Bumi terancam rusak karena sampah plastik, apa yang bisa kita lakukan?

lead image

Tidak ada alasan untuk menunda diet plastik.

Berita paus terdampar dalam kondisi mati membusuk di pantai Wakatobi membuat miris. Saat dibedah, di dalam perut paus sperma yang masih berusia muda itu ditemukan berkilo-kilo sampah plastik. Isinya, dari sandal jepit hingga ratusan gelas plastik sekali pakai. Kasus ini membuat isu mengenai cara mengurangi sampah plastik kembali mengemuka.

Kapal buang sampah ke laut, Indonesia darurat cara mengurangi sampah plastik

Indonesia memang mengalami darurat kesadaran membuang sampah pada tempatnya. Agustus tahun lalu, video viral membuat miris orang yang menontonnya.

Dalam video tersebut, seorang awak Kapal Motor (KM) Bukit Raya terekam membuang sampah dari tempat sampah ke lautan di saat kapal tengah berlayar. Lalu apa gunanya penumpang membuang sampah di tempatnya jika sampah akhirnya dimasukkan ke laut juga?

Pada November 2017, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Pandjaitan memerintahkan agar kapal-kapal milik TNI Angkatan Laut tidak membuang sampah ke laut.

Sebelumnya, di Februari 2017, Luhut mengatakan bahwa Indonesia menargetkan diri di 2025 sudah memangkas 70% sampah plastik. Hari ini, 16% dari total sampah plastik di Indonesia dibuang ke lautan.

Namun, yang ditekankan Luhut sebagai cara memangkas sampah plastik tersebut ialah dengan mendaur ulangnya. Bagaimana dengan iktikad mengurangi konsumsi plastik yang nanti akan berakhir sebagai sampah?

Kasus paus dan video buang sampah di laut menyiratkan, ada dua masalah utama mengenai sampah plastik di Indonesia. Pertama, bagaimana mengurangi konsumsi plastik. Kedua, bagaimana memaksimalkan daur ulang sampah plastik.

Sulit membatasi diri menggunakan produk plastik sekali pakai. Tapi, bukan berarti mustahil mencoba mengurangi pemakaiannya di dalam rumah tangga. Ada sejumlah cara yang Bunda bisa lakukan demi lingkungan yang lebih baik bagi anak-anak kita.

Cara mengurangi sampah plastik #1: Gunakan clodi (cloth diaper) 

Alih-alih menggunakan tisu basah dan popok sekali pakai, gunakan kain yang bisa dicuci dan popok antibasah yang bisa digunakan berkali-kali. Bagaimanapun, tisu basah dan popok dikemas dengan plastik. Memang, cara ini akan lebih merepotkan. Tetapi, itu konsekuensi dari komitmen menjaga lingkungan. Setelah terbiasa toh akan terasa mudah juga.

Cara mengurangi sampah plastik #2: Ganti sedotan dengan stainless straw

Berhenti memakai sedotan. Es bukan minuman yang sehat, demikian pula alat bantu minumnya, si sedotan plastik. Sebagai gantinya, bawa sendiri sedotan yang terbuat dari stainless steel, kaca, maupun bambu. Cek toko online dan pilih model sedotan keren yang lebih ramah lingkungan. Bawalah sedotan ini setiap kali Anda pergi makan di luar.

Video ini dibuat ahli biologi kelautan Christine Figgener di perairan Kosta Rika tahun 2015. Penderitaan penyu yang hidungnya tersumbat sedotan plastik ini harusnya membuat kita sadar betapa merusaknya sampah plastik bagi lingkungan.

Cara mengurangi sampah plastik #3: Membawa tas belanja sendiri

Membawa tas belanja ke mana pun Bunda pergi agar tak perlu memakai plastik kresek lagi. Coba beli tas belanja yang bisa dilipat, lalu simpan selalu dalam tas tangan Bunda.

Cara mengurangi sampah plastik #4: Membawa kotak makanan 

Membawa kotak makanan sendiri saat membeli makanan di luar. Plastik bungkus, styrofoam, sendok plastik, atau sumpit sekali pakai memang populer, tetapi bukan berarti itu baik. Selain menambah calon sampah, bahan-bahan tersebut juga berbahaya saat dipakai menampung makanan panas.

Cara mengurangi sampah plastik #5: Bawa botol minum

Tak hanya kotak makan, Bunda juga perlu membawa botol minuman sendiri. Efek lain, Bunda bisa menghemat ongkos beli air mineral yang di restoran harganya sering tak masuk akal. Jangan lupa mengisi botol kapan saja Bunda menemukan air putih gratis.

Cara mengurangi sampah plastik #6: Gunakan botol ASI yang bisa digunakan berulang kali

Jika sedang menyusui dan kerap memompa asi, tampung asi di botol berlabel BPA free yang kedap udara. Selain lebih aman, menggunakan botol yang bisa dipakai lagi tentu lebih ramah lingkungan ketimbang menggunakan kantong ASI sekali pakai.

Semoga kita bisa terus menjaga bumi ini untuk masa depan anak cucu kita.

Baca juga:

Video banjir ini tunjukkan buruknya kondisi sampah di Indonesia!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Adroid.