Hernia pada bayi, apa yang harus dilakukan jika anak mengalaminya?

lead image

Inilah yang perlu Anda pahami terkait hernia pada bayi

Tahukah Anda bahwa hernia bisa dialami oleh anak, bahkan saat usianya masih bayi? Baca terus untuk mengetahui apa yang harus Anda lakukan untuk menangani hernia pada bayi.

Hernia merupakan sebuah kondisi yang terjadi ketika bagian dari organ atau jaringan (seperti bagian dari usus) menonjol ke daerah yang tidak biasa. Bagian organ tersebut muncul melalui bukaan atau area lemah dalam dinding otot, sehingga muncul tonjolan atau benjolan.

Hernia ini umumnya dialami oleh orang dewasa. Namun, tahukah Anda bahwa hernia pada bayi juga bisa terjadi?

Hernia pada bayi: Apa yang perlu Parents ketahui

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/06/hernia pada bayi.jpg Hernia pada bayi, apa yang harus dilakukan jika anak mengalaminya?

Seorang ibu menceritakan kisah tentang bagaimana putranya, yang baru berusia satu tahun dua bulan, menderita hernia yang sangat menyakitkan.

Ketika itu, sang ibu sedang memandikan putranya. Dia melihat ada benjolan kecil yang hampir tak terlihat di dekat pangkal pahanya.

Semula ia tidak curiga dan menganggap bahwa kondisi tersebut tidak mengganggu putranya karena memang tidak menunjukkan gejala lain atau rasa sakit. Namun, dia terkejut setelah melihat bahwa tiba-tiba saja benjolan tersebut menjadi lebih besar.

Sang ibu pun menyadari bahwa putranya sangat kesakitan karena kerap menangis. Karena itulah ia memutuskan membawanya ke dokter untuk memeriksa dan mengetahui apa yang terjadi pada putranya.

Menurut dokter, kondisi anaknya mengalami sejenis hernia pada bayi yang disebut hernia inguinalis. Kondisi ini mengharuskan untuk segera ditangani lewat tindakan operasi.

Sang ibu menceritakan bahwa sebelum operasi, ia disarankan untuk tidak memberikan anaknya makan atau minum selama enam jam. Untungnya, operasi yang membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit ini berjalan lancar.

Ia sangat bersyukur karena bisa mengetahui kondisi yang dialami putranya di saat yang tepat sehingga dapat mengurangi rasa sakit yang lebih besar.

Sebenarnya, apa yang menyebabkan hernia pada bayi?

Hernia inguinalis merupakan jenis hernia yang sering alami bayi atau anak kecil.

Dikutip dari laman Klikdokter, hernia inguinalis dibagi menjadi dua, yaitu hernia inguinalis medialis dan hernia inguinalis lateralis. Jika kantong hernia inguinalis lateralis mencapai skrotum (buah zakar), hernia disebut hernia skrotalis.

Hernia terdiri atas jaringan lunak, kantong, dan isi hernia. Jaringan lunak yang dimaksud disini adalah usus. Jadi melalui suatu lubang di lipat paha, usus turun dari daerah perut menuju ke skrotum (buah zakar).

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kantung kecil yang menembus cincin inguinal yang terletak di dekat selangkangan. Cincin inguinal terbuka saat bayi berada di dalam rahim, dan segera menutup setelah bayinya lahir.

Tetapi dalam beberapa kasus, kantung dapat mendorong melalui cincin inguinal, dan ke selangkangan. Ini biasanya bermanifestasi sebagai benjolan yang muncul dan menghilang, dan juga bisa “bermunculan” ketika anak itu tegang atau menangis.

Selain hernia inguinalis, jenis hernia pada bayi lainnya adalah hernia umbilical. Hernia umbilical terjadi ketika lubang kecil di otot perut bayi tidak menutup setelah lahir. Ini dapat menyebabkan usus dan cairan “keluar,” menyebabkan banyak rasa sakit.

Biasanya dapat diidentifikasi dengan benjolan di perut anak, dekat pusar.

Baca juga : Hernia Umbilikalis; pusar bodong pada bayi, apakah berbahaya?

Bagaimana pengobatan hernia pada bayi?

Umumnya, hernia umbilikalis tidak berbahaya dan tidak terasa sakit maupun membuat tidak nyaman sehingga tidak memerlukan perawatan khusus. Namun, kondisi ini dapat menyebabkan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Dikutip dari Alodokter, hernia umbilikalis pada bayi biasanya akan muncul ketika menangis yang menyebabkan pusar bayi menonjol keluar. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko terkena hernia umbilikalis dikarenakan bayi terlahir prematur dan bobot bayi rendah saat lahir.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/06/hernia pada bayi1.jpg Hernia pada bayi, apa yang harus dilakukan jika anak mengalaminya?

Hernia umbilikalis biasanya akan menghilang dengan sendirinya setelah bayi berumur satu atau dua tahun. Tapi terkadang, kondisi ini bisa bertahan lebih lama. Apabila hernia umbilikalis tidak sembuh hingga memasuki usia empat tahun, disarankan untuk segera memeriksaan ke dokter untuk mengetahui langkah pengobatan yang perlu dilakukan.

Sementara hernia inguinalis perlu ditangani melalui prosedur operasi untuk mendorong kembali benjolan dan untuk menguatkan bagian-bagian yang lemah dari dinding abdomen. Prosedur ini akan dilakukan jika hernia menyebabkan gejala yang cukup parah dan jika muncul komplikasi yang cukup serius untuk mencegah terjadinya komplikasi yang serius.

Komplikasi yang mungkin terjadi adalah hernia inguinalis obstruksi, di mana bagian dari usus terjepit di dalam saluran inguinalis dan menyebabkan mual, muntah, sakit perut, dengan disertai benjolan yang terasa sakit pada bagian selangkangan.

Meskipun begitu, Parents tidak perlu mengkhawatirkan operasi yang harus dilakukan karena operasi ini merupakan prosedur yang umum dilakukan.

Hal paling penting untuk diperhatikan adalah Anda harus bisa memperhatikan tanda-tanda hernia pada bayi. Ini biasanya bermanifestasi sebagai tonjolan yang muncul dan muncul kembali, sebingga menyebabkan rasa sakit untuk bayi Anda, terutama ketika disentuh.

Dengan mengetahui tanda-tanda sejak dini tentu saja dapat membantu menyelamatkan bayi atau anak Anda dari rasa sakit dan segala risiko yang bisa dia rasakan di masa depan.

 

Artikel ini disadur dari theAsianparent Singapura

 

Baca juga :

Hernia Pada Anak Perempuan, Mungkinkah Terjadi?

 

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.