Didoktrin Orang Tua, Anak Usia 7 dan 9 Tahun ini Jadi Pelaku Bom Bunuh Diri

Dalam perang, anak-anak dan perempuan seringkali jadi korban yang paling dirugikan. Kali ini, justru anak-anak yang dijadikan pelaku bom bunuh diri.

Hari itu adalah Desember yang dingin di Damaskus. Gadis kecil usia 7 tahun dengan pakaian hangat berjalan ke pos polisi di kota Damaskus, Syria. Tak lama kemudian, bom bunuh diri meledak dari tubuh si anak yang kemudian hancur hingga tak berbentuk.

Sebuah bom yang dapat diledakkan dengan remot kontrol telah tertanam di tubuhnya. Sebuah video memperlihatkan saat-saat terakhirnya bersama kakak dan orang tuanya.

Di dalam video tersebut, seorang wanita dengan burka hitam memeluk kedua putrinya. Kedua anak yang dipeluk itu bernama Islam (7 tahun) dan Fatima (9 tahun).

Ibu tersebut mengucapkan kalimat-kalimat yang memotivasi mereka agar lebih berani melakukan aksi bom bunuh diri. Apalagi, ia menyebut-nyebut mengenai janji surga pada anaknya.

"Ketika kita bicara mengenai jihad, maka usia berapapun tak masalah," jawabnya saat ditanya oleh kemeramen soal apakah anak-anak tersebut masih terlalu muda untuk melakukan bom bunuh diri.

Ibu ini juga berharap semoga Tuhan menerima pengorbanan anak-anaknya yang menjadi pelaku bom bunuh diri.

Seorang lelaki yang diduga sebagai ayah dua gadis kecil ini pun tak jauh berbeda. Dalam tayangan tersebut terlihat bahwa ia juga telah mendoktrin anaknya agar tidak takut melakukan aksi bom bunuh diri tersebut.

Dalam kejadian bom bunuh diri tersebut, kantor berita Al Watan melaporkan bahwa tanggal 17 Desember lalu, seorang gadis kecil menggunakan sweater mendekat ke arah kantor polisi. Gadis yang belakangan diidentifikasi bernama Islam itu izin kepada polisi untuk menggunakan toilet.

Sesaat kemudian, bom tersebut hancur. Korban dari ledakan bom bunuh diri tersebut adalah 3 orang polisi yang jaraknya sangat dekat dengan Islam.

Aksi ini banyak mendapat kritikan dari masyarakat luas karena menggunakan anak-anak mereka sendiri dalam aksi-aksi terorisme. Banyak orang menyebut bahwa kedua anak ini memang "dicuci otak" oleh kedua orang tuanya.

Video kamera terlihat bahwa ayah ini duduk di depan lambang bendera hitam Jabhat Fateh al-Sham. Organisasi ini dulunya bernama Jabhat Al Nusra, sebuah organisasi militan pemberontak pemerintah Syria.

Sekalipun jadi pemberontak pemerintah Syiria dan melaksanakan aksi-aksi terorisme, organisasi ini  tidak berafiliasi dengan ISIS maupun Al Qaeda. Namun, mereka seringkali menggunakan cara-cara yang sama pada saat melakukan aksi terorisme.

 

 

Referensi: Daily Mail, Al Arabi, Homes Purivine.

Baca Juga:

Rumah Sakit Anak Terakhir di Aleppo Hancur diserang Bom, Bayi-bayi Prematur dikeluarkan dari Inkubator