Tini Djajadi- Memperjuangkan Kesetaraan Hak Penyandang Disabilitas

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Kisah inspiratif tentang penyandang disabilitas yang aktif memperjuangkan kesetaraan hak para disabilitas dalam masyarakat.

Penyandang disabilitas, dirimu istimewa, Nak

Aku tak ingat kapan aku pernah berlari dengan lincah. Ujar ibu, aku pernah menjadi anak yang aktif bergerak ketika berumur 2 tahun. Sebelum penyakit polio menyerang dan melumpuhkan kedua kakiku.

Poliomielitis atau polio yang menyerangku, disebabkan oleh virus poliovirus (PV) yang masuk  ke dalam tubuh melalui mulut dan menginfeksi saluran usus. Serangan virus itu menyebabkan aku mengalami demam tinggi hingga beberapa hari. Efeknya baru terasa ketika demam telah usai. Pada saat itu, virus telah memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat, mengakibatkan aku tak bisa menggerakkan kedua kakiku lagi.

Di saat aku mulai mengerti, aku disergap pertanyaan demi pertanyaan yang membuat aku merasa letih. Mengapa aku berbeda dengan teman-temanku? Mengapa aku tidak bisa berlari dan bergerak seperti orang lain? Mengapa aku tak bisa menari? Mengapa harus aku yang mengalami nasib seperti ini?

Aku merasa menjadi orang hukuman, tanpa mengetahui kesalahan apa yang telah kuperbuat. Hal ini membuat aku mulai mempertanyakan keadilan Tuhan.

Beruntung, aku memiliki keluarga yang luar biasa. Orangtua, terutama ayah, juga saudara-saudaraku tidak pernah membiarkan aku berlarut –larut dalam kesedihan dan rasa putus asa.

Mereka selalu berusaha membangkitkan semangat dan menumbuhkan rasa percaya diriku dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menggelisahkan itu dengan memberikan jawaban yang menentramkan. “Karena dirimu istimewa, Nak.” jawab ayahku.

Adakah jawaban yang lebih melegakan dari itu? Kesadaran pun muncul dengan melihat jerih payah orangtua ketika mengupayakan memberikan pengobatan terbaik bagiku, hingga aku bisa bisa berjalan meski pun tidak sebagaimana mestinya.





Berita