Hamil di luar kandungan; gejala dan penyebab yang wajib Bumil pahami

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempel di luar dinding rahim. Kondisi ini bisa membahayakan kesehatan ibu hamil.

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi menempelkan diri di luar dinding rahim. Itulah mengapa kondisi ini sering disebut hamil di luar rahim.

Hampir semua kehamilan ektopik terjadi di tuba falopi sehingga kadang disebut juga tubal pregnancy. Tuba falopi tidak diciptakan untuk menopang tumbuh kembang embrio, sehingga sel telur yang telah dibuahi dan menempel di tuba falopi tidak bisa bertumbuh dengan baik.

Kasus kehamilan di luar rahim ini terjadi pada 1 dari 50 kehamilan. Di Inggris, kasusnya terjadi pada 12.000 kehamilan setiap tahun.

Jika kasus kehamilan di luar rahim ini tidak segera ditangani, bisa membahayakan kesehatan ibu.

Penyebab terjadinya kehamilan ektopik

  • Infeksi atau pembengkakan di tuba falopi sehingga menghambat jalan embrio ke rahim, membuat embrio harus menempel di tuba falopi.
  • Jaringan luka pada tuba falopi karena operasi atau pernah mengalami infeksi, sehingga menghalangi jalan embrio menuju rahim.
  • Operasi di area pelvis atau tuba falopi yang membuat area tersebut lengket sehingga embrio menempel.
  • Cacat lahir atau tumbuh kembang tidak normal yang dialami ibu dan membuat bentuk tuba falopinya tidak normal.
  • Ibu menderita satu penyakit seperti pembengkakan pelvis dan infeksi menular seksual.
  • Pernah mengalami kehamilan di luar rahim sebelumnya.
  • Penggunaan obat kesuburan.
  • Perawatan kesuburan seperti IVF (in vitro fertilization).
  • Hamil saat sedang menggunakan KB IUD.
  • Kebiasaan merokok.
  • Hamil di usia 35-40 tahun.
Kehamilan ektopik

Ilustrasi perbedaan letak embrio pada kehamilan normal dan kehamilan ektopik.

Gejala kehamilan ektopik

Kehamilan ektopik tidak memiliki gejala signifikan yang membuatnya berbeda dari kehamilan biasa. Kondisi ini hanya bisa dideteksi melalui pemindaian medis di rumah sakit.

Adapun gejala yang muncul berikut ini biasanya hadir pada minggu keempat atau ke-12 kehamilan.

  • Menstruasi datang terlambat atau tanda kehamilan lainnya
  • Sakit di perut bagian bawah
  • Vagina mengeluarkan darah atau cairan vagina berwarna cokelat cair
  • Sakit di bagian bahu
  • Rasa tidak nyaman saat buang air kecil maupun buang air besar
  • Rasa sakit yang datang dan pergi dengan intensitas bervariasi, (disebabkan oleh darah akibat pecahan ektopik yang berkumpul di bawah diafragma)
  • Lemas, pusing, bahkan pingsan
  • Mual dan muntah disertai rasa sakit
  • Kram perut yang tajam

Kehamilan di luar rahim bisa memicu pecahnya tuba falopi sehingga menyebabkan ibu mengalami sakit luar biasa dan perdarahan yang parah. Segera hubungi dokter jika Bunda mengalami perdarahan vagina yang menyebabkan kepala pusing, pingsan, dan sakit di bahu.

Penanganan kehamilan ektopik

Saat kehamilan di luar rahim terjadi, sel telur yang telah dibuahi tidak akan bisa bertahan hidup maupun bertumbuh kembang di luar rahim. Jika dibiarkan, bisa menimbulkan komplikasi kesehatan serius bagi Bunda.

Oleh sebab itu, embrio dan seluruh jaringannya harus diangkat dari tubuh Bunda supaya tidak mengakibatkan komplikasi. Berikut ini adalah 3 metode perawatan medis yang akan dilakukan dokter.

  • Pemantauan medis. Bunda akan dipantau secara hati-hati, dan akan dilakukan tindakan medis lebih lanjut jika embrio tidak luruh dengan sendirinya.
  • Obat-obatan. Bunda akan disuntik obat keras yang disebuat methotrexate. Obat ini digunakan untuk menghentikan proses kehamilan.
  • Operasi. Laparoscopy dilakukan untuk mengangkat embrio dari sel telur yang telah dibuahi serta tuba falopi yang telah terinfeksi.
kehamilan ektopik

Operasi laparoscopy dilakukan untuk mengangkat embrio dan tuba falopi yang terinfeksi.

Kemungkinan punya anak setelah mengalami kehamilan ektopik

Peluang Bunda untuk menjalani kehamilan yang normal setelah hamil ektopik mungkin berkurang, namun semuanya bergantung pada sejarah kesehatan Bunda sendiri. Jika tuba falopi tidak diangkat saat operasi, Bunda masih memiliki kesempatan 60% untuk memiliki anak.

Secara keseluruhan, 65% perempuan yang pernah mengalami hamil di luar rahim, menjalani kehamilan yang sukses hanya 18 bulan setelah hamil ektopik. Biasanya, mereka membutuhkan bantuan perawatan kesuburan seperti IVF ( in vitro fertilization).

Bagaimana mencegahnya?

Sayangnya, kehamilan ektopik tidak bisa dicegah, dan bisa terjadi pada siapa saja. Akan tetapi, Bunda bisa mengurangi risiko terjadinya kehamilan di luar rahim dengan menghindari faktor penyebab terjadinya kondisi ini.

Misalnya, setia pada satu pasangan. Ingatkan juga suami untuk hanya setia pada Anda.

Gunakan kondom saat berhubungan untuk mengurangi risiko penyakit inflamasi pelvis. Berhenti merokok saat sedang promil untuk mengurangi risiko hamil ektopik.

Semoga artikel ini membantu ya, Bunda.

Sumber: WebMD, American Pregnancy, NHS, Mayo Clinic

 

Baca juga:

Peristiwa Langka: Ibu Hamil di Luar Rahim, Bayi ini Terlahir Sehat

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kehamilan