5 Langkah Mengajari Anak Berlapang Dada Terhadap Penolakan dan Kegagalan

5 Langkah Mengajari Anak Berlapang Dada Terhadap Penolakan dan Kegagalan

Mengajari anak-anak untuk berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan dapat membentuk kekuatan mentalnya. Ini langkah mengajarinya.

Kegagalan dan penolakan memang menjadi sesuatu yang sering kali membuat perasaan kita sakit dan kecewa. Akan tetapi, berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan perlu kita coba terapkan di dalam diri sendiri.

Kegagalan dan penolakan bisa dialami oleh semua orang, tak terkecuali anak-anak. Kegagalan dan penolakan yang akan anak-anak hadapi akan datang dengan berbagai situasi. Mengajari anak untuk berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan akan membuat mentalnya lebih kuat saat ia dewasa nanti.

Kegagalan dalam tes, tak dipilih dalam sebuah kompetisi, atau sekedar tak diajak bermain oleh teman dekatnya bisa membuat mentalnya turun jika tak diantisipasi. Padahal, penolakan dan kegagalan yang dialami anak akan makin bervariasi seiring dengan pertambahan usianya.

Artikel terkait : Belajar menerima kekalahan, pelajaran berharga yang wajib ‘ditanam’ sejak dini

Strategi untuk membantu anak agar dapat berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan bisa dilakukan dengan cara sebagai berikut:

Berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan

Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa orangtua lakukan untuk mengajarkan anak agar ia bisa berlapang dada menerima kegagalan dan penolakan. Simak ya, Parents.

1. Menjadi contoh

Hal pertama yang perlu Parents lakukan adalah memberikan contoh yang baik dalam menghadapi penolakan maupun kegagalan. Tunjukan padanya sikap positif jika Anda sedang menghadapi tantangan tersebut.

Mereka akan mengambil pelajaran dari yang ia lihat dari Anda. Melatih diri sendiri untuk berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan adalah langkah awal untuk menularkannya pada anak.

Jadi, sebelum ‘memerintah’ anak untuk bisa berlapang dada, maka terlebih dahulu Parents harus melatih hal ini, lalu mencontohkannya kepada sang buah hati.

2. Ceritakan kisah sukses dan gagal Anda

Berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan

Ceritakan padanya tentang kegagalan maupun keberhasilan Anda dari yang sederhana sampai yang rumit. Biarkan ia mengambil pelajaran dan sisi positif dari kondisi yang pernah Anda hadapi.

Dengan menceritakan bagaimana Anda menghadapi kegagalan dan penolakan di masa lalu, anak juga jadi merasa bahwa ia tak menghadapi ini sendirian. Selain itu, ia bisa meniru kekuatan mental Anda dalam menghadapinya.

Saat menceritakannya kepada anak, usahakan untuk memakai bahasa yang ia mudah pahami. Sesuaikan dengan usia anak, sehingga ia tidak rumit untuk mengartikan cerita orangtuanya.

3. Menyadari masa lalu dan masa depan

Jika anak sedang kecewa dengan kegagalan dan penolakan yang terjadi di masa kini, ingatkan dia bahwa dahulu ia pernah sukses. Setelah itu, beri pandangan padanya bahwa ia masih bisa mencobanya lagi di masa depan jika ia berusaha dengan sungguh-sungguh.

Mengajari hal itu akan membuatnya lebih tenang menghadapi masa kini dan akan lebih optimis dalam menjalani masa depan. Selain belajar untuk berlapang dada, anak juga akan belajar soal kegigihan.

Ingatkan juga kepada anak bahwa tak selamanya ia akan mendapatkan kesuksesan, begitu juga sebaliknya. Bikin si kecil paham jika apapun yang ia terima, baik kegagalan maupun kesuksesan, itu adalah memang hasil yang terbaik untuknya.

4. Mendengarkan dan menenangkan

Berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan

Ada kalanya anak tak ingin diceramahi saat ia sedang gagal. Mendengarkan keluhannya akan membuatnya sedikit lebih tenang. Biarkan ia meluapkan semua rasa sedih dan kecewanya saat menerima kegagalan dan penolakan.

Dengan Parents mendengarkan segala cerita dan keluh kesah anak, itu juga membuat ia akan merasa bahwa kasih sayang keluarga akan membuatnya merasa punya tempat berlindung yang aman dari kejamnya dunia. Dukungan utama dari orang tua untuknya akan menguatkan mentalnya.

5. Tahu kapan harus ikut campur

Biarkan anak memiliki pengalaman tentang penolakan dan kegagalan. Dari merasakan itu ia akan belajar dari pengalamannya sendiri.

Mengetahui kapan harus membantu anak dan kapan harus membiarkannya sendirian adalah langkah yang bijak untuk mengajarinya lebih dewasa. Jika anak terlalu sering dibantu, ia tak akan tahu artinya kerja keras. jika anak terlalu sering dibiarkan sendiri, ia akan merasa tidak dipedulikan.

Jika kita sebagai orang dewasa masih harus belajar banyak soal berlapang dada terhadap penolakan dan kegagalan, begitupun anak-anak.

Itulah 5 cara yang bisa Parents lakukan. Semoga informasi ini bermanfaat.

Referensi: Kidspot, Babble, Childmind.

Baca juga:

Inilah 3 Karakter Orangtua yang Bisa Membawa Anak Menjadi Sukses

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

app info
get app banner