Hasil Survei: Dokter Sering Meresepkan Obat yang Tidak Diperlukan Pasien

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Survei di Amerika Serikat yang diterbitkan secara online pada bulan desember lalu menyatakan dokter sering memberi resep obat yang tidak diperlukan pasien.

Dokter seringkali meresepkan antibiotik dan obat bius yang sebenarnya tidak diperlukan dan malah kurang baik bagi pasiennya, inilah yang ditemukan oleh hasil survei terbaru di Amerika Serikat.

Survei tersebut menanyakan kepada para dokter, perawatan apa yang biasa mereka berikan pada pasiennya. Hasilnya, penggunaan berlebihan pada antibiotik menempati posisi teratas, 27% dokter yang ikut survei ini mengenalnya sebagai masalah yang umum terjadi.

7.3% dokter meresepkan obat anti nyeri dan obat bius seperti opioid dan narkotik untuk sakit kronis sebagai bentuk perawatan bernilai rendah.

Dr. Amir Qaseem, Wakil Presiden dari Divisi Kebijakan Klinis di American College of Physicians menyatakan, “Kita perlu berkonsentrasi untuk memberikan perawatan bernilai tinggi.”

Dr. Amir yang memimpin survei ini juga menyampaikan bahwa persoalan ini bukan hanya masalah uang, tapi menimbang dari segi baik dan buruknya juga.

“Sebagai contoh, perawatan penyakit HIV sangat mahal. Namun bukan berarti mutu perawatan menjadi rendah, karena perawatan tersebut efektif,” Dr. Amir menambahkan. “Antibiotik bisa jadi sangat murah, tapi obat tersebut bisa bernilai rendah karena biasanya tidak dibutuhkan.”

Dr. Amir Qaseem dan timnya mempublikasikan hasil survei online yang mereka lakukan terhadap 1.582 orang dokter di Annals Of Internal Medicine pada 5 Oktober.

Para dokter yang mereka survei jarang sekali menawarkan perawatan yang bernilai tinggi. Perawatan yang berlebihan pada pasien dengan kesempatan hidup rendah diidentifikasi sebagai masalah oleh 8.6 % partisipan survei.

Perawatan yang berlebihan ini termasuk pada penggunaan alat-alat penunjang kehidupan, dan juga perawatan untuk memperlambat proses penyebaran penyakit mematikan. Seperti kemoterapi untuk pasien kanker.

Hal ini juga terjadi pada perawatan penyakit diabetes dan serangan jantung. Penggunaan berlebihan biphosphonates untuk penyakit osteoporosis dan pengaturan yang tidak benar terhadap pengendalian tekanan darah.

Dr. David Levine, seorang peneliti di Harvard Medical School yang tidak terlibat dalam survei ini menyatakan, “Para dokter yang melenceng dari panduan yang direkomendasikan bisa jadi memiliki alasan yang bagus untuk melakukannya.”

“Panduan medis yang ada bisa saja tidak bisa diaplikasikan pada pasien yang sedang mereka tangani, atau mereka tidak menyadari bahwa rekomendasi terbaru menyarankan mereka untuk melakukan hal yang berlawanan dengan apa yang mereka pelajari di sekolah kesehatan,” tambah Dr. David.

Survei ini memang dilakukan di Amerika, namun tidak menutup kemungkinan bahwa para dokter di Indonesia juga melakukan hal yang sama. Oleh karena itu, kita sebagai pasien tidak perlu malu untuk bertanya pada dokter saat dia menyarankan metode perawatan tertentu atas sakit yang sedang kita alami.

Anda bisa menanyakan dengan rinci tentang perawatan yang ia rekomendasikan, tingkat resiko dan keberhasilannya, apakah metode tersebut sudah pernah dipakai oleh orang lain, dan mengapa ia merekomendasikannya untuk Anda.

Dengan begini, Anda akan memperoleh informasi yang lengkap mengenai perawatan yang akan dilakukan kepada Anda. Bertanya pada dokter bukan berarti Anda tak percaya padanya, tapi Anda perlu yakin bahwa perawatan yang ia rekomendasikan memanglah tepat dan terbaik untuk Anda.

Referensi: huffingtonpost.com, newsreality.com, newslocker.com

Baca juga:

Peringatan CDC: Jangan Minum Antibiotik untuk Penyakit yang disebabkan oleh Virus

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Kesehatan