Letak G-Spot perempuan tentukan kenikmatan seksual, mitos atau fakta?

Selama bertahun-tahun, banyak orang yang bertanya-tanya cara mencari G-spot perempuan dan cara G-Spot dapat dirangsang.

Sebuah studi menunjukkan bahwa mencari lokasi G-spot perempuan mungkin hanyalah sebuah mitos, dan bahwa puncak kenikmatan seorang perempuan tidak hanya terletak di G-Spot. Walaupun demikian, masih banyak orang masih berjuang menemukan titik G-Spot yang sebenarnya, dan mencari tahu  apakah memang G-Spot nyata atau tidak.

Tidak sedikit terapis seks dan pakar seksolog yang sudah menjelaskan cara mencari lokasi G-spot perempuan dan cara merangsangnya. Meskipun begitu, tetap saja titik rangsangan perempuan ini sulit ditemukan.

Mencari lokasi G-Spot perempuan

Sebutan G-Spot ini sendiri sebenarnya diambil dari nama penemunya, Grafenberg, doktert ahli kandungan asal Jerman. Ia meneliti bahwa sebenarnya ada bagian lain dari organ seksual perempuan selain klitoris yang mampu membuat wanita orgasme.

Di tahun 1950 dirinya membuat sebuah penelitian yang menyimpulkan bahwa semua perempuan sebenarnya mempunyai titik rahasia yang dinamakan G-Spot. Sejak itulah  nama bagian ini dinamai titik Gräfenberg atau Gräfenberg Spot dan disingkat G-spot.

Sayangnya, lambat laun pandangan bagimana mencari lokasi G-Spot perempuan ini kian simpang siur. Banyak yang menilai bahwa keberadaan G-Spot hanyalah mitos belaka. Benarkah?

Sebuah litelatur yang diterbitkan oleh jurnal Clinical Anatomy mencoba mengulas keberadaan lokasi G-spot. Nyatanya mereka menyimpulkan bahwa orgasme vagina maupun G-spot sebenarnya tidak ada.

Dr. Gail Saltz, profesor klinis di Rumah Sakit New York dan penulis The Ripple Effect, How Better Sex Can Lead to a Better Life kepada The Huffington Post memberikan keterangan, "Seperti kebanyakan hal-hal mengenai seks, orang menjadi sangat penasaran dan terganggu pada kedua hal tersebut. Tapi aku benar-benar tidak bisa mengatakan dari praktek klinis bahwa saya sama sekali tidak yakin bahwa G-Spot perempuan itu ada.”

Ia menambahkan, hal inilah yang akhirnya membuat banyak perempuan merasa sangat frustasi karena berusaha mencapai sesuatu yang mungkin tidak dapat dicapainya.

Baca juga : Fakta tentang orgasme wanita

Lainnya halnya dengan periset Italia Vincenzo Puppo dan Guilia Puppo, dalam ulasan mereka, keduanya menekankan pentingnya menggunakan kata-kata yang tepat saat mendiskusikan organ seksual perempuan dan kapasitasnya untuk orgasme.

G-spot perempuan

Mereka menulis bahwa apa yang disebut G-spot (sebuah kata yang mengacu pada tempat yang terletak di dalam uretra pelvis vagina tempat dirangsang) sebenarnya tidak ada.

Sebaliknya, setiap wanita mampu melakukan orgasme berdasarkan rangsangan klitoris. Mereka berpendapat bahwa kata-kata 'orgasme vagina' kurang tepat, dan idealnya diganti dengan istilah 'orgasme perempuan'.

Penelitian asli tentang G-spot ini sebenarnya didasarkan pada seorang perempuan yang 'mengidentifikasi titik sensitif erotis, teraba melalui dinding anterior vaginanya'.

Perempuan tersebut menyatakan bahwa saat daerah itu disentuh, area tersebut menjadi lebih besar. Hal ini juga menyebabkan peningkatan kepekaan, rasa nikmat, dan timbul keinginan untuk buang air kecil. Untuk itulah peneliti menyimpulkan kalau orgasme yang dialami sebagai respons terhadap stimulasi vagina, bahwa wanita klimaks murni melalui rangsangan klitoris.

Penis perempuan dan titik rangsang G-Spot

Lebih lanjut para peneliti menjelasakan bahwa anatomi yang benar dan sederhana untuk menggambarkan sekelompok jaringan ereksi (yaitu klitoris, lampu vestibular dan pars intermedia, labia minora, dan corpus spongiosum dari uretra perempuan) dan bertanggung jawab akan akan terjadinya orgasme wanita, sebenarnya dikarenakan 'penis perempuan'.

Ya, Anda memang tidak salah membaca. Konsep 'penis perempuan' memang masih belum familiar didengar. Sebenarnya, saat berbicara mengenai kenikmatan seksual, pada dasarnya, klitoris dan penis memiliki beberapa kesamaan.

Aliran darah meningkat dan menyebabkan jaringan spons yang menyebabkan seseorang orgasme. Jika mengabaikan klitoris dan menekankan G-Spot, kemungkinan itulah yang menyebabkan mengapa begitu banyak perempuan tidak mengalami orgasme.

Klitoris, tidak hanya mencuat dan terlihat jelas, tetapi seorang perempuan juga harus memahami anatomi tubuhnya sendiri, dengan melihat, mengerti, dan benar-benar mengalami.

Baru setelah itu, baru bisa mengungkapkan kepada pasangannya apa yang disukai dan membuatnya terangsang. Tentunya, cara yang nyaman bagi mereka berdua.

Penis pria sendiri tidak dapat merangsang klitoris selama hubungan seksual, oleh karena itu para peneliti menyarankan melakukan masturbasi, oral seks, atau menggunakan jari, tapi yang jelas klitoris jangan dilupakan. Tapi yang jangan dilupakan pula, pusat gairah perempuan sebenarnya secara psikologis perempuan merasa dicintai, menarik, dan aman.

Gairah perempuan dipengaruhi kondisi psikologis

Saltz juga mengatakan bahwa banyak data terbaru yang menjelaskan tentang gairah perempuan sebenarnya terkait dengan secara psikologis, bukan secara fisik. Ini tentang bagaimana seorang perempuan memiliki rasa bahwa dirinya dicintai, menarik atau merasa aman.

Lantas bagaimana dengan perempuan yang mengatakan bahwa mereka mengalami orgasme dari stimulasi G-spot? Untuk ini, Saltz mengatakan, hal tersebut sangat baik.

"Cara kita membicarakannya di masyarakat, banyak perempuan merasa bahwa [orgasme] adalah apa yang seharusnya mereka lakukan dan itu akan menjadi kesuksesan tertinggi dalam perjumpaan ini," kata Saltz.

"Tapi kebanyakan wanita melaporkan bahwa semuanya terkait dengan kedekatan; keintiman bersama; dan tentu saja, rangsangan fisik itu menyenangkan dengan sendirinya. "

Ia pun mengatakan, "G-spot adalah sebuah isu dan pasti ada orang yang merasa bahwa itu nyata," kata Saltz. Para ahli pun akhirnya membuat kesimpulan bahwa puncak kenikmatan seksual perepuan memang tidak terletak di G-Spot saja.

Setuju?

 

Artikel ini sudah dipublikasikan di theAsianParent Singapura

 

Baca juga:

id-admin.theasianparent.com/jenis-jenis-orgasme-wanita/