Fakta Penting Seputar Virus Flu Babi (Swine Flu) yang Parents Wajib Tahu

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Flu Babi atau Swine Flu (H1N1) sedang kembali mewabah di Sri Lanka, bukan tak mungkin penyakit yang sempat jadi Pandemi Global pada 2009-2010 itu kembali ke Indonesia.

Flu Babi (Swine Flu) adalah jenis penyakit musiman yang gejalanya mirip seperti flu biasa, sehingga banyak orang yang tidak tahu bahwa dirinya menderita Flu Babi hingga gejalanya menjadi parah. Flu babi disebabkan oleh virus bernama H1N1.

Mengacu pada kasus di Sri Lanka, dimana virus ini sedang kembali mewabah, kasusnya penyebarannya meningkat pada bulan Mei-Juli dan November-Januari. Virus H1N1 menyerang pasien dari semua umur. Saat ini di Sri Lanka, telah dilaporkan ada lebih dari 400 pasien yang positif terkena virus H1N1, dan dua pasien dinyatakan meninggal.

Mengacu pada laporan yang ditulis oleh Tempo, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sempat menyatakan Flu babi sebagai pandemi global pada 11 Juni 2009, karena dampaknya yang mematikan dan menyebar ke banyak negara.

Menurut data dari Kementerian Kesehatan RI, pada tahun 2009 ada 1.083 orang terkena virus H1N1 dengan jumlah pasien meninggal 8 orang. Sedangkan Di Inggris pada tahun yang sama, sebanyak 22.000 orang terkena flu babi dan 270 pasien meninggal.

Pada bulan Agustus 2010, WHO menyatakan pandemi global H1N1 berakhir, dan mulai menggalakkan modus pasca pandemi di negara-negara yang terkena wabah. Namun rupanya, virus flu babi masih terus menyebar di beberapa negara.

Contohnya pada tahun 2014 di Mesir, 44 orang meninggal dari jumlah 342 pasien yang terinfeksi virus flu babi. Dan pada tahun 2015 lalu, sebanyak 812 orang meninggal di India karena flu babi dari 13.688 kasus yang dilaporkan kementerian kesehatan di India.

Apa itu Flu Babi (Swine Flu)?

Flu Babi adalah penyakit yang menyerang pernapasan, gejalanya mirip seperti flu biasa. Namun bila terjadi komplikasi parah, bisa menyebabkan kematian.

Virus H1N1 atau sering juga disebut virus influenza A, ditemukan lebih dari 41 tahun lalu di Meksiko, dan penyebarannya pertama kali melalui kontak manusia dengan hewan babi, karena itulah penyakit ini mendapat julukan flu babi. Namun, hal ini berubah sejak beberapa tahun yang lalu ketika virus bermutasi dan dapat menyebar bahkan pada orang-orang yang tidak pernah berada dekat babi.

Disebut H1N1 karena virus ini memiliki dua antigen di permukaan yakni hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1. Karena virus ini tergolong jenis virus yang masih baru di antara manusia, maka mudah sekali menyebar, sebab imunitas tubuh manusia masih rendah dalam melawan virus H1N1.

CA Nidom, Kepala Laboratorium Universitas Airlangga menjelaskan bahwa, virus H1N1 mengalami perubahan dengan dua pola. Yakni pola adaptasi dan pola penyusunan ulang virus, pada pola penyusunan ulang virus berkembang menjadi gabungan flu babi, flu unggas, dan flu manusia.

“Pola adaptasi tidak memiliki dampak berbahaya, karena masih belum ada perubahan struktur virus,” ungkap CA Nidom seperti dikutip dari Kompas.

CA Nidom juga menambahkan, virus H1N1 keganasannya masih dibawah virus H5N1 (flu burung). “Virus H1N1 cepat menyebar, tapi daya rusaknya rendah. Sebaliknya, virus H5N1 cepat menyebar dengan daya rusak yang sangat tinggi,” ujar CA Nidom.

