Depresi Jelang Persalinan

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Depresi jelang persalinan seringkali menimbulkan ketidaknyamanan baik bagi ibu maupun bayi. Christina Rutherford berbagi cerita jelang persalinan putri pertamanya dengan theAsianparent

depresi jelang persalinan

depresi jelang persalinan kerap melanda Ibu hamil

Depresi jelang persalinan kerap melanda wanita hamil di usia kehamilan memasuki trimester 3. Pada dasarnya setiap wanita berharap untuk bisa tampil tetap ceria selama kehamilan-nya. Namun kebanyakan yang terjadi adalah depresi yang melanda jelang persalinan atau lebih dikenal dengan istilah ‘antenatal depression’. Christina Rutherford berbagi kisah persalinannya melalui theAsianparent.

Bisa dibayangkan bagaimana saat seorang wanita hamil sedang dilanda depresi dan tidak mau berbagi kepada siapapun hingga berpikir untuk menggugurkan kandungan. Yang dipikirkan adalah bagaimana agar janin yang dikandung bisa segera gugur. Mengetahui kondisiku seperti itu, keluargaku berusaha mencari bantuan untuk mengatasi masalahku. Aku akhirnya memutuskan untuk menelpon Dokter. Dia berikan resep obat anti depresan, yang sangat membantu menenangkan pikiranku.

Namaku Christina Rutherford, usia 24 tahun. Kehamilanku berjalan normal dan baik-baik saja. Namun aku mengalami sindrom depresi jelang persalinan sejak kehamilanku memasuki bulan ke-tujuh.

Saat mengetahui kehamilanku, aku dan AD suamiku begitu bahagia menyambut calon bayi kami. Kami mulai menyiapkan segala sesuatunya sejak awal. Aku juga telah menyiapkan kamar bayi-ku saat usia kehamilanku memasuki usia 8 bulan. Namun pada hari-hari jelang persalinan, aku merasakan kecemasan yang berlebihan mengingat ini adalah pengalaman pertamaku. Aku merasa gugup membayangkan proses persalinan.

Aku diinduksi pada 9 September 2007, pukul 5:30 pagi. Dokter memberitahukan bahwa jika aku tidak segera di-induksi (saat itu sudah mendekati minggu ke-39) aku mungkin tidak akan mampu mendorong bayinya keluar padahal janin yang kukandung sudah cukup besar (kami mengharapkan bayi dengan berat 4 kg).

Ketika ia menginduksi-ku, aku telah mengalami pembukaan dua. Empat jam kemudian hanya bertambah menjadi 2.5. Aku hanya bisa bertanya-tanya, apakah obat itu benar-benar bekerja? Sampai pukul 10 malam, air ketubanku pecah. Aku mengalami kontraksi setiap 3 sampai 4 menit sekali. Kontraksi ini terasa begitu cepat datang dan cukup menyakitkan.

Sekitar pukul 3:30 keesokan harinya, aku masih mengalami pembukaan empat dan mendapat suntikan epidural. Sore itu sekitar pukul 06.00  Dokter datang dan menyampaikan bahwa detak jantungku dan janinku tidak normal sehingga Dokter harus memasukkan monitor internal untuk memeriksa bayiku. Jam 06:30, ia memberitahuku bahwa suhu badan kami naik hingga hampir 39 derajat celcius. Tekanan darahku melonjak melewati  batas ketentuan. Detak jantung bayiku menurun setiap aku mengalami kontraksi. Ditambah dengan kenyataan bahwa aku hanya sampai pada pembukaan lima, akhirnya Dokter memutuskan untuk melakukan operasi Cesar.

Dua hal yang paling aku khawatirkan saat itu adalah kondisi bayiku dan kenyataan bahwa epidural sama sekali tidak berguna! Jadi mereka harus segera memberikan aku anestesi total. Saat memasuki ruang operasi aku diberikan tiga dosis suntikan. Setelah suntikan terakhir dianggap telah merasuk, mereka mulai proses pembedahan dan aku merasakan semuanya.

Suamiku, yang sudah panik sedari tadi, menjadi semakin panik lagi saat mendengar penjelasan Dokter. Saat proses persalinan, diketahui bahwa tali pusatnya melilit leher dan kakinya. Tapi bayi kami lahir dalam kondisi yang sehat. Kami berdua diinfus anti-biotik setiap enam jam sekali selama empat hari. Sampai akhirnya kami diijinkan pulang ke rumah.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 2001 oleh Dr Jonathan Evans di Universitas Bristol, sekitar sepuluh persen wanita mengalami beberapa bentuk depresi selama kehamilan. Salah satu diantaranya adalah depresi jelang persalinan. Jika Anda merasakan suasana hati yang buruk, konsultasikanlah dengan Dokter Anda atau seseorang yang bisa Anda percaya. Dokter mungkin bisa menyarankan bentuk-bentuk bantuan seperti konseling. Jika depresi yang Anda alami agak parah, mereka mungkin akan memberikan dosis antidepresan yang aman untuk dikonsumsi selama kehamilan dan jelang persalinan.

Ingin berbagi cerita kelahiran Anda? Kirim e-mail dengan cerita dan gambar Anda di [email protected] Harap cantumkan nama Anda dan alamat lengkap disertai cerita Anda.

Share on Facebook atau G+ jika Anda merasa aritkel ini bermanfaat. Join Komunitas Keluarga Indonesia di G+ untuk mengikuti update info dari kami dan berdiskusi dengan para Keluarga Indonesia

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Hamil