3 Alasan hubungan dengan suami renggang setelah punya anak

lead image

Tetap jaga keromantisan hubungan suami istri dengan cara-cara ini.

Memiliki anak adalah salah satu pengalaman hidup paling indah yang bisa kita miliki, namun tak bisa dipungkiri hubungan renggang setelah memiliki anak. Bahkan menurut Gottman Relationship Research Institute seperti dilansir dari Babyology, dua dari tiga pasangan mengakui kualitas hubungan mereka menurun dalam jangka waktu lima tahun semenjak kelahiran anak pertama mereka.

Menjaga pernikahan pasca kelahiran bayi membutuhkan banyak waktu dan tenaga, dua hal yang mungkin sudah berada di ambang batas bawah bagi orangtua baru. Namun mengusahakan hal ini akan bermanfaat untuk jangka panjang, percayalah.

Anak-anak akan tumbuh besar dan menjadi mandiri suatu hari nanti, bahkan meninggalkan kita untuk bekerja atau menikah dan memiliki keluarga kecilnya sendiri. Kita pun hanya akan kembali berdua dengan pasangan.

Pernikahan bukanlah sebuah perlombaan lari sprint melainkan sebuah marathon, maka berlarilah bersama-sama dengan pasangan Anda.

Lantas apa saja penyebab hubungan renggang pada suami istri yang telah memiliki anak dan bagaimana mengatasinya?

Penyebab hubungan renggang #1 : Kelelahan luar biasa

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/hubungan renggang poin 1.jpg 3 Alasan hubungan dengan suami renggang setelah punya anak

Lelah mengurus anak dan rumah memang kadang membuat hubungan renggang.

Saat anak lahir, semua orang memberi selamat. Namun sahabat yang benar-benar dekat dan sudah berpengalaman menjadi orang tua akan mengatakannya apa adanya: “Selamat menjadi zombie!”, mengacu pada malam-malam kurang tidur di mana Anda harus begadang semalaman karena bayi sedikit-sedikit terbangun.

Menjadi ibu baru memang lelah luar biasa. Apa itu nasihat ‘tidurlah ketika bayi tidur?’, yang ada ketika bayi tidur kita harus membereskan rumah.

Di sela-sela mengurus anak dan mengurus pekerjaan rumah tangga, seolah tidak ada lagi waktu untuk berduaan saja dengan suami.

Lelah secara fisik maupun emosional akan berpengaruh besar kepada suasana hati. Bunda pun lebih sensitif, gampang tersinggung, dan emosi bisa meledak-ledak.

Ketika suami ingin berduaan saja, alih-alih mendekatkan hubungan, malah jadi banyak berantemnya. Emosi terhadap anak karena anak menangis terus, lapar terus, dan hal-hal lainnya, Bunda pun melampiaskannya pada suami.

Cara mengatasi hubungan renggang setelah punya anak:

  • Selalu luangkan waktu untuk beristirahat. Memang seolah hal yang mustahil dilakukan, tapi cobalah! Entah itu sekadar meditasi singkat 5-10 menit dengan mengambil napas dalam-dalam atau mandi lebih lama dari biasanya, berendam kalau perlu. Anda perlu waktu untuk menenangkan badan dan pikiran Anda.
  • Jika Anda belum juga mengetahuinya sampai sekarang, para pria itu tidak bisa baca pikiran! Tidak usah menunggunya untuk menawarkan bantuan, bicarakan dengan jelas apa yang Anda harapkan bisa ia kerjakan di rumah selama Anda mengurus bayi. Atau sebaliknya, Anda bisa mengerjakan pekerjaan rumah sementara si kecil dijaga oleh suami. Anda juga bisa melakukan jadwal bergilir untuk begadang, dengan cara suami memberikan ASIP jika si kecil terbangun di malam hari sementara Anda tidur. Dengan cara ini kekurangan tidur Anda bisa diminimalisir.

Penyebab hubungan renggang #2: Anda penganut ‘live happily ever after’

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/12/hubungan renggang poin 2.jpg 3 Alasan hubungan dengan suami renggang setelah punya anak

Mengatasi hubungan renggang dalam pernikahan membutuhkan kerjasama dari suami dan istri.

Kehidupan nyata itu bukan dongeng di mana pangeran dan putri bertemu kemudian menikah lalu hidup bahagia selama-lamanya. Anda berpikir kehidupan pernikahan akan baik-baik saja selama kalian berdua saling mencintai satu sama lain.

Namun kemudian terjadilah hal-hal yang membuat tidak nyaman, dan Anda pun langsung panik atau merasa dunia ini langsung runtuh. Kehidupan pernikahan membutuhkan kerja keras dari kalian berdua.

