Tega! Ibu lempar anak autis dari balkon 2 kali

lead image

Akibat depresi, seorang ibu berusaha membunuh anaknya dengan cara melemparnya dari balkon.

Kehadiran anak menjadi sesuatu yang ditunggu-tunggu. Setelah 9 bulan hamil dan melalui perjuangan melahirkan, bagaimana mungkin seorang ibu bunuh anak sendiri?

Namun tragedi ibu bunuh anak ini terjadi di Bengaluru, India setelah seorang tetangga mendengar suara keras. Sang tetangga menemukan seorang gadis kecil berusia 9 tahun sudah terkapar di tanah dan badannya bersimbah darah.

Pada saat itu, sang anak terlihat masih sadar. Namun dalam sekejap ibu dari anak tersebut, Swathi Sarkar (36), mengambil anaknya, kembali ke kediamannya di sebuah apartemen empat lantai, dan mengulang untuk kedua kalinya melempar anaknya dari balkon.

Beberapa tetangga jadi saksi si ibu menggendong anaknya yang bersimbah darah dan bertanya-tanya apa yang terjadi. Mereka mungkin sama sekali tidak menyangka kalau si ibu berencana melemparnya kembali, alih-alih menyelamatkannya. Setelah usahanya yang kedua kali tersebut, si anak yang bernama Aishika Sarkar itu langsung meninggal.

Barulah para tetangga menyadari kalau ternyata yang membuat anaknya terjatuh adalah Swathi, ibunya sendiri. Mereka juga mengungkapkan kalau Swathi terlihat terganggu jiwanya. Para tetangga mengikat Swathi ke tiang sampai akhirnya polisi datang dan menangkapnya.

Ibu bunuh anak: Mengapa bisa terjadi?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/merdeka.com .jpg Tega! Ibu lempar anak autis dari balkon 2 kali

Ketika diinterogasi oleh polisi, Swathi berkata bahwa anak perempuannya yang bernama Ashika yang memaksanya untuk membunuh.

Menurut laporan, Swathi adalah pernah bekerja sebagai guru selama dua tahun dan kemudian bercerai dengan suaminya yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Namun mantan suaminya masih memenuhi kebutuhan finansial Swathi dan dua anak mereka.

Penyebab ibu bunuh anak karena depresi yang ekstrem

Polisi menyatakan kondisi Swathi tidak stabil dan ia depresi karena harus mengurus putrinya yang autis. Namun hal ini belum dikonfirmasi oleh pihak medis.

Bahkan, polisi masih menyelidiki penyebab kemarahan Swathi sehingga ia tega berbuat demikian karena tampaknya Swathi mengalami depresi berat.

Ibu bunuh anak: Depresi bisa membahayakan!

Belum banyak yang menyadari akan bahayanya depresi. Jika seseorang menderita depresi dan dibiarkan, hal-hal buruk bisa terjadi baik pada dirinya sendiri atau pada orang lain.

Menurut Dr. Samir Parikh, direktur Mental Health Sciences Delhi, kita bisa mengenali gejala-gejala depresi dari tanda seperti ini:

  • Depresi bisa terlihat dalam jangka waktu pendek seperti stres, kehilangan minat pada hal-hal yang sebelumnya disukai seperti hobi dan tidak ingin melakukan aktivitas apa pun.
  • Gejala-gejala ini bisa diikuti dengan kehilangan berat badan, masalah nafsu makan, masalah tidur, level energi yang rendah, dan selalu lelah setiap saat.
  • Orang yang menderita depresi bisa memiliki perasaan bersalah yang sangat besar, tidak bisa fokus, sulit membuat keputusan, dan sering memikirkan kematian.

Bagaimana membantu orang yang depresi?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/vision.org .jpg Tega! Ibu lempar anak autis dari balkon 2 kali

  • Berikan dukungan, empati, dan menjadi pendengar yang baik untuk masalah mereka.
  • Cobalah untuk bersimpati pada masalah mereka dan mengerti emosi yang sedang mereka alami.
  • Berikan perhatian dan dukungan, sarankan untuk menemui ahli profesional.
  • Jika depresinya sudah parah, semua anggota keluarga harus waspada, terutama jika orang tersebut seringkali menyinggung tentang keinginan bunuh diri.
  • Jauhkan benda-benda berbahaya seperti benda tajam, pil, dan racun.
  • Berusaha berkomunikasi dengannya agar ia mengeluarkan emosi-emosi yang dipendam.

 

 

Artikel disadur dari tulisan Nurul Halifah di theAsianparent Malaysia.

Baca juga:

Tega! Seorang ayah merekam video saat membunuh anak kandungnya

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.