Kenali Tanda Dehidrasi pada Bayi dan Cara Menanganinya ini Sebelum Terlambat

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Dehidrasi pada bayi bisa sangat berbahaya, bila dibiarkan terlalu lama, bayi bisa mengalami komplikasi yang mengancam nyawanya. Kenali tanda dan cara mencegahnya berikut ini.

Dehidrasi pada bayi harus diwaspadai karena bisa memicu komplikasi kesehatan, seperti penyakit kuning, hingga kerusakan otak. Orangtua harus ekstra cermat mengenali setiap perubahan pada tubuh bayi, terutama bayi baru lahir yang sistem imunnya masih rendah.

Artikel terkait: Cerita dari Ibu yang Menyesal Setelah Bayinya Meninggal Karena Dehidrasi

Lambung bayi masih sangat kecil bila dibandingkan dengan orang dewasa, mereka pun membutuhkan lebih sedikit cairan untuk tubuh mereka. Namun karena metabolisme yang cukup tinggi, sehingga bayi perlu untuk sering menyusu dan buang air secara simultan.

Bayi mendapatkan semua cairan yang ia perlukan dari ASI, namun jika bayi terpapar suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin, dia bisa kehilangan cairan lebih cepat. Begitupun jika dia mengalami diare atau muntah-muntah, bayi bisa mengalami dehidrasi dengan cepat.

Dehidrasi yang terjadi pada bayi bisa ringan dan mudah disembuhkan, sedang, hingga berat dan mengancam nyawa. Untuk itu kenali tanda-tandanya sebelum terlambat.

Tanda-tanda bayi dehidrasi

Seperti ditulis oleh laman What To Expect, ada beberapa tanda dehidrasi pada bayi yang bisa dikenali orangtua. Dengan mengenali tanda-tanda ini, orangtua bisa melakukan tindak pencegahan, juga melakukan penanganan yang tepat pada bayi.

Dehidrasi pada bayi bisa disebabkan oleh banyak hal, biasanya bayi mengalami dehidrasi saat ia terkena diare dan muntaber. Terlalu lama berada di luar ruangan dalam cuaca panas juga bisa menyebabkan bayi dehidrasi.

Berikut ini adalah tanda-tanda dehidrasi pada bayi:

  • Tidak buang air kecil selama lebih dari 6 jam
  • Air seni bayi tampak berwarna kuning gelap dan kental
  • Mulut kering dan bibir pecah-pecah
  • Bayi menangis tanpa airmata
  • Lesu dan lemah

Bila Anda menemui tanda-tanda ini, dan dalam 12 jam tidak menemukan perubahan, sebaiknya segera bawa anak Anda ke dokter. Dehidrasi menjadi sangat serius dan perlu penanganan medis secepatnya jika:

  • Tangan dan kaki bayi dingin dan terlihat kusam
  • Rewel atau kantuk yang berlebihan
  • Mata bayi terlihat cekung
  • Bagian lunak di ubun-ubun bayi terlihat cekung atau tenggelam

Cara mencegah dehidrasi pada bayi

1. Orangtua harus tahu seberapa banyak cairan yang diperlukan oleh tubuh bayi

Bayi mendapatkan semua nutrisi dan cairan dari ASI atau susu formula yang diberikan padanya, hingga ia berusia 5 atau 6 bulan, saat ia sudah mulai dikenalkan pada MPASI.

Itu artinya, orangtua tak perlu memberikan air putih atau jus buah untuk membuat bayi tetap terhidrasi, meskipun cuaca sangat panas di luar. Bayi juga belum boleh diberikan air putih, karena bisa menyebabkan ia kekurangan nutrisi.

Selengkapnya: Bolehkah Bayi Minum Air Putih?

Ketika bayi telah dikenalkan pada MPASI, dia akan mendapat sumber cairan selain dari susu formula atau ASI. Seperti air yang terkandung dalam buah dan sayuran, juga air putih yang Anda campurkan ke MPASI-nya.

Ketika frekuensi menyusui bayi mulai berkurang setelah MPASI, pastikan bahwa kebutuhan cairan bayi tetap terpenuhi. Meningkatkan konsumsi air hangat pada bayi amat disarankan, berikan dia air dan jus buah dengan suhu suam kuku.

2. Mencegah dehidrasi pada bayi saat cuaca panas

Saat memasuki musim kemarau, cuaca akan sangat panas. Sebisa mungkin hindari bayi Anda terpapar sinar matahari, pakaikan ia baju dengan bahan tipis dan sejuk, serta menyerap keringat.

Jangan membungkus bayi dengan selimut yang terlalu tebal saat ia tidur, karena gerah yang berlebihan saat tidur bisa memicu sindrom bayi mati mendadak.

Selengkapnya: Bedong Bayi dan Risiko Sindrom Bayi Mati Mendadak (SIDS)

3. Mencegah dehidrasi saat bayi sakit

Bayi seringkali mengalami dehidrasi saat ia sakit, penyebabnya adalah karena muntah terus menerus, diare atau menolak untuk menyusu karena tenggorokan sakit atau mulut bayi yang sakit.

Mencegahnya tentu saja dengan memastikan bayi diberi imunisasi, agar mengurangi risiko terkena virus yang bisa membuatnya sakit. Bila bayi terlanjur sakit, pastikan ia tetap menerima cairan yang ia butuhkan.

Bila sudah terlanjur parah, Anda bisa membawanya ke rumah sakit. Agar bayi tetap bisa mendapatkan cairan melalui infus.

Cara merawat bayi yang mengalami dehidrasi

Bahkan bayi yang diberi ASI eksklusif juga bisa mengalami diare dan muntah-muntah, terus tawarkan ASI atau susu formula pada bayi Anda secara rutin. Untuk memastikan ia tetap menerima cairan yang ia butuhkan.

Bagi bayi yang lebih besar, yang sudah diberi MPASI, Anda bisa menambahkan jus buah seperti jus anggur. Bila bayi mengalami diare, hindari memberinya jus apel.

Bila kelihatannya bayi terlalu banyak kehilangan cairan, karena diare dan muntah, biasanya dokter akan menyarankan pemberian cairan elektrolit. Hal ini dilakukan untuk mengganti sodium dan potasium yang hilang dari tubuh bayi karena diare.

Mewaspadai gejala dehidrasi pada bayi sejak dini bisa menolong bayi untuk pulih lebih cepat, juga menghindari bayi terkena komplikasi yang lebih parah.

Semoga bermanfaat.

 

Baca juga:

Inilah 5 Tanda si Kecil Kurang Minum Air Putih

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Bayi Bayi baru lahir