Bayi dan anak korban gempa Palu rentan alami 6 penyakit ini

lead image

Berikut beberapa penyakit yang berpotensi muncul sebagai dampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang berasal dari tercemarnya air dan udara (bukan wabah)

Gempa berkekuatan 7,4 skala richter di pantai barat Donggala telah memicu tsunami di Palu, Sulawesi Tengah pada Jum’at, 28 September 2018, pukul 17.22 WIB. Bencana ini meninggalkan banyak kepedihan untuk Indonesia, khususnya warga Palu dan Donggo. Salah satunya dampak gempa bagi kesehatan para korban gempa dan tsunami. 

Korban tewas akibat gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah terus bertambah. Hingga Rabu (3/10/2018) pukul 13.00 WIB korban tewas adalah sejumlah  1.407 Orang.

Berdasarkan laporan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), terdapat sebanyak 2.549 orang luka berat. Mereka tengah dirawat di rumah sakit.

“Yang sudah dimakamkan 519 jenazah,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho.

Sejumlah 65.733 rumah dilaporkan rusak. Sementara, jumlah pengungsi tercatat 70.821 orang yang tersebar di 141 titik pengungsian.

Terkait dampak gempa, sejumlah risiko kesehatan bisa muncul dari pembusukan jenazah, yaitu keberadaan mikrobia (bakteri, virus) yang dicemarkan melalui air maupun gas, sehingga dapat menimbulkan penyakit.

Kepala Pusat Krisis Kesehatan Kemenkes RI, dr. Achmad Yurianto menjelaskan bahwa jenazah mengalami pembusukan sejak satu jam pertama kematiannya.

Pembusukan tercepat ada di bagian otak dan saluran pencernaan, karena seperti kita ketahui di dalam usus manusia tidak steril sehingga banyak mikroorganisme yang membentuk gas sehingga jenazah akan menggembung.

“Pembusukan yang cepat ini yang kita khawatikan. Selain itu, cairan pembusukan jenazah ini bisa mengalir ke mana-mana. Ini sangat berbahaya bagi pasien lain, oleh karena itu seharusnya dimakamkan. Pembusukan jenazah bisa menjadi lebih berbahaya pada korban yang mengalami luka terbuka,” ungkap dr. Yuri dilansir dari laman Kemenkes.

Berikut beberapa penyakit yang berpotensi muncul sebagai dampak gempa dan tsunami di Palu dan Donggala yang berasal dari tercemarnya air dan udara (bukan wabah):

  1.  Gastroenteritis atau yang dikenal sebagai sindrom keracunan makanan bagi korban yang selamat, jika jenazah itu mencemari sungai, sumur dan sumber air lainnya.
  2.  Diare di daerah yang terdampak gempa dan tsunami bisa terjadi karena kontaminasi bakteri pada air yang dikonsumsi pengungsi.
  3.  Disentri dapat menular melalui air yang terkontaminasi bakteri. Selain itu, bakteri disentri juga dapat berasal dari parasit yang hidup di perut seseorang. Disentri menyebabkan diare yang mana ada darah dan nanah dalam kotoran. Dalam kasus yang jarang terjadi, dapat membunuh penderitanya dalam 24 jam. Namun, sebagian besar kasus hilang dengan sendirinya, tanpa pengobatan.
  4.  Hepatitis A dan E yang dapat menyebar melalui kotoran manusia. Seseorang bisa terinfeksi virus ini dari air atau makanan yang terkontaminasi.
  5.  Infeksi usus yang juga disebabkan dari kontak dengan air yang terkontaminasi.
  6.  Leptospriosis. Air minum yang terkontaminasi dapat membawa bakteri penyebab leptospriosis. Seseorang berisiko terinfeksi ketika air terkontaminasi oleh air kencing hewan yang membawa bakteri yang menyebabkan leptospriosis, seperti tikus, sapi, babi, kuda, anjing, hewan pengerat dan hewan liar.

Apakah mayat korban gempa dan tsunami Palu dan Donggala dapat menyebabkan wabah/epidemi seperti kolera, ebola, TBS, atau demam lassa?

Pemakaman korban meninggal pasca-bencana memang harus dilakukan sesegera mungkin guna menghindari penyakit. Saat tsunami Aceh 2004 lalu, terdapat pemahaman yang menyatakan bahwa mayat-mayat harus dibakar guna menghindari wabah/epidemi, misalnya wabah kolera. Apakah teori tersebut benar?

WHO menyanggah pemahaman tersebut dengan mengeluarkan panduan tentang manajemen evakuasi jenazah pasca-bencana. Dalam panduan tersebut WHO menyatakan bahwa mayat dari bencana alam tidak menyebabkan wabah/epidemi penyakit.

Hal ini dikarenakan korban bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala lazimnya tewas karena tenggelam, tertimpa bangunan, atau trauma sehingga tidak mengandung organisme penyebab epidemi.

Kecuali kematian mereka disebabkan oleh penyakit yang sangat menular seperti ebola, demam lassa, TBC, atau kolera, dan ketika bencana terjadi di daerah endemik penyakit yang sangat menular.

“Karena yang meninggal itu orang sehat, bukan orang yang menderita penyakit menular. Jadi, kemungkinan munculnya wabah dari jenazah ini kayaknya sangat kecil dan itu sekadar mitos,” tegas ahli epidemiologi yang juga mantan staf ahli menteri kesehatan bidang epidemiologi dan sanitasi, I Nyoman Kandu dilansir BBC.

Namun begitu WHO mengakui sejumlah risiko yang bisa muncul dari dampak gempa melalui air minum yang terkontaminasi bakteri dari feses mayat yang kemudian dikonsumsi oleh para pengungsi.

Penanganan yang harus dilakukan untuk mencegah dampak bencana

  • Korban tewas segera dimakamkan. Hal ini juga ditegaskan oleh Menteri Kesehatan (Menkes), Prof. Dr. dr. Nila Farid Moeloek. Ia menyarankan agar jenazah korban Gempa Palu segera dikubur untuk mengurangi risiko atau mencegah penyakit infeksi yang bisa ditimbulkan dari pembusukan jenazah
  • Kubur jenazah 1,5-2 meter. Titik kubur harus berada di atas permukaan air tanah untuk melindungi air tanah.
  • Kubur jenazah di tanah berpasir. WHO mengungkapkan, meskipun tidak ada rekomendasi standar untuk kedalaman kuburan, disarankan jika memungkinkan jenazah dikuburkan tanah dengan tekstur berpasir dan mengandung alkali untuk mencegah kontaminasi air dan degradasi DNA mayat.
  • Lokasi pemakaman harus setidaknya 30 meter dari mata air atau anak sungai dan 200 m dari sumur atau sumber air minum lainnya.
  • Pada pemakaman massal, masing-masing jenazah ditempatkan sejajar dengan jarak 0,4 m satu sama lain.
  • Kurangi pencemaran air dengan memberi desinfektan rutin pada air untuk mencegah penyakit.

 

Referensi: WHO, BMKG Foto: dok. Kumparan