Siapa yang paling rentan terkena virus H1N1?

Anak-anak kecil memiliki risiko tinggi terkena virus ini, sistem kekebalan tubuh mereka yang masih lebih rendah dibandingkan orang dewasa, membuat mereka menderita gejala yang lebih parah.

Selain itu, para ahli meyakini bahwa perubahan sistem kekebalan tubuh pada ibu hamil, kemungkinan besar membuat mereka menjadi lebih rentan terkena virus H1N1.

Ibu hamil memiliki tambahan tekanan pada sistem pernafasan mereka, karena beban bayi yang berkembang di dalam kandungan. Hal ini meningkatkan risiko mereka terkena infeksi pneumonia, dan juga pengembangan komplikasi dari virus H1N1 yang menyerang saluran pernafasan.

Sistem imun rendah pada anak kecil, membuat mereka bisa terkena infeksi sekunder yang lebih parah, hingga membuat proses pemulihan lebih sulit.

Proses penyebaran virus H1N1 mirip dengan penularan penyakit flu biasa, yakni saat orang yang terinfeksi virus ini bersin kemudian virusnya menyebar di udara, dan Anda tak sengaja menghirupnya. Infeksi virus pun bisa terjadi.

Gejala penyakit Flu Babi

Gejala dari Flu Babi meskipun terlihat mirip dengan gejala influenza, namun sesungguhnya sangat berbeda. Tingkat keparahan penyakit ini berkisar pada tingkat sedang seperti flu biasa, hingga parah yang menyebabkan kesulitan pada sistem pernafasan.

Dr. Gunaratne seorang Panitera Senior, dan Prof. Manamperi Profesor di Fakultas Kesehatan Universitas Kelaniya Sri Lanka menyampaikan gejala infeksi virus H1N1 sebagai berikut. Anda harus waspada jika gejala berikut menimpa anak Anda.

  • Demam ringan hingga tinggi yang diiringi dengan batuk
  • Hidung meler
  • Kesulitan bernapas
  • Tenggorokan sakit
  • Seluruh badan terasa sakit
  • Sakit kepala
  • Lemas dan lesu

Bagi ibu hamil, gejala yang dialami akan bertambah dengan tubuh meriang, diare dan muntah-muntah.

Menurut Dr. Gunaratne dan Prof. Manamperi, flu babi juga bisa menyerang dengan hanya gejala demam tanpa terlihat ada masalah pada saluran pernapasan.

flu babi (swine flu) mewabah lagi

Demam bisa menjadi salah satu tanda bahwa anak Anda terjangkit virus H1N1.

Periode inkubasi virus H1N1 berlangsung antara satu hingga empat hari, virus ini bisa menular sehari sebelum penderita menunjukkan gejalanya. Dan masih bisa menular hingga tujuh hari setelah gejala penyakitnya terlihat.

Pada kasus penyakit sedang, gejala flu bisa sembuh dalam 3-7 hari, namun bagi mereka yang terkena infeksi serius, gejalanya bisa berlangsung hingga 10 hari.

Penanganan gejala virus H1N1

Dr. Gunaratne dan Prof. Manamperi menyarankan, bila anak atau anggota keluarga Anda yang lain mengalami gejala-gejala seperti di atas, segeralah menghubungi dokter. Tes darah akan dilakukan untuk mencari tahu apakah terdapat infeksi virus H1N1 atau tidak.

Mereka menegaskan bahwa, anak yang memiliki suhu tubuh lebih dari 100 derajat Fahrenheit (atau sekitar 37,8 derajat celcius) lebih dari 24 jam, harus segera ditangani oleh dokter, dan tidak boleh ditunda.

Anak yang menunjukkan gejala virus H1N1 yang parah seperti dehidrasi atau demam tinggi, maka ia harus dirawat di rumah sakit. Menurut ahli kesehatan dari Klinik Mayo, obat antivirus yang bisa digunakan untuk melawan flu babi adalah oseltamivir (Tamiflu).