Awal kedekatan kalian berdua, atau fase bulan madu, memang menyenangkan tapi semua itu tidak nyata. Hubungan akan berubah menjadi nyata setelah kalian berjuang bersama-sama. Cinta sejati tidak muncul dari pandangan pertama, melainkan dari percakapan-percakapan yang mendalam, kompromi, tanggung jawab, dan memperlihatkan diri Anda yang sebenarnya.

Jika Anda merasa chemistry fase bulan madu itu sudah memudar dan sekarang rasanya kok semua serba susah, jangan lantas menyerah. Itu hanya akhir sebuah fase dan sesungguhnya Anda dan suami memasuki fase baru, yaitu fase menjadi orang tua.

Lalu bagaimana menjaga romantisme pasangan di tengah hiruk pikuk menjadi orang tua baru?

  • Punya ‘we time’. Jadwalkan kencan berdua saja dengan suami, misalnya seminggu sekali. Cukup dengan menonton bioskop atau mengobrol di kafe. Titipkan anak di neneknya atau babysitter. Berdandanlah dan be excited seperti mau kencan pertama. Tidak usah merasa bersalah karena ini penting untuk menjaga kelanggengan kehidupan pernikahan Anda. Ingat, happy mom means happy family!
  • Bersikap baik. Seperti dibahas di atas, sangat wajar ketika kelelahan yang luar biasa kemudian menjadikan Anda lebih sensitif dan cepat marah. Hal ini bisa menimbulkan ketegangan di dalam rumah. Ingatlah selalu untuk menjaga emosi Anda dan selalu bertutur kata baik pada suami dan tidak melampiaskan frustasi Anda terhadap anak kepada suami.
  • Melakukan hal spontan sekali-kali. Menjadi ibu baru, Anda tidak harus selalu mengurung diri di dalam rumah kok. Sesekali secara spontan ajaklah suami keluar baik itu sekadar jalan-jalan keliling kompleks dengan membawa si kecil dengan stroller, atau mengejutkannya dengan memasakannya masakan favoritnya.
  • Bercinta. Meskipun berhubungan seks mungkin hal terakhir yang ada di pikiran Anda, cobalah untuk melakukannya secara rutin. Mungkin Anda tidak terlalu bergairah pada awalnya tapi ingatlah seks banyak manfaatnya seperti mengurangi stres, meningkatkan keintiman bahkan membuat tidur lebih nyenyak. Dengan melakukannya secara rutin selain mencegah hubungan Anda dan suami menjadi renggang, Anda pun mendapat banyak manfaat kesehatan!

Penyebab hubungan renggang #3: Merasa tidak lagi mendapat dukungan dari pasangan

Setelah memiliki anak, segala keputusan yang Anda dan pasangan buat haruslah memikirkan anak. Banyak hal yang pada akhirnya harus disepakati ulang, dikompromikan, atau dipikirkan lagi agar kehidupan rumah tangga berjalan baik, termasuk dalam hal keuangan, pekerjaan rumah, serta hal-hal pribadi. 

Tidak bisa dipungkiri bahwa kebutuhan finansial semakin besar sejak kelahiran anak. Tentu saja masalah ini harus dipikirkan bersama.

Terlepas apakah hanya suami yang mencari nafkah atau Anda berdua sama-sama bekerja, tanamkan dalam pikiran bahwa urusan keuangan haruslah ditanggung bersama. Suami tidak boleh merasa bahwa karena sudah mencari nafkah lalu melepaskan begitu saja urusan keuangan pada istri tanpa mau tahu apakah uangnya cukup atau tidak untuk kebutuhan keluarga. Istri yang bekerja pun tidak boleh menganggap harus menyaingi gaji suami, tetapi pikirkanlah bahwa semua dilakukan demi keluarga.

Satu-satunya cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan bersikap jujur dan mengatakan apa pun yang Anda rasakan kepada pasangan. Anda juga harus mendengarkan apa yang dirasakan oleh pasangan. 

Menjadi orangtua memang kadang bisa membuat hubungan renggang. Segala sesuatu menjadi sulit dan tegang di antara Anda berdua, tetapi bukan berarti tidak ada jalan keluarnya. 

Ingat lagi apa yang menjadi komitmen Anda berdua ketika dulu memutuskan menikah dan membangun keluarga. Semoga hubungan renggang dengan pasangan bisa kembali harmonis.

 

Referensi: Babylogy

Baca juga:

Ernest Prakasa: "Pengantin baru tak perlu buru-buru punya anak"

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.