8 Fakta Dibalik Kebiasaan Anak Balita yang Suka Menyakiti Diri Sendiri

Beberapa balita memiliki kebiasaan untuk menyakiti diri sendiri, terutama jika ada hal yang yang membuatnya jengkel. Normalkah hal tersebut?

Parents, pernahkah melihat anak balita Anda menyakiti dirinya sendiri? Misalnya, ia membenturkan kepalanya sendiri ke dinding maupun lantai sambil menangis, menjambak rambutnya sendiri, tantrum, mencakari pipinya, hingga memukul-mukulkan tangannya ke anggota tubuhnya sendiri hingga kesakitan.

Beberapa ahli memang menghubungkan kebiasaan menyakiti diri sendiri pada balita sebagai tanda autisme pada anak. Namun, beberapa pendapat menyatakan bahwa perilaku tersebut disebabkan oleh adanya infeksi telinga maupun alergi.

Namun, jangan khawatir, beberapa ahli juga memiliki pendapat bahwa menyakiti diri sendiri adalah perilaku yang masih wajar. Terutama di saat anak sangat emosional maupun marah sehingga ia masih bingung untuk mengungkapkan perasaannya. Apalagi kosa kata balita tersebut masih sangat terbatas.

Bacaan terkait: Penyebab dan cara mengatasi anak tantrum.

Seperti halnya orang dewasa, anak pun kadang mengalami tekanan mental yang berat pada levelnya. Sehingga, kebiasaan menyakiti dirinya sendiri tersebut merupakan tanda bahwa balita juga merasakan tekanan psikologis itu lebih menyakitkan dari sakit fisik.

Simak beberapa fakta tentang anak yang menyakiti diri sendiri berikut:

1. Gerakan yang anak lakukan cenderung dinamis dan cepat

Balita mampu mengguncangkan kepalanya hingga 60-80 kali per menit saat tantrum terjadi. Hal ini biasanya disertai dengan tangisan maupun teriakan putus asa darinya.

2. Membuat tubuh lebih rileks

Peneliti menyatakan bahwa balita mengeluarkan neurotransmitters saat mengguncang maupun membenturkan kepalanya. Zat tersebut dapat membuat perasaannya lebih tenang dan santai.

3. Mengalami kebuntuan bahasa dan berekspresi

Balita mengguncangkan kepalanya karena ia tak tahu caranya berkomunikasi. Keterbatasan bahasa membuat ia sering tak tahu cara menyampaikan maksudnya. Ia akan langsung kesal ketika orang dewasa gagal menangkap maksudnya.

4. Mencari perhatian

Menyakiti diri sendiri pada balita kadang jadi salah satu cara untuk mendapatkan perhatian orang tuanya. Apalagi setelah ia merasa bahwa menangis maupun berteriak saja tidak cukup untuk mendapatkan perhatian orang tuanya.

5. Tak selalu normal

Walau banyak yang menyatakan bahwa menyakiti diri sendiri masih masuk dalam kategori normal, dalam beberapa kasus, hal itu bisa jadi tanda bahwa ada masalah dalam perkembangannya. Gejalanya perlu diteliti lebih jauh lagi oleh psikolog maupun dokter anak.

6. Disengaja

Sekitar 10-20% bayi dan balita membenturkan kepalanya sendiri dengan sengaja karena ingin mencapai tujuan tertentu. Beberapanya lagi memang tak memiliki kemampuan untuk mengontrol dirinya sendiri agar tak lukai diri sendiri.

7. Balita lelaki lebih sering melakukannya

Perbandingan balita lelaki dan perempuan yang menyakiti dirinya sendiri adalah 3:1. Dengan kata lain, balita lelaki memiliki potensi lebih besar untuk menyakiti diri sendiri daripada balita perempuan.

8. Batasan usia normal dalam menyakiti diri sendiri

Usia anak yang suka menyakiti dirinya rata-rata berkisar antara 16 bulan sampai 2 tahun. Rata-rata, anak usia 3 tahun mulai meninggalkan kebiasaan menyakiti dirinya sendiri. Segera konsultasikan ke dokter anak jika anak masih sering mengamuk dengan menyakiti dirinya sendiri saat usianya 3 tahun ke atas.

Jika anak memiliki kecenderungan untuk menyakiti dirinya sendiri, maka ia perlu mendapat pendampingan khusus terutama ketika ia sedang melakukan hal tersebut. Karena, luka yang ia dapat akan berakibat fatal untuknya.

Sebelum memutuskan untuk berkonsultasi ke dokter maupun psikolog mengenai kebiasaan menyakiti diri sendiri ini, ada baiknya Parents telah memiliki jurnal khusus yang mencatat penyebab, durasi, dan hal apa yang anak lakukan saat ia mengamuk.

Jika kebiasaan menyakiti diri tersebut berlanjut hingga usia di atas 3 tahun lebih, maka terapi dan kasih sayang orang terdekat adalah solusinya. Karena, jika kebiasaan tersebut berlanjut sampai ia dewasa, maka ia kemungkinan menderita gejala penyakit mental yang membahayakan dirinya sendiri.

 

Referensi: Baby Centre, Parents, Scholastik, Chabad.

Baca juga:

Anak Mengamuk di Tempat Umum