Anak kedua Chua Kotak alami dermatitis seboroik, berbahayakah?

Anak kedua Chua Kotak alami dermatitis seboroik, berbahayakah?

Berikut ini penyebab dan cara mengatasi dermatitis seboroik pada bayi, menurut dokter kulit.

Dermatitis seboroik pada bayi umumnya akan muncul beberapa bulan setelah bayi dilahirkan. Tidak sedikit orangtua yang merasa panik dan khawatir melihat perubahan kulit pada si kecil.

Setidaknya, kondisi inilah yang tengah dirasakan musisi Swasti Sabdastantri atau yang lebih dikenal dengan panggilan Chua ‘Kotak’ melihat kondisi putri keduanya, Shakilla Sabdasakhi Putri Firmansyah yang masih berusia dua bulan. 

Dalam akun Instagram miliknya, ia mengaku panik saat melihat ada bruntus kecil pada wajah Shakilla, yang merupakan gejala dermatitis seboroik. 

“Lagi galau sama kulit Shakilla yang mendadak bruntusan merah dan jadi kering kayak koreng.. panik setengah mati,” tulis Chua di Instagramnya, @chuakotak.

Artikel terkait: 12 Penyakit Kulit yang Sering Menyerang Anak-Anak

Dermatitis seboroik pada bayi

“Jadi Shakilla dahinya itu bruntusan terus jadi kaya koreng gitu. Panik dong mamak. Alhamdulillah Dokter bilang kalau ini namanya Dermatitis Seboroik. Ini adalah bawaan sisa hormon selama hamil dan nggak kenapa-kenapa kok. Disaranin dipakein baby oil aja. Nanti hilang sendiri. Fiuh… legaa,” lanjut Chua.

Apa itu dermatitis seboroik pada bayi?

Dermatitis seboroik atau cradle cap, merupakan peradangan kronis pada kulit kepala dan tubuh bayi yang baru lahir. Terkadang, dermatitis seboroik juga bisa mengenai daerah wajah, punggung, dan dada. 

Apa penyebabnya? 

dr. Adhimukti T. Sampurna, Sp.KK, FINSDV, Chief Medical and Ancillary Service Officer Bamed Health Care, menjelaskan bahwa kondisi ini bisa dikarenakan sisa hormon ibu dalam tubuh bayi.

“Kalau bayi muncul seboroik bukan karena bayinya, karena bayi tidak punya hormon yang memicunya. Tapi bayi bisa terkena seboroik karena sisa hormon dari ibunya,” kata dr. Adhimukti yang ditemui dalam acara Seminar Media Bamed Skin Care belum lama ini.

Saat bayi dalam kandungan, ia terkoneksi dengan sang ibu selama 9 bulan. Sehingga masih ada hormon ibu yang berada di darah bayi sampai kira-kira usia satu tahun. 

Dikatakan olehnya, gejalanya bisa muncul pada beberapa area tubuh seperti kulit kepala, alis, lipatan hidung, kelopak mata, bibir, dan ketombe berwarna kuning atau kecokelat-cokelatan. 

Terkadang gejala ini terasa gatal, bila digaruk berlebihan dapat mengakibatkan radang, infeksi bahkan berisiko membuat peradangan kulit. 

Artikel terkait: Wajib tahu! 3 jenis kulit bayi dan cara tepat merawatnya

Pengobatan dermatitis seboroik

Jika Parents menemukan kondisi dermatitis seboroik seperti halnya Chua, dr. Adhi mengatakan penanganannya bisa dilakukan tanpa resep dokter atau hanya menggunakan baby oil atau cream wajah bayi. Hal ini jugalah yang yang dilakukan Chua.

Akan tetapi, cara mengatasi dermatisis seboroik ini juga perlu memerhatikan seberapa parah kondisinya. 

“Ada dermatitis seboroik pada bayi yang berat, seperti penyakit Leiner bisa seluruh badan kena, kalau itu memang harus ditangani oleh dokter. Tapi kalau yang ringan-ringan saja seperti ketombe, gatal-gatal di tubuh, cukup pakai cream saja,” tegas dr. Adhimukti.

Ditambahkan dr. Adhi, jika kondisinya tidak membaik dalam kurun waktu yang lama, sebaiknya Parents jangan menunda untuk segera  melakukan pemeriksaan ke dokter. 

Semoga bermanfaat!

Referensi: Instagram Chua KotakKlinik dr. Tiwi

Baca juga: 

Chua Kotak melahirkan anak kedua, ini nama dan potret bayinya yang lucu!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner