Dalam 48 Jam, 110 Orang termasuk Bayi di Somalia Meninggal Akibat Wabah Kelaparan

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Bayi di Somalia berikut orang dewasa dan anak-anak menderita kelaparan. Pemerintah mengumumkan 110 orang dinyatakan meninggal.

Betapa ironis, di saat banyak orang menyisakan makanannya, 110 orang dewasa, anak-anak, dan bayi di Somalia terpaksa harus meninggal akibat wabah kelaparan. Kelaparan ini disebabkan kurangnya asupan makanan selama musim kemarau di Somalia.

Dikutip dari VOA Indonesia, Perdana Menteri Somalia mengumumkan, selama 48 jam terakhir, wabah kelaparan yang menimpa hampir seluruh Somalia Selatan ini telah memakan korban 110 orang termasuk bayi. Jika tak segera datang bantuan makanan, maka korban akan terus bertambah hingga angka yang tak dapat diperkirakan lagi.

Jika di Indonesia rata-rata sedang ditimpa hujan deras, di Somalia keadaannya berbalik 180 derajat, Kemarau panjang telah melumpuhkan banyak sumber makanan dan membuat banyak orang jadi kelaparan, terutama para perempuan dan anak-anak.

Saat ini, pemerintah Somalia beserta PBB memperkirakan bahwa ada lebih 6,2 juta orang yang sudah dalam kondisi darurat kelaparan.

Secara resmi, pada Selasa (28/2/2017) Perdana menteri Somalia Hassan Ali Khaire mengumumkan kemarau sebagai sebuah bencana nasional. Menurut kantor berita NPR, wilayah paling terdampak adalah Selatan Somalia dan beberapa negara bagiannya.

PBB melalui Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menggelontorkan dana sebesar 4,4 miliar dolar untuk negara-negara yang sedang ditimpa kelaparan. Seperti Yaman, Somalia, dan Negeri Timur Laut.

Anak usia 5 tahun di Somalia menangis ketika tenaga medis menyuntikkan tangannya agar dapat bertahan hidup. Sumber foto: NPR.org

Namun menurut Time, secara spesifik sekitar 26 juta dolarnya khusus digelontorkan untuk bencana kelaparan di Somalia. Koordinator kemanusiaan PBB Stephen O'Brien akan terjun langsung ke lapangan untuk mengawasi aliran dana kemanusiaan tersebut.

Saat ini tercatat, sudah ada 363,000 anak dinyatakan mal nutrisi di Somalia. Sementara itu, 71,000 sudah dinyatakan sebagai pasien gizi buruk yang membutuhkan bantuan darurat untuk mempertahankan nyawanya.

Kurangnya sumber air bersih di masa kemarau juga membawa wabah penyakit kolera dan penyakit menular lain. Bahkan, sumber dari peneliti PBB menyebutkan bahwa beberapa orang memang meninggal karena kolera, bukan hanya kelaparan.

Presiden terpilih yang merupakan pimpinan gabungan Somalia-Amerika Mohamed Abdullahi Mohamed ditantang untuk menyelesaikan semua krisis ini. Apalagi, kemarau bukanlah penyebab tunggal terjadinya kelaparan ini.

Salah satu penyebab mengapa kondisi rawan menimpa Somalia di segala sisi adalah pemberontakan kaum ekstrimis beragama al-Shabab yang menimbulkan konflik saudara yang berkepanjangan. Konflik tersebut membuat akses warga sipil pada makanan berkurang bahkan sebelum datangnya kemarau.

Saat ini, berbagai lembaga kemanusiaan sedang berkoordinasi untuk membantu Somalia agar tak ada lagi orang yang meninggal karena kelaparan. Semoga bantuan makanan dapat segera datang.

Banyak doa untuk Somalia. Semoga peristiwa serupa tak akan pernah terjadi di Indonesia. #PrayforSomalia.

 

Baca juga:

Nyaris Tewas Ditelantarkan Ibu Kandung, Bayi Hydrocephalus ini Sehat Berkat Ibu Angkat

 

Dapatkan info Terkini Seputar Dunia Parenting

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Berita