Anak ini dipukul ibu dengan tongkat besi, benarkah karena nilai jelek?

lead image

Sebuah video menampilkan seorang ibu memukul anak dengan menggunakan tongkat besi. Apa dampak kekerasan pada anak dari hukuman fisik ini?

Dampak kekerasan pada anak seringkali luput dari mata orangtua, padahal hal ini sangat menentukan seperti apa anak Bunda kelak.

Kekerasan yang dilakukan pada anak oleh orangtuanya seringkali niat awalnya adalah mendidik mereka. Tak jarang juga, orangtua melakukan kekerasan sebagai hukuman agar anaknya merasa takut jika melakukan sebuah kesalahan.

Setiap orangtua pasti mendambakan anak yang cerdas dan memiliki nilai yang baik secara akademis, meski terkadang harapan tersebut tak sejalan dengan kemampuan anak-anak mereka. Sehingga ketika anak mendapatkan nilai yang kurang memuaskan, orangtua merasa kecewa dan memberikan mereka hukuman yang tak sepantasnya.

Sebuah video kekerasan pada anak beredar di dunia maya. Dalam video tersebut seseorang yang diduga ibu dari anak perempuan tertangkap kamera sedang melakukan kekerasan dengan memukul anaknya menggunakan tongkat besi lantaran sang anak mendapatkan nilai yang jelek di sekolahnya.

Cara mendidik tanpa kekerasan pada anak, mungkinkah?

src=https://id admin.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/24/2018/08/dampak kekerasan pada anak lead.jpg Anak ini dipukul ibu dengan tongkat besi, benarkah karena nilai jelek?

Kekerasan pada anak yang mendapatkan nilai jelek di sekolah

Dalam video itu, seseorang yang diduga merupakan ibu dari anak yang dipukuli memasuki ruangan dengan menggenggam sebuah tongkat besi yang panjang. Kemudian ia memukuli anak perempuannya tanpa ampun di sekujur tubuhnya. Mulai dari badan hingga kaki, semuanya kena!

Tak habis sampai di situ, sang ibu menarik anak perempuan tadi hingga tersungkur di lantai dan meneruskan tindakan kekerasannya tadi.

Menurut laporan, diketahui guru sekolahnya memberitahukan nilai akademis anak tersebut kepada ibunya yang ternyata membuat sang ibu kecewa dan sangat marah. Untuk memberinya pelajaran, ibu tersebut memilih jalur kekerasan.

Kekerasan pada anak atau seorang pengawas sekolah yang memukuli siswinya?

Meskipun banyak yang berspekulasi bahwa dalam video tersebut adalah ibu yang sedang memukuli anak perempuannya, namun ada teori lain yang percaya bahwa video ini diambil di sebuah hostel.

Anak perempuan dan lelaki yang duduk di seberangnya terlihat menggunakan seragam yang sama dan si pemukul diduga adalah seorang pengawas sekolah.

Apapun kesimpulannya , video ‘kekerasan pada anak’ ini sudah viral dan membuat para orangtua geram melihat tindak kekerasan tersebut.

Kalau kamu belum nonton videonya, coba simak video di bawah ini. Peringatan! Video ini mengandung kekesaran dan bisa menyebabkan ketidaknyamanan bagi yang menonton.

 

(Sumber: FeedyTV).

 

Kekerasan pada anak: apakah satu-satunya solusi untuk membuat anak disiplin?

Tentu saja tidak!

Video kekerasan pada anak ini hanyalah satu dari sekian banyak video kekerasan lain yang melibatkan anak-anak. Siapapun yang melakukan kekerasan kepada anak tentu nggak punya hati ya Bun? Kekerasan bukanlah jalan keluar atau solusi untuk mendidik seorang anak.

Faktanya, Michele Knox, seorang Profesor Psikiatri di Universitas Toledo, Amerika Serikat mengatakan, memukul adalah langkah awal dari lingkaran setan kekerasan terhadap anak.

Ia juga menambahkan, terkadang orangtua itu sebetulnya nggak ada niatan jahat justru mereka hanya berniat untuk mendidik anak-anaknya. Namun, mereka juga merasa terpojok hingga kehilangan kendalinya.  Mungkin juga mereka tak tahu masih banyak cara mendidik anak tanpa kekerasan.

Meskipun hukuman fisik memiliki dampak langsung bagi para orangtua, tapi tidak dengan anak. Hukuman fisik bisa menjadi trauma berkepanjangan yang berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan mental sang anak.

src=https://assets sg.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/12/2018/04/child abuse feat 1.jpg Anak ini dipukul ibu dengan tongkat besi, benarkah karena nilai jelek?

Dampak kekerasan pada anak mempengaruhi kesehatan mental anak

Di tahun 2011, NAPNA (National Association of Pedriatic Nurse Practitioners) mencatat bahwa hukuman fisik merupakan salah satu pemegang peranan penting dari pola perkembangan anak yang impulsif dan anti-sosial. Dampak kekerasan pada anak yang seringkali mendapatkan hukuman fisik lebih cenderung terjerumus dalam perilaku yang kasar saat dewasa kelak.

