5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat

5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat

Inilah berbagai hal unik dari anak-anak pedalaman suku Baduy meski tak mengenyam pendidikan formal.

Di masa pandemi, anak-anak usia sekolah harus menjalani pendidikan di rumah secara daring. Namun, bagaimana dengan nasib anak-anak yang tinggal di pelosok Indonesia?  Terkait dengan akses pendidikan dan kehidupan keseharian. Berikut ini ada beberapa fakta anak-anak Suku Baduy tentang akses pendidikan yang mereka dapati di lingkungan adat tersebut.

Artikel Terkait : Perkembangan anak 4 tahun 11 bulan, anak mulai bisa ceritakan pengalamannya sendiri

Fakta anak-anak suku baduy

5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat

Ada beberapa fakta mengenai anak-anak suku Baduy, khususnya terkait dengan pendidikan, apa saja ya Parents?

1. Tidak menjalani pendidikan formal

Anak-anak yang hidup di pedalaman Lebak tersebut sebagian besar tidak memiliki akses untuk menjalani pendidikan secara formal, seperti anak lainnya. Hal ini berkaitan erat dengan adat istiadat yang sudah secara turun temurun dijalankan.

Sudah Suhadi, Budayawan Banten yang akrab disapa Uday ini mengungkapkan bahwa anak-anak di Suku Baduy memiliki pola pendidikan sendiri dan tak mendapatkan pendidikan formal. Tata krama dalam kesehariannya, pada diri, keluarga, dan orang lain di kuat suku lah yang mencerminkan pola pendidikan tersebut.

Menurut Uday, anak-anak Baduy tumbuh dan berkembang dengan didikan dan tradisi lisan. Dalam budaya Baduy, tidak ada satu pun aturan dalam hidup yang tertulis. Contoh sederhananya ialah kebiasaan saat mereka berjalan rapi dengan cara berbaris agar tak menghalangi jalan orang lain.

Artikel Terkait : Sejauh mana faktor keturunan pengaruhi perkembangan anak? Ini penjelasan para ahli

2. Fakta anak-anak Suku Baduy: Terdidik secara lisan dan keteladanan

Fakta anak-anak suku baduy

Suku Baduy secara turun temurun mengajarkan etika kehidupan melalui lisan dan terinternalisasi dari generasi ke generasi.

Masyarakat Baduy memiliki nilai dalam keseharian yang dianut erat dan diturunkan dari generasi ke generasi. Nilai-nilai tersebut diajarkan secara lisan dan melalui contoh atau keteladanan.

Menurut Uday, tradisi lisan ini memiliki keunggulan berupa keteladanan. Masyarakat terbiasa secara langsung menyaksikan leluhur dalam bersikap dan beraktivitas dalam keseharian.

Nilai-nilai kesederhanaan pun senantiasa diajarkan oleh masyarakat dan diturunkan pada generasi penerus. Akhirnya, nilai-nilai keteladanan tersebut pun terinternalisasi hingga saat ini.

Artikel Terkait : Perkembangan sosial anak jauh lebih penting ketimbang nilai A, ini alasannya!

3. Fakta anak-anak Suku Baduy: Mayoritas bisa membaca dan menulis

Masyarakat Baduy memang tidak mengenyam pendidikan secara formal. Namun, hampir semua anak-anak Baduy kini sudah bisa membaca dan menulis.

Menurut Uday, hal ini didukung oleh kemajuan teknologi seperti smartphone yang dimiliki oleh generasi milenial Baduy. Khususnya Baduy luar, mereka yang memilikinya punya akses lebih untuk melatih kemampuan membaca dan menulis.

4. Ada perubahan sosial, tapi berjalan lambat

Fakta anak-anak suku baduy

Suku Baduy tetap mengenal perubahan sosial, namun hal tersebut berlangsung cukup lambat.

Penanaman nilai mengenai aturan hidup dengan keteladanan akhirnya membentuk identitas diri bagi anak-anak Baduy. Dalam budaya mereka, ada satu istilah yang menjadi pegangan hidup dalam keseharian.

Falsafah hidup tersebut ialah ‘lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung’ yang maknanya hiduplah dengan kejujuran dan kesederhanaan. Inilah yang rupanya menjadi dasar bagi kehidupan masayarakatnya.

Perubahan sosial tetap ada dan tidak dianggap sesuatu yang dilarang, selama tak bertentangan. Namun, memang perubahan yang dialami relatif lebih lambat, khususnya di Baduy Dalam.

Artikel Terkait : 7 Trik pilih tontonan berkualitas untuk si kecil, Parents jangan sampai keliru

5. Teknologi jadi pisau dua mata sisi

5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat

Bagi masyarakat, teknologi canggih bagaikan dua bilah mata pisau ang bisa berdampak positif maupun negatif.

Salah satu bentuk perubahan sosial yang nyata dialami oleh masyarakat Baduy ialah perkembangan teknologi. Teknologi sendiri bagai dua sisi mata pisau, bisa berdampak positif maupun negatif.

Misalnya saja lembaga adat menjadi sulit untuk mengontrol konten yang dilihat dan dibaca para generasi muda

Namun, perubahan sosial itu juga ada yang positif dan negatif. Misalnya dari kemajuan teknologi, yang negatif diantaranya soal sulitnya lembaga adat mengontrol konten apa yang dilihat dan dibaca para generasi muda melalui medsosnya.

***

Itulah beberapa fakta dari kehidupan anak-anak suku Baduy. Semoga informasi di atas bisa bermanfaat.

Artikel Terkait : Hati-hati, ini 7 tanda anak kecanduan menonton TV

Baca Juga :

Akibat Pandemi, Hari Anak Nasional 23 Juli 2020 Diperingati secara Daring

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner