Kehadiran Anak Ternyata Bisa Mengurangi Kebahagiaan Pernikahan

Seringkali kehadiran anak menjadi tolok ukur kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Namun suatu penelitian menunjukkan hasil yang berbeda.

Apakah pernikahan Anda lebih bahagia setelah hadirnya si Kecil?

Apakah pernikahan Anda lebih bahagia setelah hadirnya si Kecil?

Seringkali kehadiran anak menjadi tolok ukur kebahagiaan dalam sebuah pernikahan. Namun, buku 70 Parenting Tips Based on Science karangan Tract Cutchlow menuliskan sesuatu yang berbeda.

Sebuah hasil penelitian mengungkapkan bahwa kehadiran anak ternyata bisa menyebabkan berkurangnya kebahagiaan dalam sebuah pernikahan.

Tahapan berkurangnya kebahagiaan dalam pernikahan adalah sebagai berikut:

Dalam buku tersebut, diungkapkan bahwa sebuah pernikahan yang semula membahagiakan mengalami penurunan ketika memiliki seorang anak. Mayoritas pasangan mengalami penurunan kepuasan setelah lahirnya bayi.

Kepuasan ini mencapai titik terendah ketika anak-anak mencapai usia remaja, kondisi tersebut tidak membaik hingga anak-anak mencapai usia dewasa dan mandiri.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

1. Saat bayi baru lahir

Kelahiran seorang bayi secara otomatis akan mengubah kehidupan orang-orang yang berada di sekitarnya, terutama ibu.

Pusat perhatian akan tercurah sepenuhnya pada jabang bayi, orientasi pasangan pun akan berubah dengan sendirinya.

Di samping itu perubahan fisik pasca melahirkan akan mempengaruhi hubungan antara suami dan istri.

2. Saat anak berusia balita

Kehadiran anak serta proses tumbuh kembangnya seringkali membuat pasangan tidak bisa saling mencurahkan perhatian dengan sepenuh hati. Selalu saja ada interupsi-interupsi dari Si Kecil, baik yang bersifat menghibur ataupun menjengkelkan.

Konflik-konflik akan terus bermunculan sepanjang pernikahan. Baik akibat ulah anak, serta ketergantungannya yang mutlak terhadap kedua orangtuanya, maupun akibat adanya perbedaan sikap suami dan istri dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya.

Baca juga : 10 Kesalahan Suami yang Sering Tidak Disadari

Seringkali perbedaan pola asuh dan sikap terhadap anak semasa balita, menjelang prasekolah serta usia sekolah menjadi konflik yang paling tajam yang dialami dalam sebuah pernikahan.


3. Saat anak menginjak usia remaja

Kondisi ini akan terus meningkat seiring bertambahnya usia anak. Ketika anak sudah mulai kehilangan kelucuan masa kanak-kanak, beralih pada kegalauan masa remaja, baik secara langsung maupun tidak langsung akan mempengaruhi hubungan orangtuanya.

Konflik ini terjadi akibat adanya perbedaan karakter dan ego kedua orangtuanya yang menuntut anak untuk berkembang sesuai dengan keinginannya.

Hal lain yang turut memicu retaknya hubungan antara suami dan istri adalah rasa jenuh. Kejenuhan ini bisa muncul baik akibat pola hidup yang monoton, maupun akibat rasa diabaikan oleh pasangan yang terus menumpuk.

4. Saat anak telah dewasa

Setelah anak-anak beranjak dewasa, mandiri dan tak tergantung lagi pada orangtua, peranan orangtua perlahan berubah.

Peran sebagai ayah dan ibu akan kembali digeser oleh peran suami dan istri, sehingga kebutuhan antar pasangan untuk saling melengkapi, sebagai dua individu yang saling mencintai, akan kembali menguat.

Puncaknya, adalah setelah anak menikah yang biasanya memiliki tempat tinggal dan kehidupan yang terpisah dari kedua orangtuanya.

Nah, Parents, semoga uraian ini bermanfaat. Selamat menjadi pasangan yang berbahagia.

Referensi :  buku 70 Parenting Tips Based on Science karangan Tract Cutchlow

Baca juga artikel menarik lainnya:

12 Tips Membentuk Pernikahan yang Langgeng dan Bahagia

80-90% Kematian Anak  Berujung pada Perceraian Orangtuanya