Dampak kekerasan pada anak akan mempengaruhi mereka di masa depan dengan kecenderungan seperti berikut:

  • Perilaku anti-sosial
  • Masalah kesehatan mental
  • Kepercayaan diri yang rendah
  • Hubungan yang kurang baik antara orangtua dan anak yang mempengaruhi kemampuan kognitifnya
  • Masalah perilaku eksternal
  • Masalah perilaku internal
  • Internalisasi moral yang kurang

Bahkan, dampak kekerasan pada anak di atas tak hanya disebabkan oleh hukuman fisik yang berat kepada anak-anak, namun juga pukulan-pukulan ringan.

Seperti yang disimpulkan oleh Dr Catherine A Taylor (dari Universitas Tulane, Amerika Serikat) dan koleganya pada tahun 2010, “Bahkah hukuman fisik minor seperti pukulan kecil di pantat juga meningkatkan risiko bertambah agresifnya perilaku sang anak”

Jadi, kalau hukuman fisik lebih besar dampak buruk ketimbang baiknya ketika mengoreksi kesalahan anak, kira-kira apa ya cara yang paling efektif untuk mendidik anak-anak?

Cara mendidik anak tanpa hukuman fisik

src=https://assets sg.theasianparent.com/wp content/uploads/sites/12/2018/08/mom beats kid feat.jpg Anak ini dipukul ibu dengan tongkat besi, benarkah karena nilai jelek?

Seiring perkembangannya, keinginan anak-anak untuk menjadi mandiri, menunjukkan ekspresinya dan mencari jati dirinya akan menjadi sangat penting dan datang dengan sendirinya. Sebagai orangtua, harusnya kita menyiasatinya dengan perhatian dan kasih sayang bukan dengan hukuman fisik atau perilaku kekerasan pada anak.

Ketika anak-anak bertingkah nakal, berikut beberapa cara yang bisa kamu lakukan untuk mendidiknya menjadi lebih baik!

  • Ambil hak-hak istimewanya: jangan biarkan ia menciummu atau sebaliknya
  • Kurangi jatah jajannya
  • Tambahkan kewajibannya untuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga
  • Tetap berlaku ramah meski mereka bandel
  • Kurangi jatahnya bermain barang-barang kesuksaannya (seperti iPad, smartphone, atau mainan favoritnya)

Jika anakmu masih sulit untuk mematuhi aturan yang kamu buat, cobalah untuk lakukan hal ini seperti yang disarankan oleh seorang psikolog bernama Ben Martin.

  1. Terapkan aturan

Selalu tegaskan secara spesifik mengenai aturan mainnya, di mana batasannya, dan harapanmu terhadap aturan tersebut. Tulislah di tempat-tempat yang biasa ia lewati atau gunakan setiap harinya agar ia dapat membacanya secara rutin.

Penting juga untuk sesekali menjelaskan mengapa aturan-aturan tersebut diterapkan, tapi jangan terlalu menekan ya!

  1. Konsisten

Aturan-aturan yang sudah dibuat sebaiknya tidak dilanggar dan selalu ingatkan anakmu akan konsekuensinya, jangan sampai melunak hanya karena anak merengek, karena hal ini bisa dijadikan celah bagi mereka untuk merajuk.

  1. Komunikasi

Pastikan komunikasi antara orangtua dan anak berjalan dua arah. Libatkan anak-anak pada proses pengambilan kebijakan aturan-aturan yang kelak akan diterapkan sehingga mereka sadar aturan tersebut dibuat secara terbuka untuk kebaikan bersama.

Dengan cara ini, kamu juga dapat menumbuhkan rasa percaya diri anak-anak sebab mereka turut dilibatkan dalam setiap proses pengambilan kebijakan.

  1. Peduli

Ketika menghukum seorang anak yang ‘nakal’, pastikan bahwa mereka tahu yang dikritik bukanlah mereka sebagai seorang individu namun lebih kepada perilaku buruk yang mereka lakukan sebagai individu. Yakinkan anak-anak bahwa perilaku buruk tersebut dapat diubah dan mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

  1. Ajarkan anak akan tanggung jawab sosial

Melalui proses ini, pastikan Anda mengutamakan kesadaran sosial dan integritas di atas segalanya. Sebagai orangtua, penting agar kita menciptakan atmosfer tanggungjawab moral dan sosial dengan memberikan mereka contoh.

Dengan cara-cara di atas, anak-anak tak hanya belajar mengenai kedisplinan dan paham akan aturan di sekitar, namun juga ada dampak baik dengan menciptakan kenyamanan dan kepedulian terhadap anak-anak, tentunya tanpa harus melakukan kekerasan!

 

*Disadur dari artikel Depshikha Punj, theAsianparent Singapura

Baca juga: 

"Ayah, berhenti memukuli saya," tangis balita dalam video ketika dipukuli

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.