Indonesia Resmi Masuk Jurang Resesi, Ini yang Perlu Dilakukan

Indonesia Resmi Masuk Jurang Resesi, Ini yang Perlu Dilakukan

Indonesia resmi resesi, masyarakat harus apa?

Kabar Indonesia resesi resmi diumumkan pemerintah pada kuartal III tahun ini. Sesuai prediksi, realisasi laju ekonomi tercatat kembali minus 3,49% setelah sebelumnya terperosok cukup dalam yakni minus 5,32%.

Apa yang sebaiknya dilakukan oleh kita, selaku masyarakat Indonesia?

Dampak Indonesia Resesi Terhadap Masyarakat

Bersamaan dengan kabar resesi, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan peningkatan jumlah pengangguran. Sepanjang Agustus 2020 sebanyak 2,67 juta orang menganggur. Dengan demikian, jumlah angkatan kerja di Indonesia yang menganggur menjadi 9,77 juta orang.

“Akibat pandemi, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia sepanjang Agustus 2020 mengalami kenaikan dari yang semula 5,23% menjadi 7,07%,” demikian pemaparan Kepala BPS Suhariyanto mengutip laman Kompas.

Dampak Indonesia Resesi

Lebih lanjut, Suhariyanto menuturkan bahwa jumlah penganggutan di kota meningkat pesat dibandingkan di desa. Di kota, tingkat pengangguran meningkat 2,69% sementara di desa hanya 0,79%.

Hal ini diakibatkan peningkatan jumlah angkatan kerja per Agustus yang mencapai 138,22 juta orang. Meski terjadi kenaikan tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 0,24 persen poin menjadi 67,77% namun terjadi penurunan jumlah penduduk yang bekerja.

Sebagai informasi, jumlah penduduk yang bekerja pada periode Agustus 2020 sebanyak 128,45 juta orang menurun 0,31 juta orang dibanding periode Agustus 2019.

“Lapangan pekerjaan yang mengalami peningkatan persentase terbesar adalah sektor pertanian (2,23 persen poin). Sementara, sektor yang mengalami penurunan terbesar yaitu sektor industri pengolahan (1,30 persen poin),” sambung Suhariyanto.

Dia pun memaparkan terjadi penurunan jumlah pekerja penuh sebanyak 9,46 juta pekerja, di sisi lain terjadi peningkatan jumlah pekerja paruh waktu atau setengah menganggur sebesar 4,83 juta orang.

Artikel terkait: Gaji Setiap Bulan Cepat Melayang, 5 Hal Ini Bisa Jadi Penyebabnya

Dampak Indonesia Resesi

Suhariyanto menjelaskan, dunia kerja hingga saat ini masih didominasi oleh sektor pertanian dengan kontribusi sebesar 29,76 persen, kemudian perdagangan sebesar 19,23 persen, dan industri pengolahan sebesar 13,61 persen.

“Ada pergeseran jumlah penduduk bekerja di pertanian meningkat 2,23 persen, demikian pula dengan perdagangan terutama perdagangan eceran meningkat 0,46 persen, sedangkan jasa lainnya meningkat tipis. Jasa kesehatan dan informasi serta komunikasi mengalami peningkatan,” jelas Suhariyanto.

Dilihat dari sektor lain seperti pariwisata misalnya terlihat belum pulih secara total, terbukti jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada kuartal III hanya sebanyak 474.062 kunjungan. Jumlah tersebut menurun 1,25 persen dibanding kuartal sebelumnya.

“Dan dampaknya tentu ke berpengaruh pada sektor-sektor pendukung pariwisata seperti tingkat okupansi hotel, restoran, industri makanan dan minuman, serta industri ekonomi kreatif,” jelas Suhariyanto.

Di samping itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudhistira Adhinegara menyebutkan resesi tak menutup kemungkinan menimbulkan adanya konflik sosial di kalangan masyarakat karena adanya ketimpangan.

“Orang yang mapan kuangan, kaya, bisa tetap survive selain karena aset masih cukup juga karena digitalisasi. Sementara kelas menengah tidak semua dapat melakukan WFH, disaat yang bersamaan pendapatan juga menurun,” tandasnya.

Artikel terkait: 7 Tips Membuka Usaha Rumahan di Era Pandemi, Bisa Tambah Penghasilan Keluarga!

Indonesia Resesi, Harus Apa Menyikapi Keuangan Keluarga?

Dampak Indonesia Resesi

Bagi Parents yang memiliki banyak tanggungan sedikit banyak merasakan dampak pandemi ini. Tak sedikit orang yang harus banting setir mencari keran penghasilan lain karena pendapatannya berkurang.

Dengan resesi yang sudah menghampiri, Bima membagikan beberapa tips yang dapat dilakukan agar keuangan keluarga tetap aman.

  • Susun skala prioritas. Prioritaskan anggaran untuk kebutuhan primer seperti sembako, alat mandi, kuota internet untuk bekerja dari rumah, dan kebutuhan utama lainnya. Kurangi porsi gaya hidup dan belanja konsumtif untuk sementara waktu.
  • Dana darurat tersedia. Dengan mengurangi gaya hidup, alokasikan dananya untuk memperkuat kapasitas dana satu ini yakni hingga sebesar 12x pengeluaran bulanan. Jika memungkinkan, Bhima menganjurkan menganggarkan dana ini sebesar 20% dari penghasilan.
  • Tidak berutang. Saat kondisi keuangan normal, adalah hal yang lumrah bagi seseorang berutang demi suatu tujuan. Namun, jangan berutang kala ekonomi sedang tidak mumpuni. Bila terlanjur, segera lunasi agar tidak mengganggu kas keluarga dan menimbulkan masalah keuangan baru.
  • Teruslah berinvestasi. Resesi ekonomi sebisa mungkin tidak menghalangi Anda untuk menabung dan berinvestasi. Pilihlah instrumen yang aman sebut saja reksa dana pasar uang, emas, dan surat utang negara yang diterbitkan pemerintah karena risikonya lebih kecil.
  • Carilah penghasilan tambahan. Pemotongan gaji atau bahkan kehilangan pekerjaan banyak dirasakan. Untuk itu, tak ada salahnya mencari tambahan penghasilan sesuai kemampuan Anda. Misalnya menjadi reseller, penulis lepas, atau menjual makanan rumahan.

Parents, semoga kondisi Indonesia resesi ini lekas berlalu dan senantiasa membuat kita semua selalu bersyukur.

Baca juga: 

17 Peluang Usaha Rumahan dengan Modal Kecil, Tambah Penghasilan Keluarga

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner