9 Hal Menyebalkan yang Biasa Dilakukan oleh Orang yang Belum Punya Anak

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Orang yang belum punya anak memang belum mengerti bahwa kerepotan mengasuh anak itu nyata adanya. Sehingga, ia kadang suka berkomentar negatif.

Orang yang belum punya anak sering tidak peka terhadap kondisi keluarga dengan anak-anak di dalamnya. Sehingga, kadang hal ini jadi terdengar sangat menyebalkan di telinga orang tua yang memiliki anak.

Kehidupan rumah tangga tidaklah mudah. Apalagi jika sudah menyangkut urusan pengasuhan anak dan persoalan lain di sekitarnya. Sehingga, komentar tidak peka dari seseorang yang bahkan belum pernah memiliki anak akan terdengar sangat menyebalkan.

1. Memberi saran soal cara agar cepat langsing

Setelah melahirkan, wajar jika tubuh jadi melar. Langsung usai melahirkan bukanlah hal yang mudah. Apalagi jika sedang menjalani ASI eksklusif.

Memberi saran cara jitu agar tubuh langsung kembali kepada orang yang sudah melahirkan itu sangat tidak sopan. Apalagi jika perbandingannya adalah artis yang langsung tampak langsing usai melahirkan ataupun orang-orang yang belum pernah melahirkan sebelumnya.

Percayalah, ibu yang baru melahirkan pasti sudah berusaha untuk bisa segera langsing seperti keadaan semula. Mendengar betapa pentingnya untuk segera langsing terdengar menyakitkan dan mengurangi kepercayaan diri sebagai seorang perempuan.

2. Berkomentar soal kurangnya waktu tidur

Beberapa orang yang belum punya anak memang tidak memahami bahwa pola tidur orang tua yang baru punya anak sampai anak usia balita akan berubah.

Alih-alih bersimpati soal kelelahan yang terjadi karena kurangnya tidur, beberapa orang justru mengkritisi kantung mata yang menghitam seperti panda. Atau terus mengajak bertemu di siang hari saat Bunda dan bayi sedang istirahat.

Saat seseorang punya anak, kadang malam jadi siang, dan siang jadi malam. Tidak semua anak memiliki waktu tidur yang mudah diatur.

Terus berkomentar tentang betapa tidak sehatnya hidup begadang hanya akan membuat ibu dengan bayi merasa terganggu.

3. Komplain soal tak pernah hadir dalam acara kumpul-kumpul

Kehidupan setekah punya anak memang berubah. Entah punya baby sitter atau tidak, pikiran untuk selalu bersama anak akan lebih utama daripada kumpul-kumpul.

Komplain dan menggunjing ibu yang sedang sibuk mengasuh anak hanya akan membuat stres. Kadang, selalu bersama dengana anak saja sering membuat seorang ibu tak punya waktu untuk diri sendiri, apalagi jika harus ikut nongkrong-nongkrong seperti masa muda dulu.

Sebagai teman, ada baiknya untuk mendukung mental ibu baru agar lebih kuat menjalaninya. Kehidupan dengan anak-anak sudah sangat melelahkan. Gunjingan yang datang hanya karena jarang ngumpul-ngumpul lagi membuat keadaan makin memburuk.

4. Merasa dilupakan sebagai teman

Teman yang belum punya anak suka salah paham bahwa kehidupan rumah tangga telah membuat seorang ibu lupa pada temannya. Padahal, itu tidak benar.

Justru, banyak ibu yang ingin menjadikan sahabatnya sebagai penguat saat ia merasa lemah. Yaitu dengan memahami dan membantu saat rasa jenuh mendera.

5. Teman tersebut mengatakan bahwa Anda telah berubah

Kehidupan pernikahan memang bisa mengubah segalanya. Jika dulu, sebelum tidur Anda dan teman sering menghabiskan waktu dengan chatting maupun telponan untuk membicarakan banyak hal, barangkali ha itu tak bisa lagi dilakukan.

Belum lagi jika seorang ibu lambat dalam membalas pesan whatsapp. Biasanya, ini sering membuat temannya yang belum punya anak jadi kecewa.

Pada malam hari, seorang ibu akan sibuk untuk menidurkan anaknya, istirahat, maupun quality time bersama suami yang baru pulang kerja. Pada pagi hari, ibu sibuk dengan pekerjaan rumah. Siangnya, jika beruntung, seorang ibu akan mencuri waktu untuk istirahat sebentar.

6. Pamer

Sebagai seorang yang belum punya anak, kesempatan untuk berpergian cenderung lebih banyak daripada yang sudah punya anak. Tak ada salahnya jika ia memajang foto pikniknya di sosial media karena itu adalah hak prinadi seseorang.

Yang mengganggu adalah ketika teman tersebut terus menerus bercerita langsung pada Anda tentang betapa serunya perjalanan itu dan seolah membuat Anda merasa kurang beruntung karena tidak dapat melakukan perjalanan yang sama.

Misalnya dengan bilang, “Yah, sayang banget ya kamu tidak bisa ikut traveling kemarin. Padahal seru lho.”

7. Sok mengajari caranya mengasuh anak

Parenting adalah hal yang sulit. Kadang, beberapa artikel soal pengasuhan anak akan memunculkan kebingungan sehingga seorang ibu akan memutuskan sendiri apa pendidikan terbaik untuk anaknya.

Dikomentari orang tua lain yang punya anak soal gaya parenting saja sudah menyebalkan. Apalagi dikritisi gaya mengasuhnya oleh orang yang belum pernah punya anak hanya denan bermodal bacaan internet dan mitos terdahulu.

8. Terlalu kentara dalam hal mengasihani

Seorang teman pasti menyadari ada banyak hal yang berubah dalam diri sahabatnya. Perubahan itu kadang berupa tak sempatnya merawat diri, tak modis, tak sempat piknik, maupun jika mengalami kesulitan keuangan.

Mengasihani seorang ibu yang sedang berjuang bersama keluarganya tak akan membuat keadaan jadi baik. Bahkan, itu akan membuat mental ibu jadi tak sehat.

Jangan khawatir, walau ada banyak kesulitan yang dihadapi oleh seorang ibu, diam-diam para ibu selalu bersyukur dengan kondisi yang ada dan semuanya akan baik-baik saja.

9. Berpikiran negatif

Hanya karena ada teman yang tidak punya anak, dan ada yang punya anak, belum tentu ada pihak yang menjadikan itu sebagai prestasi maupun kelemahan.

Teman adalah teman. Apapun keadaannya, harus tetap saling menyayangi. Apapun yang terjadi, jangan ada rasa iri hati maupun permasalahan ke depan.

Semoga dengan artikel ini, teman Parents jadi sadar bahwa komentar negatif tidak akan membantu Anda untuk menjalani kehidupan rumah tangga.

 

Referensi: Romper, New Age Pregnancy, Pajiba

 

Baca juga:

10 Kemewahan Hidup yang Hanya dimengerti Ibu Rumah Tangga

 





Pernikahan