Penelitian: Dampak negatif memuji kepintaran anak yang wajib diketahui Parents

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Penelitian menemukan dampak negatif memuji kepintaran anak yang harus Parents waspadai, karena bisa mendorongnya berbuat curang/mencontek agar tetap terlihat pintar.

Memuji anak adalah hal alami yang biasa dilakukan orangtua. Namun pernahkah Parents menyadari bahwa ada dampak negatif memuji kepintaran anak yang harus diwaspadai?

Sebuah studi terbaru menemukan, anak yang terlalu sering dipuji tentang betapa cerdasnya dia, cenderung akan menyontek atau berlaku curang saat ujian.

Penelitian yang dipublikasikan di Psychological Science ini dilakukan atas studi yang sebelum dilakukan oleh Carol Dweck mengenai pola growth mindset. Mereka membuktikan dampak negatif memuji kepintaran anak bisa menurunkan motivasi si anak untuk berusaha lebih keras.

Anak yang dipuji atas kerja kerasnya akan memiliki kemampuan lebih baik dan peluang lebih besar untuk sukses. Anak ini lebih termotivasi dibandingkan anak yang sekedar dipuji bahwa dia pintar.

Jika anak percaya bahwa kecerdasan mereka bisa dikembangkan dengan usaha keras dan mau belajar, mereka akan lebih mudah menghadapi kegagalan nilai rendah saat ujian. Dibandingkan anak yang merasa bahwa kepintaran adalah hal yang pasti dan tidak dapat diubah.

Penelitian terbaru ini menunjukkan dampak negatif memuji kepintaran anak yang bisa memengaruhi pola pikir anak sejak dini. Anak usia tiga tahun bisa menunujukkan tanda ketidakjujuran jika terlalu sering dipuji pintar.

“Memuji betapa pintarnya anak kita adalah hal yang umum dilakukan,” ujar salah satu ilmuwan yang terlibat studi ini, Gail Heyman. “Meskipun orangtua dan pengajar tahu, dampak negatif memuji kepintaran anak terhadap motivasi belajar mereka, tetap saja hal itu terus dilakukan.”

“Apa yang ditunjukkan oleh penelitian kami, mengenai dampak negatif memuji kepintaran anak, tidak saja memengaruhi motivasi belajar anak, tapi juga moralnya. Pujian tersebut membuat anak cenderung untuk mencontek atau berbuat kecurangan lain, demi nilai yang bagus,” papar ahli psikologi perkembangan di San Diego ini.

Penelitian ini melibatkan 300 anak-anak, setengahnya berusia 3 tahun dan sisanya berusia 5 tahun. Studi yang dilakukan di China Timur ini menggunakan permainan tebak-tebakan sebagai alat studi.

Sebagian dari mereka dipuji atas kepintarannya, sebagian lainnya dipuji atas performa yang dilakukan, sedangkan sisanya tidak mendapat pujian sama sekali. Peneliti meminta kelompok anak yang dipuji pintar untuk berjanji agar tidak melakukan kecurangan dalam permainan.

Anak-anak tersebut pergi meninggalkan ruangan saat permainan sedang berlangsung. Sebuah kamera tersembunyi mendokumentasikan anak-anak itu berlaku curang dengan melihat kunci jawaban yang diletakkan di meja lain.

Sebuah studi lain menganalisa konsekuensi yang dimiliki oleh anak-anak saat mereka diberitahu bahwa mereka memiliki reputasi sebagai anak yang pintar. Anak yang merasa bahwa orang lain berpikir dirinya pintar akan mengalami tekanan untuk terus mendapatkan hasil yang bagus.

Kang Lee, peneliti dalam studi ini menyatakan, tekanan yang dimiliki ‘anak pintar’ bisa membuat mereka melakukan kecurangan agar bisa terus terlihat pintar. Orangtua harus bisa memuji anak dengan cara yang benar, yakni memuji usaha yang ia lakukan dan bukan kepintarannya.

Nah Parents, mulai sekarang berusahalah memuji anak dengan cara yang benar. Agar dia tahu, bahwa yang terpenting bukanlah hasil akhir, namun usaha dalam mencapainya.

Semoga bermanfaat.

Referensi: Independent

Baca juga:

Penelitian: Cara Orangtua Memuji Memengaruhi Pola Pikir Anak





Better Parenting Bigger Kids