Pengakuan ibu: “Aku belum mengajari anak preschool-ku caranya membaca.”

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Bersediakah Anda mengikuti jejak ibu ini?

Usia berapa Parents mengajari anak membaca? Ibu bernama Crystal Lowery  ini menjelaskan mengapa ia tak mengajari anak membaca.

Berikut penjelasan Crystal soal itu:

Aku tak mengajari anak membaca, belum.

Jangan salah sangka, kami membacakan buku setiap saat pada anakku yang masih usia preschool . Kami membayangkan diri kami berada di Pabrik Coklat Willy Wonka dan kami sudah membaca 170 halaman buku Harry Potter and the Chamber of Secrets.

Kami mengajarinya untuk menikmati cerita dan tenggelam di dalam karakter fiksi.

Artikel terkait: Pentingnya membacakan buku untuk bayi.

Tapi kami tak mengajari anak membaca. Belum. Dia terlalu sibuk belajar hal lain.

Dia belajar cara olahraga yang baik, dia belajar cara menunggu giliran di Candy Land dan tidak buru-buru saat dia sampai di King's Ice Cream Castle tanpa menyela antrian saudara perempuannya.

Dia juga belajar membangun sesuatu. Mulai dari blok, tongkat, hingga Lego. Dia bisa merasakan bobot bahan yang berbeda di jari kecilnya dan memeriksa integritas fisik dari berbagai struktur yang telah dibuatnya.

Dia belajar berolahraga. Dia mengejar anjing, memainkan permainan menembak, memanjat di playground, menari (dengan baik), dan berlatih karate (masih perlu latihan lagi).

Dia akan membutuhkan tubuhnya untuk waktu yang lama. Jadi dia membentuk otot lewat berbagai aktivitas daripada duduk di meja seharian.

Dia belajar mengurus barang-barangnya. Melalui trial and error (oh, kesalahannya banyak sekali!), dia tahu apa yang akan terjadi jika dia meninggalkan buku di tengah hujan atau segumpal Play Doh di atas meja semalaman.

Dia akan belajar bahwa tidak mungkin bergelut dengan seekor anjing seberat 3,6 kg.

Dia belajar caranya jadi kreatif. Bagaimana menggambari bukunya sendiri penuh dengan monster, dan cara membangun pesawat ruang angkasa imajiner dengan kardus bekas.

Dia belajar tentang ekosistem. Dia melihat serangga, bunga, dan badai petir. Dia melihat fauna dan flora menghuni dunia bersama-sama dan saling bergantung satu sama lainnya.

Dia belajar bahwa kunci kebahagiaan adalah memusatkan perhatian pada berkatnya daripada mengeluh tentang apa yang tidak dimilikinya.

Dia sedang belajar meminta maaf. Dia perlu belajar untuk mengatasi rasa sakitnya sendiri dan berempati dengan anak-anak lain saat terjadi konflik.

Dia belajar untuk memaafkan. Dia bisa memahami bahwa setiap orang membuat kesalahan, dan dia bisa mencintai orang lain meski mereka memiliki kelemahan.

Setiap hari dia belajar pelajaran yang penting.

Tapi dia tidak belajar membaca.

Dan meskipun di hari pertama masuk TK dia tidak menunjukkan kemampuannya dalam membaca tapi dia akan datang ke kelas dengan lebih banyak kemampuan lainnya lagi.

Kemampuan untuk mencoba hal baru tanpa merasa frustrasi.

Kemampuan berteman, meski persahabatan bisa menjadi urusan yang berantakan.

Kemampuan untuk mendengarkan orang lain dan mengikuti instruksi.

Kemampuan untuk memecahkan masalah.

Kemampuan berkonsentrasi pada sebuah tugas.

Ada begitu banyak yang dapat dipelajari oleh anak namun tidak dapat diukur dengan tes standar. Dan meski suatu saat hari-harinya akan penuh dengan fonetik, tulisan tangan, dan pecahan, kita tidak khawatir dengan semua itu hari ini.

Hari ini punya hal yang lebih penting untuk dipelajari.

Sekalipun ia sudah menjelaskan alasannya kenapa tak mengajarkan anak pre-school nya membaca, ia masih mendapatkan banyak kritik dari pembaca.

Misalnya, ada orang yang menganggap bahwa ia adalah ibu pemalas yang akan mempermalukan anaknya sendiri. Karena anaknya akan jadi satu-satunya yang tidak bisa membaca di kelas.

Dalam catatan lanjutan yang sengaja ia buat untuk menjawab pertanyaan para komentator Facebooknya, ia menjelaskan bahwa yang ia lakukan berkaitan dengan kesiapan literasi anak-anak.

"Pada literasi anak usia dini," jelasnya, "ada sebuah teori yang disebut dengan "kesiapan membaca" yang menjelaskan bahwa anak-anak harus siap untuk belajar membaca sebelum kita mengajarkan baca pada mereka."

Ia melanjutkan, "kesiapan membaca terkait dengan corpus callosum - jaringan saraf yang hebat yang menghubungkan belahan otak kiri dan kanan - yang sepenuhnya berkembang pada usia sekitar tujuh tahun."

Jadi, kapan Anda mengajari anak membaca?

 

Baca juga:

15 Cara Membantu Anak Belajar Membaca

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kisah Inspiratif