Kapan Harus Mulai Mendidik Anak Tentang Sopan Santun?

Mungkin Anda berpikir mendidik anak tentang sopan santun dapat dilakukan kelak setelah mereka bersekolah. Apakah memang demikian?

Semua orang menyukai anak yang sopan santun. Namun bagaimana cara mendidik anak agar sesuai dengan harapan tersebut?

Semua orang menyukai anak yang sopan santun. Namun bagaimana cara mendidik anak agar sesuai dengan harapan tersebut?

Mendidik anak agar sopan perlu dilakukan sejak dini

“Aku punya tetangga baru dan anak-anak kami hampir sama usianya. Anak perempuan tetanggaku itu namanya Emma, katanya sih umurnya 5 tahun.

Kemarin dia datang ke rumah, mau kenalan sama anakku.’Permisi,’ itu yang dia bilang sebelum masuk ke rumah. Sebelum pulang ia menemui saya dan berkata, ‘Tante, saya mau pulang.’ Wow, anak ini sopan sekali, pikirku,” Itu adalah kisah yang diceritakan seorang rekan kepada saya baru-baru ini.

Kisah di atas sepertinya klise ya. Tapi, coba bandingkanlah dengan cerita saya berikut ini.

Si bungsu saya, Hita, punya teman sekelas yang tinggal satu kompleks dengan kami. Anak saya baru mengenal dia ketika bersekolah di sekolah yang sama, sehingga kami nggak tahu bagaimana  track record si teman ini (sebutlah namanya Didi).

Dia biasanya main ke rumah kami di hari libur, memanggil-manggil anak saya dari luar dan langsung nyelonong masuk begitu anak saya muncul. Saya juga nggak tahu kapan pulangnya si Didi ini karena dia nggak pernah berpamitan pada saya kalau mau pulang.

Pernah suatu kali saya mencoba menasehati dia supaya bilang pada saya kalo dia hendak pulang. Eeeh .. dia malah salah paham dikira saya marah dan sejak itu nggak pernah lagi main ke rumah kami.

Lalu, bagaimana cara mendidik anak agar tahu sopan santun? Kapankah kita harus mulai mendidik anak agar memahami sopan santun?

Memasukkan sopan santun dalam peraturan di rumah

“Aku jadi penasaran, gimana sih cara mendidik anak agar menjadi seperti si Emma ini,” lanjut rekan saya. “Kami kebetulan sama-sama ikut arisan PKK dan sepulang arisan saya mengobrol dengannya tentang anak-anak.”

“Yenny, nama ibu si Emma ini bilang, ia mengajarkan anak perempuannya untuk menjaga sikap sopan santun sejak ia belum berusia 5 tahun. Dan momen terbaik untuk mengajarkannya adalah di saat makan malam.

Piring makan tak boleh dibawa ke mana pun kecuali sudah kosong isinya. Berbicara dengan mulut penuh makanan atau bersuara waktu makan dilarang keras karena itu tidak sopan.”

Baca juga: Mencari Alternatif Kata “Jangan”

Masih ingat reality show ‘Nanny 911’ yang  pernah tayang di sebuah channel televisi swasta sekitar 2008 lalu?

Dalam reality show ini Nanny (pengasuh) ditugaskan untuk ‘menertibkan’ anak-anak (dan sekaligus orangtuanya) di sebuah keluarga yang selalu chaos (keluarga yang didatanginya berbeda-beda di setiap episode dan permasalahannya berbeda-beda pula) dan penuh dengan keruwetan.

Tindakan yang pertama kali dilakukan sang Nanny adalah mengumumkan berbagai peraturan yang harus dipatuhi semua anggota keluarga, termasuk menjaga sikap sopan santun kepada orangtua, saat di meja makan, dan banyak lagi.

Dalam tayangan itu sang Nanny diceritakan sering mendapat ‘perlawanan’, baik dari anak maupun orangtuanya, karena mereka merasa marah dilarang melakukan atau bersikap sesuka hati mereka.

Tapi, Nanny memberi mereka pengertian bahwa sikap yang tidak sopan akan membuat orang lain merasa tidak senang dan mereka tak mendapat cinta dari orang-orang di sekitarnya.

Bersikap sopan bukan berarti penakut

Saya dan ibu saya pernah meminta Hita untuk berkata pada si Didi, temannya yang nakal itu, untuk segera pulang karena dia mengantuk dan mau tidur.

Saya waktu itu berencana mengetes sejauh mana Hita bisa mengatur kata-kata untuk ‘mengusir’ temannya pulang secara halus. Tapi, yang terjadi adalah anak saya menolak melakukannya karena ia takut membuat temannya itu tersinggung.

Benar Parents, bahwa sikap sopan santun tetap harus diterapkan bahkan kepada teman-teman sebaya. Anak saya belum memahami bahwa ia boleh bersikap tegas pada seseorang yang mengusiknya, dan itu harus ia lakukan untuk menumbuhkan sikap respect (menghargai) kepada dirinya sendiri.

Saya paham ia membutuhkan proses agar dapat memahami itu. Tapi saya juga tak akan berhenti mengingatkannya untuk menjaga sikap sopan santun, dan bersikap tegas kepada teman-teman yang mem-bully-nya.

Sama seperti pohon mangga, buah dari sikap sopan santun tidak akan tumbuh dan mendadak besar dalam waktu singkat. Kita membutuhkan kesabaran dan konsistensi agar dapat membimbing dan membuat anak mengerti mengapa mereka harus bersikap sopan di mana saja.

Parents, semoga ulasan di atas bermanfaat.