Ibu Marahi Anak Karena Hal Sepele, Bisa Berdampak Buruk pada Anak

lead image

Seorang ibu sebut saja Ani curhat di media sosial, ia mengeluh kalau anaknya yang baru berusia 2 tahun rewel dan nakal.

Ada saja yang membuat sang ibu menjadi marah. Misalnya saja, si anak menumpahkan makanan, atau memberantakan mainan. Sang ibu langsung saja membentak si anak tersebut.
“Kadang ini menjadi pertengkaran dengan suamiku. Dan anakku yang selalu menjadi sasaran. Aku suka marah enggak jelas kadang sampai anakku histeris,” ujar Ani.

Padahal setelah amarahnya reda ia merasa sangat menyesel karena sudah bersikap marah-marah pada anaknya. Dan suaminya pun sering mengatakan kalau sang ibu sering marah pada anak maka jika sudah dewasa nanti si anak akan benci pada ibunya.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/11/mom angry asian.jpg Ibu Marahi Anak Karena Hal Sepele, Bisa Berdampak Buruk pada Anak

Berdasarkan curahan hati ibu tersebut tentu saja tindakan tersebut akan berdampak buruk pada kondisi psikologis anak. Memang terkadang memarahi anak tidak bisa dihindari. Ketika orangtua dalam kondisi penat dan lelah setelah beraktivitas, emosi mereka kerap tersulut ketika melihat anak melakukan hal yang tak mereka sukai. Namun, sebelum anda memarahi anak perlu diingat jika ada beberapa dampak buruk ketika seorang anak sering dimarahi :

1. Anak menjadi tidak percaya diri

Akibat seringnya dimarahi oleh orang tua, anak memiliki perasaan selalu salah dan takut salah sehingga anak tidak lagi memiliki rasa percaya diri. Anak tidak percaya diri terhadap apa yang dipikirkannya maupun yang ingin dilakukannya karena perasaan selalu salah dan takut akan dimarahi orang tuanya. Kemudian anak memilih untuk berada di zona yang menurutnya aman dari amarah orang tuanya dengan tidak melakukan apapun.

2. Anak memiliki sifat egois, dan keras kepala

Perilaku orang tua yang memarahi anaknya terus menerus berdampak pada anak. Anak akan tumbuh egois dan juga keras kepala. Anak berusaha untuk bisa melindungi dirinya sendiri dan membenci perasaan tersakiti dari amarah orang tuanya, sehingga anak tumbuh menjadi pribadi yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan juga pribadi yang tidak bisa menerima masukan dari orang lain atau keras kepala.

3. Anak suka menentang

Kondisi ini menyebabkan anak ingin membela dirinya sendiri yang kemudian muncul perilaku pertentangan. Anak menjadi berani untuk berbicara kasar dan menentang orang tuanya. Sehingga apapun yang dikatakan orang tuanya selalu tidak benar di benaknya dan anak merasa dirinya tidak ingin lagi diatur oleh orang tua dalam hal apapun. Sikap pertentangan ini muncul akibat anak sudah terlalu lelah dimarahi terus menerus seolah dirinya tidak lagi berharga dan memiliki perasaan. Oleh karena itu keinginan untuk bebas dari situasi tidak menyenangkannya membuat dirinya berani menentang.

4. Anak menjadi apatis, kurang sensitif, dan tidak peduli terhadap sekitarnya

Selain itu, beberapa kasus dalam keluarga dimana orang tuanya sering sekali memarahi anaknya, anak tumbuh menjadi pribadi yang apatis. Anak tidak peduli dengan lingkungan disekitarnya maupun orang orang terdekat. Anak tumbuh menjadi kurang sensitif dan kurang peduli. Anak hanya peduli terhadap kesenangannya sendiri dan bagaimana mendapatkan apa yang dia inginkan.

Cara terakhir yang bisa Anda lakukan agar bisa menahan diri dari memarahi atau membentak anak adalah: bayangkan apa yang terjadi setelahnya.

Tidak ada orangtua yang merasa senang setelah mereka memarahi anaknya. Ingatkan diri Anda pada rasa bersalah itu, rasa tidak nyaman di perut yang bisa sampai membuat Anda menggeretakkan gigi.

Bayangkan juga mimik wajah anak, yang biasanya kaget dan tak percaya melihat kemarahan Anda. Mimik wajah mereka biasanya adalah perwujudan dari rasa tak percaya bahwa Anda bisa “menyakitinya” dengan bentakan Anda.

Jangan lupakan juga rasa pahit di mulut Anda, saat melihat anak akhirnya tertidur, setelah kelelahan karena terus menangis. Atau rasa takut di matanya karena melihat Anda mengamuk.

Jangan sampai semua kejadian itu terulang lagi. Pastikan Anda menggunakan semua trik dan “senjata” yang ada untuk memastikan, mimik pahit itu tak lagi ada di wajah anak. Dan rasa tidak nyaman akibat rasa bersalah itu tak lagi menyertai Anda.


 

Referensi : Ibuhamil.com, dosenpsikologis.com

 

Baca juga : https://id.theasianparent.com/ayah-pukul-anak

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.