3 Faktor yang membentuk kemandirian anak-anak sekolah di Jepang

3 Faktor yang membentuk kemandirian anak-anak sekolah di Jepang

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang memang patut diacungi jempol. Apa saja faktor pendukung kemandirian anak-anak di negara asal Doraemon ini?

Anak-anak sekolah di Jepang lebih mandiri dari anak-anak dengan usia yang sama dari negara lainnya, termasuk Indonesia. Membentuk kemandirian anak-anak sekolah di Jepang bukan hal yang otomatis terjadi. Butuh waktu panjang untuk membiasakannya.

Kemandirian itu tak datang begitu saja, namun membutuhkan latihan dari orang tua, dukungan sekolah, pemerintah, dan lingkungan sekitar. Berikut ini faktor yang membuat anak-anak sekolah di jepang bisa mandiri sejak dini.

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang: Aturan dari sekolah

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang

Beberapa sekolah di Jepang melarang anak untuk diantar diantar jemput oleh orang tuanya di sekolah. Sekolah selalu menghimbau muridnya untuk menggunakan transportasi publik, sepeda, atau berjalan kaki.

Tentu saja ini butuh latihan, terutama untuk anak usia 5-6 tahun. Pada satu bulan pertama, anak-anak masih diantar oleh orang tuanya.

Sekolah juga melatih anak untuk bertanya jalan kepada orang lain, mengerti rambu-rambu, dan etika saat berada di tempat publik. Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang teruji dengan penggunaan transportasi publik dari rumah ke sekolah.

Di dalam sebuah video ini diperlihatkan, anak-anak memulai tradisi makan siangnya dengan membersihkan mejanya masing-masing sampai menyikat giginya setelah makan.

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang: Didikan orangtua

Kemandirian anak-anak sekolah di Jepang dimulai dari didikan keluarga. Pada usia 3-5 tahun, anak-anak di Jepang mulai dilatih kemandirian dengan tugas-tugas sederhana di luar tumah.

Misalnya dengan pemberian tugas belanja di sekitar rumah. Selain soal kemandirian, anak-anak dilatih untuk bertanggung jawab mengelola uang.

Saat anak-anak mulai memasuki usia sekolah TK dan SD, mereka diajari untuk menata sendiri keperluan sekolah mereka. Mereka juga mulai belajar mengenai berbagai jenis transportasi publik, etika menyeberang, dan cara mengatasi masalah ketika tersesat di jalan.

Lingkungan

cari tau Sebelum Membeli Tas Sekolah Anak Memilih-Tas-Ransel-yang-Tepat-untuk-Anak

Dengan adanya anak-anak di seluruh jalanan Jepang, pemerintah berkomitmen untuk menciptakan ruang publik yang aman untuk anak. Lingkungan sekitar juga menciptakan beragam fasilitas dan atmosfer yang ramah anak.

Dalam video ini diperlihatkan bahwa toko daging pun menyediakan permen untuk anak-anak yang sedang belajar berbelanja. Lingkungan sekitar sudah terbiasa melihat anak-anak berjalan sendirian tanpa orang tuanya.

Atas dukungan dari pemerintah, lingkungan setempat juga berusaha untuk memasang rambu-rambu yang mudah dimengerti anak-anak. Apalagi, ada batasan jarak yang ditentukan oleh pemerintah agar anak SD tak bersekolah di tempat yang jauh.

Menurut Departemen Keamanan Amerika, Jepang adalah salah satu negara yang tingkat kriminalitasnya jauh lebih rendah dari Amerika. Hal itu memungkinkan orang tua percaya diri untuk mengirim anaknya berangkat sekolah sendirian.

Itulah faktor yang membuat kemandirian anak-anak sekolah di Jepang terbentuk. Semoga suatu hari, pemerintah, sekolah, lingkungan sekitar dan orangtua di Indonesia bisa mengadopsi cara ini agar anak-anak jadi lebih mandiri ke depannya.

Parents juga bisa ajarkan kemandirian kepad anak dengan cara sederhana

3 Faktor yang membentuk kemandirian anak-anak sekolah di Jepang

Bgai Parents yang ingin memiliki anak yang mandiri seperti anak-anak di Jepang, Parents bisa kok mengajarkan kemandirian pada anak dengan cara sederhana.

  • Beri anak beberapa tugas untuk dilakukan

Memberikan tanggung jawab akan membuat anak-anak lebih mandiri dibanding teman temannya yang tidak terbiasa melakukan tugas. Contoh tugas tersebut termasuk merapikan tempat tidur mereka, membersihkan kamar mereka, mencuci piring, memberi makan kucing, atau membuang sampah.

Sesuaikan tugas tersebut dengan usia anak. Paling penting, jangan biarkan anak dibantu sepenuhnya dalam melaksanakan tugas mereka, tanpa memberinya tanggung jawab sedikitpun. Hal ini dikhawatirka akan membuat anak kesulitan mengemban tanggung jawab nantinya.

  • Biarkan anak mencoba melakukan hal-hal baru

Biarkan anak Anda mencoba membaca buku sendiri, atau biarkan anak mengikat tali sepatu sendiri. Awasi upaya mereka, dan jika mereka tampaknya benar-benar berjuang, tanyakan apakah mereka membutuhkan bantuan.

Jika anak mengatakan bahwa dirinya tidak membutuhkan bantuan, maka Parents bisa membiarkan mereka terus berusaha sampai mereka berhasil atau menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan dan memintanya.

  • Ajari anak untuk memecahkan masalah secara mandiri

Saat anak menghadapi masalah terkait sekolah atau masalah dengan saudara atau teman, beri tahu anak Anda bahwa masalah tertentu harus diselesaikan oleh dirinya sendiri. Berikan saran kepada anak berdasarkan perspektif Anda tentang situasi ini, dan biarkan anak mengambil keputusan.

Referensi: Essential Kids, Nippon, City Lab

Baca juga:

Parents ingin anak mandiri sejak dini? Beragam cara berikut bisa Anda ikuti

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner