8 Kalimat Menghakimi Pada Ibu Bekerja yang Sering Dilontarkan oleh Masyarakat

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Kalimat menghakimi pada ibu bekerja sering datang dari berbagai orang. Dari yang kenal dekat hingga orang asing yang baru bertemu di jalan. Berikut adalah cara cerdas menghadapinya agar Anda tidak stres karena memikirkan kalimat-kalimat tersebut.

Ibu yang bekerja di luar rumah, sering mendapatkan stigma negatif dari para ibu lainnya. Tak jarang, kalimat menghakimi pada ibu bekerja pun terlontar dari mulut mereka.

Padahal, menjadi ibu bekerja sekaligus mengurus keluarga bukanlah hal mudah. Ibu yang bekerja harus mengeluarkan tenaga ekstra dua kali lipat untuk menyeimbangkan kehidupan karir dan keluarga, agar bisa berjalan beriringan tanpa masalah.

Artikel Terkait: Tips Bagi Ibu yang Bekerja untuk Menyeimbangkan Kehidupan Karir dan Keluarga

Kalimat menghakimi pada ibu bekerja ini tentunya membuat mereka lelah, apalagi jika ucapan tersebut datang dari orang yang belum menjadi ibu, dan hanya sok tahu memberi nasihat.

Dilansir dari Romper, berikut ini adalah 8 kalimat menghakimi pada ibu bekerja yang sering dilontarkan masyarakat, saat melihat seorang ibu yang seolah lebih memilih berkarir dibanding mengurus keluarganya.

1. Apa kau tidak khawatir ketinggalan momen istimewa dengan anak?

Ibu bekerja memang tidak akan bertemu anaknya sepanjang hari. Namun ia tetap bisa bertemu anaknya di pagi dan sore hari sepulang bekerja. Momen tersebut juga tidak kalah istimewa dengan menghabiskan sepanjang hari bersama anak di rumah.

Bahkan bagi ibu yang tidak bekerja sekalipun, ia tetap memiliki kemungkinan untuk melewatkan momen berharga bersama anak saat dia harus mengurus hal lain. Jadi, tidak hanya ibu bekerja saja yang bisa mengalaminya.

2. Percaya deh, kamu gak akan mau kembali bekerja setelah punya anak

Ada banyak pertimbangan yang dipikirkan seorang ibu bekerja, bukan hanya karir semata. Kita semua tahu, biaya merawat dan membesarkan anak tidaklah murah. Tentunya ibu juga ingin memiliki tabungan untuk kondisi darurat, dan juga tabungan pendidikan bagi sang anak.

Apalagi bagi ibu tunggal, tentu dia tidak memiliki sandaran lain untuk menafkahi diri dan anaknya selain bekerja.

Ada pula ibu yang akan stres jika hanya diam di rumah, dan memilih bekerja agar ia tidak depresi. Ibu yang merasa bahagia, tentunya bisa menjadi ibu yang terbaik bagi anaknya.

Jadi, meskipun keinginan terdalam si ibu adalah tetap di rumah bersama sang anak. Namun beberapa alasan dan kondisi di atas memaksanya untuk tetap bekerja.

3. Apakah kau bisa bertemu anakmu di hari kerja?

Meski ibu yang bekerja tidak bisa bertemu anaknya di jam kerja. Namun setiap hari, sang ibu tetaplah mengurus anaknya di pagi hari. Memandikan, menyiapkan sarapan, dan mengantarkannya ke sekolah.

Begitupun di malam hari, ibu bekerja masih bisa membacakan dongeng sebelum anaknya tidur dan berbagi kecupan selamat malam sebelum menutup mata untuk mengakhiri hari.

Meski waktu yang dihabiskan lebih sedikit, namun baik si ibu maupun sang anak tetap menganggapnya istimewa. Karena keterbatasan waktu mereka, waktu yang dilalui bersama jadi jauh lebih berharga.

4. Setidaknya, aku tetap di rumah sampai anakku mulai masuk sekolah

Apa yang sesuai bagi satu ibu, belum tentu sesuai bagi ibu yang lain. Demikian pula dalam hal pekerjaan, ada yang mudah mendapatkannya adapula yang susah. Ada ibu yang lebih tenang saat di rumah, namun ada pula yang harus bekerja agar tidak stres karena diam di rumah.

Jadi, tidak bisa disamaratarakan ya, Bun.

5. Apa kamu tidak merasa jadi ibu yang buruk?

Menjadi ibu bekerja memiliki keuntungan sendiri yang tidak dimiliki oleh ibu yang tidak bekerja di luar rumah. Contohnya mendidik anak menjadi lebih mandiri karena terbiasa tidak menempel terus dengan ibunya.

Artikel Terkait: Hasil Riset: Ibu Bekerja Berkesempatan Memiliki Putri yang Sukses

6. Apa anakmu memanggil pengasuhnya dengan sebutan ibu?

Panggilan bukanlah masalah. Bukankah kita semua memanggil wanita yang lebih tua dari kita dengan sebutan ibu? Apa salahnya jika anak memanggil pengasuhnya dengan sebutan ibu? Anak tetap tahu yang mana ibu kandungnya, dan mana yang bukan benar-benar ibunya.

7. Bagaimana kalau kamu melewatkan langkah pertama anakmu?

Langkah pertama anak bisa terjadi kapan saja. Bukan hanya ibu bekerja yang berkesempatan melewatkannya. Bahkan ibu yang diam di rumah pun bisa ketinggalan momen ini, saat ia tertidur karena kelelahan, atau ketika dia pergi ke pasar dan menitipkan anak di rumah mertua.

8. Saya merasa egois jika kembali bekerja, jadi saya tidak melakukannya

Awalnya, setiap ibu bekerja pasti merasa tidak enak saat harus meninggalkan anak di rumah bersama pengasuh atau ibu mertua. Namun, jika keputusannya bekerja adalah demi menopang keluarga, tentu ia tidak akan merasa egois.

Karena dia tahu, keluarganya membutuhkan nafkah yang ia hasilkan dari bekerja, jika ia tidak memiliki suami. Dan sekasar apapun kalimat menghakimi pada ibu bekerja yang datang padanya, tidak akan mampu membuatnya merasa bersalah karena memilih untuk bekerja.

***

Semua keputusan yang dipilih oleh seorang ibu, pasti melalui pemikiran panjang demi sang anak. Hindari sikap menghakimi, mari hormati dan hargai. Karena setiap ibu sama-sama berjuang demi membesarkan sang anak, meski dengan cara yang berbeda.

 

Baca juga:

Working Mums, Inilah 10 Hal Positif Menjadi Ibu Bekerja

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Favorit Bunda Lifestyle