Obat ini biasanya diresepkan pada hari pertama atau hari kedua sejak timbulnya gejala, untuk mengurangi tingkat keparahan gejala penyakit dan risiko komplikasi kementerian kesehatan RI juga menggunakan Tamiflu untuk para pasien, ketika Flu Babi mewabah di Indonesia pada tahun 2009 lalu.

Prof. Manamperi mengingatkan bahwa, Tamiflu tidak bisa dibeli sembarangan di apotek atau toko obat. Obat ini hanya bisa didapat dengan resep dokter, dan pasien memang terdaftar sebagai pasien flu babi.

Setelah risiko komplikasi diminimalisasi oleh dokter, anak yang terkena flu babi akan membutuhkan istirahat yang banyak untuk sembuh. Bila anak Anda terkena demam, pastikan ia mendapatkan perawatan yang tepat agar gejalanya tidak semakin parah.

  • Berikan dosis cukup obat penurun panas (paracetamol), setiap 6-8 jam. Selalu baca panduan pemakaian obat.
  • Usap tubuh anak Anda dengan kain basah, fokuskan pada area selangkangan dan ketiak. Jangan pernah membiarkan anak mandi dengan air dingin.
  • Hindari memakaikan baju yang terlalu tebal atau terlalu banyak selimut
waspada flu babi

Penanganan tepat saat demam, bisa mengurangi risiko komplikasi dan kemungkinan sembuh lebih besar

Anak mungkin akan kehilangan nafsu makan, namun hal tersebut normal sehingga Anda tidak perlu khawatir. Paracetamol adalah satu-satunya obat yang bisa digunakan untuk perawatan demam di rumah, jika hendak menggunakan jenis obat lain, pastikan telah melalui persetujuan dokter.

Pencegahan

Penularan virus H1N1 bisa dicegah dengan menerapkan pola hidup sehat, dan selalu menjaga kebersihan dimanapun berada. Salah satunya adalah rajin mencuci tangan, bisa menjadi langkah pertama pencegahan virus ini menular kepada Anda dan keluarga.

Selain rajin mencuci tangan, Anda juga bisa melakukan hal-hal berikut:

  • Gunakan sabun atau antiseptik saat mencuci tangan
  • Selalu tutup mulut dan hidung saat bersin atau batuk, dan buanglah tisu pada tempat sampah. Bila tisu tidak tersedia, tutupi hidung dan mulut Anda pada bagian dalam lengan.
  • Saat flu sedang musim, berusahalah menghindari tempat ramai
  • Bila anak Anda berumur lebih dari enam bulan dan sudah makan makanan padat, berikan makanan dengan kandungan antioksidan yang tinggi.
  • ASI memiliki antibodi yang sangat bermanfaat bagi bayi, dalam melawan serangan virus. Lanjutkan pemberian ASI untuk melindungi anak dari serangan virus.
  • Gunakan masker saat berada di rumah sakit, klinik atau bandara
  • Hindari mengunjungi bayi baru lahir dan bayi dibawah enam bulan jika Anda atau anggota keluarga sedang mengalami gejala flu
  • Jangan biarkan anak yang sedang sakit masuk sekolah, atau tempat penitipan anak. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan terjadi
  • Bila anak mengalami demam tinggi lebih dari dua hari, segera hubungi dokter.

Mencegah selalu lebih baik dari mengobati. Karena itu, meski belum ada laporan bahwa flu babi telah kembali menyebar di Indonesia, tidak ada salahnya berjaga-jaga.

Pastikan buah hati makan makanan sehat, dan menerapkan pola hidup bersih sehari-hari ya, Bunda.

 

 

Baca juga:

Waspada Flu Singapura, Kenali Gejala, Penyebab dan Cara Mengobatinya

 





Kesehatan