Kejam! Ibu ini memutilasi bayinya sendiri yang baru berusia sehari

lead image

Kasus ibu yang memutilasi bayinya di Jakarta Utara September lalu, bisa jadi dikarenakan depresi psikosis yang membuat ibu itu tega membunuh darah dagingnya sendiri.

Bulan September lalu, penduduk di daerah Kelapa Gading, Jakarta Utara dikejutkan dengan kasus ibu mutilasi bayi. Seorang ART yang bekerja di The Gading Residence, tega membunuh anaknya sendiri akibat hamil di luar nikah.

Tersangka ibu mutilasi bayi ini masih berusia 19 tahun, dan belum menikah. Polisi menduga motif pembunuhan dilakukan untuk menyembunyikan fakta bahwa dirinya hamil dan melahirkan tanpa suami.

Kasus ibu mutilasi bayi ini terungkap ketika seorang tukang sedang memperbaiki atap rumah yang rusak. Dan menemukan jasad bayi di loteng. Tersangka mengaku bahwa bayinya sudah meninggal saat dilahirkan, dia memutilasi bayi malang tersebut karena tubuhnya tidak bisa masuk secara utuh ke dalam kloset.

Kasus ini masih ditangani oleh kepolisian. Mereka juga memeriksa kejiwaan pelaku, untuk melihat apakah ada kemungkinan depresi yang membuat dia tega membunuh bayinya sendiri.

ibu mutilasi bayi lead

Kasus ibu mutilasi bayi di Cengkareng akibat depresi pasca melahirkan.

Sayangnya, kasus ibu mutilasi bayi bukan baru pertama kali ini terjadi. Pada bulan Oktober tahun 2016, kasus serupa juga terjadi di kawasan Cengakareng, Jakarta Barat. Peristiwa ini cukup menggemparkan, karena pelaku merupakan istri dari seorang aparat kepolisian.

Banyak saksi yang mengatakan, peristiwa ini dipicu oleh depresi yang dialami oleh pelaku. Sehingga tega membunuh bayinya sendiri.

Selengkapnya: Diduga depresi, seorang ibu mutilasi bayinya sendiri

Mengapa ada ibu mutilasi bayi sendiri dengan kejam?

Apa yang dilakukan oleh kedua pelaku di atas, berkaitan erat dengan kondisi kejiwaannya. Ibu yang mengalami depresi bisa melakukan hal-hal tidak terduga, seperti bunuh diri, atau bahkan menyakiti bayinya sendiri.

Dalam dunia medis, kondisi depresi hingga membuat seorang ibu memiliki keinginan untuk menyakiti bayinya sendiri disebut psikosis postpartum. Yakni gejala depresi yang lebih parah dibandingkan baby blues ataupun depresi pasca melahirkan (postpartum depression). 

Artikel terkait: Waspada gejala Postpartum Psychosis, keinginan untuk menyakiti bayi

Berbeda dari baby blues dan depresi pasca melahirkan, psikosis postpartum datang secara tiba-tiba dan langsung memengaruhi tindakan penderitanya. Seorang ibu bisa tiba-tiba menyakiti bayinya, namun sedetik kemudian dia menyesal menangis meraung-raung karena tidak sadar dengan apa yang dilakukannya.

Gejala yang umum terjadi pada penderita psikosis postpartum ialah:

  • Halusinasi. Mendengar suara-suara atau hal-hal yang sebenarnya tidak ada
  • Mood swings. Perubahan mood dari senang menjadi sedih dan sebaliknya, secara tiba-tiba dan ekstrim.
  • Maniak. Terobsesi pada hal-hal tertentu. Seperti membersihkan rumah tengah malam, atau berkebun saat dini hari.
  • Kebingungan. Tidak mengenali keluarga maupun teman sendiri
  • Fantasi menjadi sangat aktif. Tidak lagi bsia membedakan mana khayalan mana kenyataan.

Kondisi ini menimpa 13 % ibu di dunia, dan angkanya lebih tinggi menjadi 20% di negara berkembang. Sehingga harus diwaspadai.

ibu mutilasi bayi 1

Penyebab terjadinya psikosis postpartum

Vera Itabiliana, seorang psikolog anak di Rumah Mandiri Anak Depok, mengatakan bahwa orang yang pernah memiliki masalah mental sebelumnya, punya risiko lebih tinggi mengalami psikosis postpartum. Risiko ini juga terjadi pada mereka yang memiliki anggota keluarga yang pernah menderita depresi pasca melahirkan.

