Terjebak reruntuhan bersama ibunya yang sudah meninggal, korban gempa ini selamat

lead image

Ketika ditemukan di bawah reruntuhan bangunan, Nurul berada di samping ibunya yang telah meninggal dunia. Baca juga kisah korban gempa Palu lainnya.

Indonesia sedang beduka, Jumat lalu (28 September 2018) terjadi bencana gempa Palu yang menelan ratusan korban.

Membaca, mendengar, dan menyaksikan berita terkait gempa Palu sekaligus tsunami ini, hati siapa yang tidak remuk? Membayangkan bagaimana para korban berusaha untuk selamat, kemudian melihat melihat keluarga yang disayangi tidak selamat, belum lagi dengan kisah pilu yang melibatkan anak-anak yang menjadi korban.

Informasi terbaru tersebut disampaikan Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho pada Minggu (30/9/2018) siang.

Dikutip dari Kompas.com Sutopo mengatakan banyak korban tewas diakibatkan tertimpa bangunan dan diterjang tsunami, “Update dampak bencana jumlah korban jiwa sampai siang ini pukul 13.00, total 832 orang meninggal dunia, yakni di Kota Palu 821 orang dan Donggala 11 orang.”

Kemarin, media massa dan media sosial pun sempat ramai memberitakan kisah seorang bayi yang selamat dari gempa Palu. Namun naasnya, bayi lelaki ini terpisah dari orangtuanya.

Seperti yang diberitakan oleh Detik.com, Menteri Sosial (Mensos) Agus Gumiwang Kartasasmita bercerita soal bayi yang menjadi korban selamat dari gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah. Agus mengatakan bayi tersebut ditemukan warga.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/10/bencana di palu.jpeg Terjebak reruntuhan bersama ibunya yang sudah meninggal, korban gempa ini selamat

Namun sayang, bayi ini terpisah dari orangtuanya yang sampai saat ini masih dalam proses pencarian. Bayi ini mengalami luka di kaki sebelah kanan.

“Ini salah satu korban bencana, ditemukan oleh seorang warga di got. Kemudian warga tersebut membawa bayi ini ke sini,” kata Agus seperti dilihat dari video yang diperoleh detikcom, Sabtu (29/9/2018).

Selain itu, Agus mengatakan Kemensos telah berupaya mengirimkan bantuan untuk korban gempa di wilayah Palu, Donggala, dan sekitarnya. Menurutnya, pengiriman bantuan terkendala akses jalan ke wilayah terdampak gempa dan tsunami.

Tak hanya bayi lelaki yang berhasil diselamatkan oleh warga, kisah memilukan lainnya terkait dengan kisah anak remaja yang bertahan selama 48 jam di bawah reruntuhan bangunan.

Adalah Nurul Istikharah, seorang anak perempuan berusia 15 tahun yang berhasil diselamat oleh anggota Badan SAR Nasional.

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/10/palu.jpg Terjebak reruntuhan bersama ibunya yang sudah meninggal, korban gempa ini selamat

Sesekali ia merintih kesakitan, dan meminta meminta minum pada anggota SAR menyelamatkan. Bahkan, dirinya pun sempat tak sadarkan diri.

Namun, dengan sigap, anggota Basarnas berupaya untuk membuat Nurul tetap sadar. Mereka menepuk bagian leher belakang dan memberikan minyak kayu putih.

Seperti yang diberitakan oleh Tirto, ketika ditemukan, kondisinya Nurul sudah lemas. Tangannya putih pucat.

Ketika itu, kaki Nurul terjepit beton. Seluruh tubuhnya bahkan telah tertimbun lumpur dengan genangan air yang terus membanjiri hingga leher.

Lebih menyedihkannya lagi, ketika ditemukan di bawah reruntuhan bangunan Perumahan Nasional Balaroa, Palu Barat, Kota Palu, Nurul berada di samping ibunya, Risni, 42 tahun yang telah meninggal dunia. Bau anyir jenazah sang ibu bahkan telah tercium.

Sementara ayah Nurul, Yusuf berhasil selamat. Namun kondisinya masih limbung. Ia masih tidak percaya bahwa gempa Palu telah merenggut nyawa istrinya dan anaknya yang kedua, Istiqomah yang masih berusia 13 tahun. 

“Saya menemukan anak saya tertimbun reruntuhan dan genangan air,” kata Yusuf bercerita kepada Tirto.

Ia pun semalaman menunggu Nurul yang masih tertimbun reruntuhan dan hanya tinggal kepala yang terlihat. Ia menggali lumpur bercampur serpihan tembok agar anaknya bisa selamat. Ahad dini hari, Yusuf memanggil Tim SAR. Dua jam berselang, Basarnas akhirnya mulau mengevakuasi Nurul.

Korban bencana gempa Palu dan Donggala membutuhkan bantuan

Tak hanya makanan dan air bersih, korban bencana di Palu membutuhkan kebutuhan pokok lainnya. Dikatakan Arif kepada Antara bahwa sekitar 1000 pengungsi di perbukitan Donggala Kodi, Sulawesi Tengah mengatakan bahwa banyak anaka-anak yang membutuhkan susu dan popok.

Ia pun mengatakan saat ini anak-anak terus menangis karena tidak ada susu dan belum ada toko yang buka.

Mengingat banyaknya yang mengalami luka-luka, para korban bencana pun membutuhkan berbagai obat-obatan, dan keperluan anak mandi juga diharapkan bisa segera diperoleh oleh para korban.

 

Baca juga: 

Terpisah akibat tsunami di Palu, anak-anak malang ini mencari keluarganya