Hidrosefalus: Penyebab, Gejala, dan Cara Menanganinya

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Angka bayi yang mengalami hidrosefalus terus meningkat. Pelajari penyebab, gejala, dan cara menanganinya sebelum terlambat.

Hidrosefalus (hydrocephalus) adalah kondisi penumpukan cairan di dalam otak yang mengakibatkan meningkatnya tekanan pada otak. Arti harfiah dari penyakit ini adalah "air di dalam otak."

Cairan serebrospinal biasanya mengalir melalui ventrikel dan menggenangi otak dan tulang belakang. Jika tekanan cairan serebrospinal terlalu banyak, maka jaringan otak akan rusak dan menyebabkan gangguan dalam fungsi otak.

Fungsi dari cairan serebrospinal adalah menjaga otak yang volumenya berat agar terapung di dalam tengkorak, merupakan bantalan otak untuk mencegah cedera, membuang limbah metabolisme di dalam otak, dan mempertahankan tekanan yang tetap di dalam otak, tepatnya antara rongga otak dan tulang belakang untuk mengkompensasi perubahan tekanan darah di dalam otak

Gangguan dalam otak ini sangat berpengaruh pada penderitanya. Karena menyebabkan gangguan perkembangan fisik maupun intelektual. Belum lagi, jika penyakit tersebut memiliki komplikasi yang serius.

Sekalipun bisa menimpa ke semua usia, namun hidrosefalus umum terjadi pada usia dewasa dan bayi. Para ilmuwan mencatat bahwa 2 dari 1000 bayi terlahir dengan kondisi hidrosefalus.

Penyebab hidrosefalus

Berikut yang dapat menyebabkan hidrosefalus terjadi:

  • Terjadinya penyumbatan yang mencegah cairan serebrospinal mengalir normal.
  • Terjadi penurunan kemampuan pembuluh darah untuk menyerapnya.
  • Otak ikut memproduksi kelebihan cairan tersebut.

Namun, dalam beberapa kasus, penyakit ini juga bisa menimpa bayi yang belum dilahirkan. Penyebabnya adalah:

Penyebab yang biasa terjadi pada bayi dan balita adalah sebagai berikut:

  • Infeksi sistem saraf pusat seperti meningitis, terutama pada bayi
  • Pendarahan di otak selama atau segera setelah melahirkan, terutama pada bayi yang lahir secara prematur
  • Cedera yang terjadi sebelum, selama, atau setelah melahirkan
  • Trauma kepala
  • Tumor sistem saraf pusat

Pada orang dewasa, hidrosefalus bisa terjadi jika:

  • Infeksi yang berhubungan dengan otak seperti meningitis
  • Cedera kepala
  • Pendarahan dari pembuluh darah di otak
  • Pernah menjalani operasi otak

Ciri hidrosefalus

Bayi normal (kiri) dan bayi dengan hidrosefalus (kanan). Sumber: cardinalglennon.com

Bayi normal (kiri) dan bayi dengan hidrosefalus (kanan). Sumber: cardinalglennon.com

Pada bayi:

  • Kepala luar biasa besar dan terjadinya peningkatan ukuran kepala yang sangat pesat
  • Menggembungnya ubun-ubun, atau titik lemah di permukaan tengkorak
  • Mata yang tetap melihat ke bawah
  • Kejang
  • Bayi mengalami kerewelan yang ekstrim
  • Muntah
  • Mengantuk yang berlebihan
  • Pola makan yang buruk
  • Kekuatan otot sangat lemah

Pada balita maupun orang dewasa:

  • Sakit kepala
  • Pandangan ganda maupun buram
  • Pembesaran abnormal pada kepala
  • Sering mengantuk
  • Sulit untuk bangun dari tempat tidur
  • Mual atau muntah
  • Keseimbangan tubuh tidak stabil
  • Koordinasi yang buruk
  • Nafsu makan berkurang
  • Kejang

Perubahan perilaku dan kognisi pada balita dan orang dewasa:

  • Lebih cepat marah
  • Perubahan perilaku
  • Tidak fokus
  • Penurunan kinerja
  • Keterlambatan atau masalah dengan kemampuan yang diperoleh sebelumnya, misalnya dalam hal berjalan atau berbicara

Penanganan

Pasien hidrosefalus umumnya mendapatkan 3 penanganan berikut untuk mengatasi penyakitnya:

1. Shunt

Shunt adalah sebuah metode berupa memasukkan tabung fleksibel panjang dengan katup yang membuat cairan dari otak mengalir ke arah yang benar dan pada tingkat yang tepat. Salah satu ujung pipa biasanya ditempatkan di salah satu ventrikel otak.

