Parents, ini caranya mengendalikan emosi anak sesuai tahapan usia

Mari sebarkan artikel ini kepada pembaca lainnya

Beda usia, beda caranya mengatasi emosi anak. Pelajari caranya agar kecerdasan emosi anak mulai bisa terbentuk sejak dini.

Sejak lahir anak-anak sudah memiliki berbagai emosi (seperti marah, senang, cemas, sedih, dan sebagainya) yang akan terus berkembang seiring pertumbuhannya. Sebagai orangtua, Anda wajib tahu bagaimana cara mengendalikan emosi anak agar ia memiliki kecerdasan emosional yang baik.

Selama masa pertumbuhan anak, emosi alaminya akan bercampur dengan apa yang ia lihat dari lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, gaya parenting yang tepat akan sangat penting untuk mengendalikan emosi anak.

Sebelum Parents mengajarkan bagaimana cara mengendalikan emosi anak, sebaiknya ajari anak terlebih dahulu untuk mengenali dan mengidentikasi perasaannya. Misalnya, sedih, marah, kecewa, malu, senang, benci, dan sebagainya.

Berdasarkan riset, mengidentifikasi emosi adalah tahap awal dalam mengendalikan emosi anak. Jangan sampai anak tak mengerti perasaannya sendiri sehingga ia jadi gagal mengontrolnya di kemudian hari.

Berikut cara mengendalikan emosi anak sesuai usianya:

1. Mengatur emosi usia bayi

Anak digolongkan masih bayi jika usianya 0-12 bulan. Di usia ini, anak akan menampakkan emosi alaminya dan mengenal emosi kedua dari lingkungan terdekat yang ada di keluarganya.

Sesuai dengan perkembangan otaknya, emosi bayi akan terpengaruh apabila berhubungan dengan tiga hal, yaitu sentuhan, pelukan, dan makanan.

Rasa senang dan sedih tergantung pada 3 hal tersebut. Riset menyatakan bahwa bayi berusia 6 bulan mulai bisa menyesuaikan kondisi dan mencoba mengatasi emosinya sendiri.

Namun, Parents bisa membantunya untuk jadi lebih senang dengan memutarkan lagu maupun mengajaknya bernyanyi. Rasa stres yang dialami bayi bisa berkurang dengan adanya stimulasi dari melodi musik yang diputar.

Jangan lupa, interaksi dengan orangtua maupun orang terdekatnya adalah cara ampuh untuk membuat bayi tenang. Jadi, jika Parents ingin anak tenang, ada baiknya untuk memutar lagu sambil mengajaknya bermain ya.

2. Mengendalikan emosi anak balita

Di usia 1 – 5 tahun ini, rasa takut adalah emosi yang paling sulit dimengerti dan diatasi oleh balita. Pada usia ini juga, orangtua mulai mengakrabkan anak dengan emosinya sendiri.

Misalnya saat ia menangis, Parents perlu bertanya apa yang ia rasakan. Saat ia senang, Parents juga mulai bisa mengajaknya berinteraksi tentang apa yang membuatnya senang.

Misalnya Bunda bertanya, “Kok dedek keliatan sedih? Kenapa? Sini coba cerita sama Bunda.” Atau bisa juga, “Dedek seneng sekali? Coba ceritain ke Ayah”

Di usia balita, mereka sudah mulai bisa berkompromi dengan emosinya sendiri. Namun Parents harus mulai berhati-hati karena balita akan meniru respon orangtuanya dalam segala situasi.

Jadi, lebih berhati-hati dalam bersikap. Karena Anda adalah idola pertama anak, maka Anda lah yang akan ditiru olehnya.

Artikel terkait: Untuk orangtua, ini caranya mengendalikan diri agar tidak bersikap emosional ke anak.

3. Mengendalikan emosi anak-anak

Di usia 6-10 tahun, anak-anak sudah mulai mengenal emosi kedua (secondary emotion). Di sini, mereka bisa terpengaruh lingkungan, media, dan memiliki pemikirannya sendiri tentang segala sesuatu.

Anak-anak tak hanya harus mampu mengidentifikasi emosinya sendiri. Melainkan juga mampu mengatakan apa yang menyebabkan ia jadi seperti itu.

Ia mestinya sudah bisa menahan diri dari emosi yang mungkin dapat merugikan orang lain. Ia belajar kata maaf, kebaikan, dan segala macam tentang emosi baik.

Ia mulai tahu mana yang baik dan buruk, mana yang jahat, dan penyebabnya. Jika merugikan orang, maka sebaiknya ia tidak melakukannya.

Anak mulai belajar rasa sakit hati, iri, benci, marah pada seseorang, kasihan, terharu, lucu, dan berbagai emosi lainnya. Di sinilah anak mulai belajar untuk dewasa dan mengatasi rasa kecewanya.

Caranya mengatasi masalahnya di usia ini akan berdampak sampai ia dewasa. Maka, Parents tak perlu selalu membantunya dalam berbagai hal.

Biarkan ia gagal dan ajari ia untuk mengatasi rasa kecewa karena kegagalannya ini.

Kunci utama adalah bonding dengan orangtuanya. Jika orangtua jadi tempat aman untuknya, maka anak akan merasa bahwa apapun situasi sulit yang ia hadapi, orangtua akan jadi tempat aman untuknya yang membuat keadaan akan jadi terasa baik-baik saja.

 

Baca juga:

6 Jenis Kekerasan Emosional pada Anak yang Dilakukan Orangtua Narsis

 

Dapatkan Infomasi Terbaru dan Hadiah Menarik Khusus Member

Terimakasih telah mendaftar

Kunjungi fanpage kami untuk info menarik lainnya

Menuju FB fanpage
theAsianparent Indonesia

Better Parenting