Jarang bercinta? Ini yang bisa terjadi pada vagina Anda!

lead image

Ada beberapa hal yang bisa terjadi akibat jarang berhubungan seks, termasuk kondisi yang memengaruhi vagina.

Mungkin Anda akan berpikir, bila tidak melakukan hubungan seksual dalam jangka waktu lama tidak akan menimbulkan masalah. Pandangan ini keliru, Bun. Ternyata, ada beberapa dampak negatif yang terjadi akibat jarang berhubungan seks. Efeknya bisa terhadap kesehatan fisik atau mental Anda.

Tidak bisa dipungkiri seiring bergulirnya waktu, jumlah usia pernikahan yang semakin bertambah, aktivitas seksual tidak lagi menjadi prioritas. Bunda akan lebih sibuk dan fokus pada anak, belum lagi dengan tugas domestik lainnya.

Mau tidak mau, kondisi ini pun akan memengaruhi kehidupan seksual dengan pasangan. Benar bukan?

Baca juga : Istri menolak melakukan hubungan seksual, apa dampaknya bagi suami?

Tahukah Bunda,  kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Mengapa? Mengabaikan kehidupan seksual merupakan kesalahan besar dalam sebuah pernikahan.

Tidak hanya bisa memicu konflik dan terjadinya perselingkuhan, jarang berhubungan seksual juga berisiko menyebabkan atrofi vagina.

Atrofi vagina (atrofik vaginitis) adalah sebuah kondisi di mana terjadinya penipisan dan peradangan pada dinding vagina akibat penurunan estrogen.

Mungkin Bunda akan bertanya-tanya, apa hubunganya aktivitas seksual dengan atrofi vagina?

Perlu diketahui bahwa atrofi vagina bisa dialami semua perempuan. Namun yang paling rentan dan berisiko adalah perempuan yang memasuki masa menopause karena penurunan produksi estrogen. Termasuk pada perempuan yang tengah menjalani perawatan kanker, terutama kanker payudara.

Ada beberapa gejala atrofi vagina yang perlu diketahui, mulai dari rasa gatal, terbakar, sulit buang air kecil,  termasuk rasa nyeri saat berhubungan seksual.

Melakukan aktivitas seksual secara aktif ternyata penting dilakukan untuk menghindari atrofi vagina. Sebab, ketika seorang perempuan orgasme, kondisi ini bisa meningkatkan aliran darah ke vagina, dengan demikian membantu meringankan gejala yang telah disebutkan.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/02/jarang berhubungan seks.jpg Jarang bercinta? Ini yang bisa terjadi pada vagina Anda!

Pentingnya kehidupan seksual yang aktif

Dr Louise Mazanti, seorang terapis seks di London, mengatakan: “Sangat penting bahwa kita memiliki kehidupan seks yang sehat dengan pasangan.”

Ia menambahkan,  pada dasarnya ini aktivitas ini bisa membuat seluruh jaringan otot pada vagina menjadi ‘hidup’ dan menjadi elastis.

Mazanti mengingatkan, jika vagina tidak mendapatkan kecukupan oksigen, hal ini bisa memicu terjadinya radang kemudian menyebabkan atrofi vagina.

Efek lain yang bisa ditimbulkan dari jarang berhubungan seks ini adalah terganggunya kesehatan mental seseorang. Mazanti menambahkan, “Ini bisa menyebabkan seseorang merasa depresi dan krisis identitas.”

Sebuah studi pada tahun 2001 mengungkapkan, bila seseorang yang sebelumnya melakukan hubungan seksual secara aktif, kemudian berubah menjadi tidak aktif berhubungan seksual dalam waktu lama, maka akan rentan mengalami depresi dan mudah merasa kecewa.

Ketika Bunda jarang berhubungan seks, ini risiko yang bisa terjadi:

1. Rasa tidak nyaman karena merasa sakit di bagian vagina

Salah satu risiko terbesar ketika Bunda jarang berhubungan seks adalah rasa tidak nyaman untuk memulai kembali. Ketidaknyamanan ini sebenarnya disebabkan karena otot-otot vagina sudah lama tidak digunakan untuk berhubungan seks.

Jika hal ini memang dirasakan, ada baiknya Bunda meminta suami untuk melakukan aktivitas bercinta secara perlahan. Bila perlu gunakan pelumas buatan untuk membantu agar hubungan intim lebih lancar.

2. Vagina menjadi kering dan rapat

Tahukah Bunda kalau salah satu akibat jarang berhubungan seks adalah kondisi vagina yang kering? Umumnya bisa diatasi dengan bantuan pelumas buatan sebelum bercinta.

Tapi sebenarnya dalam beberapa kasus, otot vagina bisa sangat terlalu kencang, sehingga penetrasi pun tidak mungkin dilakukan. Kondisi vagina yang menjadi rapat ini disebut juga vaginismus.

Bagi Anda yang mengalami hal ini, tidak perlu khawatir. Vaginismus sebenarnya bisa disembuhkan melalui serangkaian terapi, pelatihan dan teknik relaksasi.

Agar proses terapi ini berjalan sukses, perempuan yang mengalami vaginismus harus bekerjasama dengan suami. Ahli terapi seks bisa mendampingi mereka untuk menguatkan jalinan emosional dan kepercayaan di antara suami istri.

3. Sistem kekebalan tubuh lebih lemah

Tidak perlu diragukan lagi, bahwa aktivitas seks itu baik untuk Bunda karena aktivitas seksual mampu melepaskan beragam hormon yang membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Sebuah penelitian juga membuktikan kalau kehidupan seks yang baik dapat menyehatkan tubuh. Sebuah studi memperlihatkan adanya kaitan antara aktivitas seksual dan kesehatan pada orang berusia pertengahan dan lansia. Terbukti, orang yang rutin berhubungan intim memiliki status kesehatan lebih baik dibandingkan mereka yang jarang bercinta.

4. Rawan stres

Salah satu akibat jarang berhubungan seks adalah dapat menyebabkan stres. Beberapa penelitian juga mengungkapkan, orang dengan aktivitas seksual tidak teratur memiliki lonjakan tekanan darah yang lebih tinggi sebagai respons terhadap stres.

5. Berisiko cepat pikun

Salah satu efek yang bisa dirasakan ketika kehidupan seks Anda dan pasangan aktif adalah memiliki otak yang sehat. Studi menemukan, aktif bercinta membuat seseorang menjadi lebih pintar, dan membuat otak makin tajam untuk mengingat.

Hal ini sudah dibuktikan lewat sebuah penelitian yang dipublikasikan di The Journal of Gerontology, Series B: Psychological and Social Sciences, yaitu bercinta secara teratur memiliki efek besar pada tes kelancaran verbal.

==

Semoga setelah mengetahui apa saja akibat jarang berhubungan seks, aktivitas bercinta bisa menjadi lebih baik lagi, ya, Bunda!

 

Referensi : theAsianParent Singapura

 

Baca juga :

Ini alasannya Anda dan suami perlu bercinta secara rutin

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.