Vera juga memaparkan faktor penyebab depresi dan psikosis postpartum berikut ini:

  • Perubahan drastis dalam hidup. Hamil dan melahirkan membawa perubahan fisik, mental dan emosional dalam diri seorang ibu. Apabila tidak siap menghadapinya, dia rentan terkena depresi.
  • Realita yang tidak sesuai dengan espektasi. Hal ini bisa terjadi ketika ibu ingin melahirkan normal, namun terpaksa cesar. Atau mengharapkan anak laki-laki namun malah melahirkan anak perempuan. Dan sebagainya.
  • Kurangnya dukungan dari suami. Kondisi mental ibu saat hamil dan setelah melahirkan berada dalam posisi rentan. Apabila suami tidak memberi dukungan sama sekali, atau malah meremehkan kesulitan yang dialami ibu. Hal ini akan menambah tekanan mental sehingga ibu bisa menjadi depresi.
  • Lelah dengan realitas. Ibu yang kelelahan mengurus rumah tangga dan keluarga, tanpa ada waktu me time dan tanpa dukungan moral dari suami. Bisa merasa kelelahan, tertekan hingga merasa tidak kompeten menjadi seorang ibu. Hal ini juga bisa membuat ibu mengalami depresi.
  • Tidak siap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat hamil dan melahirkan, juga bisa menyebabkan depresi.
ibu mutilasi bayi karena depresi

Kelelahan mengurus anak tanpa dukungan dari suami, bisa memicu depresi pada seorang ibu.

Mencegah psikosis postpartum

Vera menyebut, kondisi psikosis postpartum bisa dicegah jika ibu bisa melakukan hal-hal berikut ini:

  • Harus siap dengan segala kemungkinan terburuk yang terjadi saat hamil dan melahirkan
  • Espektasi harus realistis dan fleksibel. Harapan harus disesuaikan dengan kenyataan, dan selalu fleksibel. Terbuka pada kemungkinan terjadinya hal-hal di luar espektasi.
  • Jangan terlalu kaku dengan rencana-rencana yang sudah dibuat. Harus bisa beradaptasi jika ada hal-hal yang membuat rencana itu gagal dilakukan
  • Berbagi peran dengan suami untuk mengurangi beban dan tekanan yang dialami ibu. Peran suami haruslah aktif selama kehamilan dan sesudah melahirkan.
  • Menyiapkan supporting system yang akan membantu ibu menghadapi masa kehamilan dan pasca melahirkan. Seperti keluarga, kerabat atau teman yang datang membantu mengurus bayi atau mengurus rumah ketika ibu baru saja melahirkan.
ibu mutilasi bayi karena depresi

Psikosis postpartum bisa dicegah dengan menyiapkan supporting system untuk membantu ibu.

Apakah psikosis postpartum bisa diobati?

Pengobatan psikosis postpartum disesuaikan pada gejala yang timbul. Biasanya melibatkan obat-obatan antipsikotik dan antidepresan di bawah pengawasan psikiater. Ibu juga harus menjalani perawatan kesehatan mental secara intensif.

Kebanyakan ibu bisa sembuh dari psikosis postpartum setelah beberapa minggu menjalani pengobatan, namun pemulihan secara total bisa memakan waktu lama, hingga bertahun-tahun.

Apabila Bunda pernah memiliki gangguan mental. dan khawatir akan mengalami psikosis postpartum, konsultasikan dengan dokter atau bidan Anda.

Dan jika Parents melihat seseorang yang memiliki gejala psikosis postpartum, segeralah mencari bantuan untuknya. Inia dalah kondisi serius yang tidak bisa disepelekan. Jika dibiarkan bisa membahayakan bayi dan anggota keluarga yang lain.

Psikosis postpartum bisa disembuhkan dengan penanganan tepat dan deteksi dini gejalanya.

 

Referensi: Republika, Hello Sehat

Baca juga:

Seorang Ibu Bunuh Diri Bersama Bayinya Karena Depresi Pasca-Melahirkan