda, namun Anda juga harus membuktikan bahwa pasangan memang telah melakukan kesalahan.

Menghadapi masalah ini, akan lebih baik bila Anda menahan diri untuk tidak terburu-buru menceritakan kepada keluarga besar bila belum terbukti kebenarannya. Terburu-buru menceritakan kekurangan pasangan Anda kepada mereka bisa jadi akan menimbulkan dampak yang sangat besar.

Bila terburu-buru curhat tanpa bukti yang jelas, sebagai menantu, Anda bisa kehilangan rasa sayang mertua. Dan orang tua Anda pun bisa jadi kehilangan respek kepada pasangan Anda. Jadi, sebelum membongkar cela pasangan, kumpulkanlah bukti terlebih dahulu, dan baru cari penyelesaian bersama di depan keluarga besar.

Pastikan kekurangan pasangan tidak menguat

Apa pun keputusan yang Anda berkaitan dengan kekurangan pasangan, pastikan bahwa kekurangan tersebut tidak bertambah buruk dan berdampak tidak baik pada keluarga inti Anda.

Karenanya katakan dengan terus terang perihal ketidaksukaan dan keberatan Anda. Capai kesepakatan apa yang sebaiknya dilakukan untuk menghadapi masalah tersebut. Dan bila kekurangan pasangan tersebut tidak dapat Anda toleransi, sampaikan langkah yang akan Anda ambil sebagai konsekuensi masalah tersebut.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.

Baca juga artikel menarik lainnya:

Apa Kata Psikolog tentang Suami “Anak Mami”?

12 Cara Agar Pernikahan Langgeng dan Bahagia