Hamil Bayi Kembar Di Usia 18 Tahun, Bagaimana Rasanya?

Amanda harus menghadapi kenyataan bahwa dirinya hamil bayi kembar saat ia baru berusia 18 tahun. Ikutilah kisahnya dalam artikel berikut ini.

Saya hamil bayi kembar dan melahirkan dua gadis kecil yang cantik ini. Saya hamil bayi kembar dan melahirkan dua gadis kecil yang cantik ini.

Seorang pembaca kami di Singapura berbagi pengalaman hamil bayi kembar di usia belia, dan mengalami banyak masalah beberapa bulan setelah bayi-bayinya lahir prematur... selamat membaca.

Hamil bayi kembar, anugerah tak terduga

Saya merasa bahagia sekaligus khawatir saat tahu saya sedang hamil bayi kembar. Ya, saat itu usia kami masih sangat muda. Kekasih saya (sekarang menjadi suami saya) baru berumur 17 tahun, dan kami masih sekolah.

Saat itu tahun 2012, dan di usia kehamilan yang ke-25 minggu saya masih harus ke sekolah untuk menempuh Singapore Examinations and Assasements Board (semacam Ujian Nasional).

Suami saya sempat berencana untuk melakukan aborsi, karena kami belum stabil secara finansial. Ia tak yakin bisa mencukupi segala kebutuhan sehari-hari bayi kami jika ia telah lahir nanti.

Tapi saya tidak setuju. Aborsi bukanlah hal yang saya inginkan. Karena sejak saat saya tahu saya hamil bayi kembar, saya merasa wajib melahirkan bayi-bayi ini.

Meski saya adalah ibu mereka, bukan hak saya untuk memutuskan bahwa mereka tak layak untuk dilahirkan. Saya sangat bersyukur karena suami dan keluarga saya bisa memahami keputusan saya ini.

Masa hamil kembar yang sulit

Saya melalui saat-saat kurang menyenangkan ketika hamil bayi kembar, karena saya mengalami morning sickness di sepanjang masa kehamilan saya. Saya merasa ingin muntah setiap saat, bahkan ketika sedang beristirahat di tempat tidur. Saya selalu mengantuk dan mual jika melihat telur.

Saya merokok sejak usia 14 tahun dan masih melakukannya hingga di usia 5 minggu kehamilan saya. Saya memutuskan untuk berhenti setelah melihat gambar mayat bayi di sebuah kemasan rokok, karena saya tidak ingin hal itu terjadi pada bayi saya.

Hanhan saat di inkubator Hanhan saat di inkubator

Bayi kembar saya lahir prematur

Saat itu usia kehamilan bayi kami menginjak 28 minggu dan saya tak mengira mereka akan lahir lebih awal. Pada suatu malam saya merasa tak nyenyak tidur karena rasa sakit yang terus menerus di bagian perut. Saya tak tahu bahwa rasa sakit itu adalah kontraksi.

Waktu ke toilet, saya melihat ada bercak darah. Rasa sakit semakin tak tertahankan dan perut saya tampak 'turun'. Saya pun segera pergi ke rumah sakit bersama suami dan mertua saya.

Saat sampai di rumah sakit, dokter menemukan bahwa jalan lahir saya telah terbuka sepanjang 6 cm. Hal ini membuat dokter memberikan 2 suntikan steroid ke tubuh saya untuk mempercepat pembentukan paru-paru bayi kembar kami.

Para dokter berupaya menahan persalinan hingga seminggu berikutnya, tapi saya sudah tak tahan lagi dengan rasa sakitnya. Sehingga mereka menyetujui keputusan saya untuk melakukan operasi caesar.

Saya merasa lega ketika kedua bayi kembar perempuan saya, Qiqi dan Hanhan, berhasil dikeluarkan dari rahim saya. Walaupun saya sempat merasa panik karena tak mendengar tangisan mereka.

Qiqi dan Hanhan sekarang sudah besar. Qiqi dan Hanhan sekarang sudah besar.

Cobaan belum berakhir

Kami hampir kehilangan Hanhan di hari ketiga sesudah ia dilahirkan. Para dokter mengatakan Hanhan mengalami masalah pnemothorax, menderita sakit kuning dan mengalami infeksi darah.

Saya sampai tak tahan melihat tubuhnya yang mungil itu ditusuk aneka macam jarum dan selang di dalam inkubator. Dokter melakukan operasi padanya. Sebuah selang digunakan untuk memompa udara keluar dari paru-parunya.

Kedua bayi kami harus dirawat di rumah sakit hingga 3 bulan lamanya. Namun saya tetap berusaha memberikan mereka ASI dengan cara memompa ASI setiap empat jam sekali dan memberikannya pada mereka di jam besuk pasien.

Qiqi akhirnya diperbolehkan pulang, akan tetapi Hanhan masih harus tinggal di rumah sakit selama beberapa hari karena ia mengalami masalah ketika meminum susu.

Di sela kesibukan mengurus Qiqi di rumah, saya juga bolak-balik ke RS untuk menjenguk Hanhan. Kondisi ini berlangsung hingga ke bulan berikutnya. Sampai akhirnya, Hanhan pun diperbolehkan pulang.

Namun kepulangan bayi-bayi kami dari rumah sakit tidak berarti kami dapat bersantai-santai di rumah. Saya harus belajar cara memasang selang untuk minum susu dan cara melakukan CPR (cardiopulmonary resuscitation/ melakukan pernafasan buatan) agar saya dapat menolong mereka jika mereka mendadak berhenti bernafas.

Saya tahu saya bukanlah satu-satunya  ibu dengan bayi prematur di dunia ini, juga bukan satu-satunya yang hamil bayi kembar di usia muda. Kedua gadis kecil kami menginspirasi saya untuk membuat sebuah blog, tempat di mana Anda akan banyak menemukan tulisan saya tentang tak ada yang tak mungkin dilakukan oleh ibu muda seperti kita.

Parents, semoga tulisan di atas bermanfaat.