Selang tersebut kemudian melewati terowongan di bawah kulit ke bagian lain dari tubuh dimana cairan serebrospinal yang berlebihan dapat lebih mudah diserap organ tubuh lainnya. Seperti perut atau ruang di dalam hati.

Orang yang memiliki hidrosefalus biasanya membutuhkan sistem shunt sepanjang hidup mereka. Pasien akan membutuhkan pemantauan rutin.

2. Ventriculostomy

Pada metode ini, dokter bedah akan menggunakan kamera video kecil untuk memiliki pandangan langsung di dalam otak dan membuat lubang di bagian bawah salah satu ventrikel atau antara ventrikel. Lubang tersebut untuk memungkinkan cairan serebrospinal mengalir dari otak.

Kedua prosedur bedah tersebut dapat mengakibatkan komplikasi. Metode shunt dapat menghentikan pengeringan cairan serebrospinal atau pengaturan sistem drainase otak yang buruk karena adanya kerusakan mekanis, penyumbatan, atau infeksi.

Komplikasi ventriculostomy termasuk perdarahan dan infeksi. Segala macam kegagalan yang terjadi akan menyebabkan komplikasi.

Beberapa ciri terjadinya komplikasi antara lain:

  • Demam
  • Sifat lekas marah
  • Kantuk
  • Mual atau muntah
  • Sakit kepala
  • Adanya masalah penglihatan
  • Kulit kemerahan, adanya rasa sakit atau nyeri pada kulit di sepanjang jalan dari tabung shunt
  • Sakit perut ketika katup shunt berada di perut
  • Kambuhnya gejala hidrosefalus awal

Berikut tim yang dibutuhkan untuk mendukung terjadinya penyembuhan pada pasien hidrosefalus anak:

  • Dokter anak, yang mengawasi rencana pengobatan dan perawatan medis
  • Ahli saraf pediatrik, yang mengkhususkan diri dalam diagnosis dan pengobatan gangguan neurologis pada anak-anak
  • Terapis okupasi, yang mengkhususkan diri dalam terapi untuk mengembangkan keterampilan sehari-hari
  • Terapis perkembangan, yang mengkhususkan diri dalam terapi untuk membantu anak Anda mengembangkan perilaku yang sesuai dengan usia, keterampilan sosial dan keterampilan interpersonal
  • Penyedia kesehatan mental, seperti psikolog atau psikiater
  • Pekerja sosial ataupun aktivis, yang membantu keluarga dengan mengakses layanan dan berencana untuk transisi dalam perawatan
  • Guru pendamping, yang membahas ketidakmampuan belajar, menentukan kebutuhan pendidikan dan mengidentifikasi sumber daya pendidikan yang tepat

Ada beberapa hal yang dapat mencegah agar anak terhindar dari hidrosefalus sejak dalam kandungan. Misalnya, vaksinasi sebelum kehamilan yang berhubungan dengan berbagai virus penyebab hidrosefalus, misalnya meningitis dan rubella. Perlunya perawatan intensif sebelum melahirkan yang dapat menyebabkan terjadinya kelahiran prematur.

Dalam kegiatan olahraga atau mengendarai kendaraan, usahakan agar anak menggunakan helm pelindung kepala untuk mencegah terjadinya trauma kepala saat jatuh. Selain itu, penggunaan car seat di mobil dengan sabuk pengaman yang kencang juga dapat mencegah terjadinya benturan keras di kepala jika terjadi kecelakaan saat mengendarai mobil.

Tentunya, dukungan cinta keluarga dan kedisiplinan dalam pengobatan akan membuat pasien merasa lebih nyaman dan hal itu akan membantu penyembuhannya. Perawatan medis untuk pasien hidrosefalus bisa sangat mahal, sehingga orang tua harus bersiap dengan asuransi seperti BPJS maupun asuransi bentuk lainnya yang dapat meringankan pembiayaan, galang donasi bila perlu.

 

 

Referensi: Mayo Clinic, Health Line, Medicine Plus.

Baca juga:

Normalkah Ukuran Lingkar Kepala Bayi Anda?

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan