Pemerintah akan Akhiri Praktik Sunat Perempuan di Indonesia

Ada banyak penelitian tentang bahaya sunat perempuan. Namun sampai sekarang, prosedur sunat untuk perempuan masih dilakukan di banyak negara, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk menghentikan praktik sunat perempuan. Langkah tersebut dimulai lewat sosialisasi dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak.

Seperti dikutip dari Beritagar, kampanye ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya sunat perempuan. Kampanye ini akan bekerjasama dengan berbagai lembaga perempuan dan lembaga agama.

Masih dilansir dari laman beritagar, setidaknya, ada 49% anak Indonesia berusia di bawah 11 tahun yang pernah menjalani prosedur sunat perempuan. Dengan itu, Indonesia ada di peringkat ketiga dengan praktik sunat pada perempuan terbanyak sedunia.

Apa itu sunat perempuan dan bagaimana praktiknya di Indonesia

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang dimaksud dengan sunat perempuan (Female Genital Mutilation) adalah prosedur memotong atau menghilangkan sebagian organ kemaluan perempuan yang tak ada hubungannya dengan kesehatan. Karena itulah, WHO merekomendasikan banyak negara untuk segera menghentikan praktik tersebut.

Pada tahun 2006, pemerintah Indonesia lewat Kementerian Kesehatan telah melarang dilakukannya sunat untuk perempuan karena dinilai berbahaya secara medis.

Human Rights Watch (HRW) pernah merilis sebuah laporan bahwa sunat pada perempuan berdampak buruk yang panjang. Baik secara fisik, seksual, dan psikologis, sehingga melakukannya termasuk pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM).

Data dari HRW menunjukkan, di seluruh dunia, ada 140 juta perempuan yang dipaksa melakukan prosedur sunat perempuan. Ada yang melakukannya karena kepercayaan masyarakat sekitar, agama, maupun dengan dukungan dari pemerintah.

Prosedur sunat khusus perempuan ini ada di 27 negara-negara di Afrika, 2 negara Asia Tenggara seperti Indonesia dan Malaysia, di komunitas-komunitas imigran Amerika Utara, sebagian komunitas di Eropa dan Australia, serta masih jadi hal yang umum dilakukan oleh negara-negara timur tengah seperti Yaman dan Jordania.

Namun, pada tahun 2010 pemerintah kembali mengizinkan prosedur ini atas desakan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Alasannya, sunat perempuan adalah ajaran Islam.

Izin dari pemerintah itu dengan catatan bahwa yang melakukan sunat yang dilakukan untuk perempuan tersebut hanyalah tenaga medis.

Praktek sunat pada perempuan dilakukan dengan empat cara. Yaitu dengan cara menindik vagina, menggores sebagian kecil jaringan di sekitar lubang vagina, menghilangkan selaput yang menutupi klitoris, dan memasukkan sesuatu ke lubang vagina hingga berdarah.

Dikutip dari Detik Health, DR. dr. Nur Rasyid, SpU(K) selaku ketua Departemen Urologi RSCM mengatakan bahwa sunat untuk perempuan yang dipraktikkan di Indonesia sekadar penyayatan klitoris tanpa memotong apapun. Menurutnya, hal itu justru akan berdampak baik untuk perempuan.

Sampai sekarang, pro kontra di kalangan agamawan, tenaga medis, peneliti, maupun individu tentang sunat perempuan masih berlangsung.

Bagaimana pendapat, Parents? Mari berbagi di kolom komentar.

 

Baca juga:

id-admin.theasianparent.com/kapan-sebaiknya-sunat-khitan-dilakukan/