Ingin jalankan bisnis bersama pasangan, ketahui 5 tips sukses ini

lead image

Peserta Baby Bash Mei dan Oktober 2017 pasti kenal dengan Memoria Photobooth. Kini, suami istri keren di balik jasa fotografi ini akan berbagi tips menjalankan bisnis bersama pasangan.

Banyak suami istri yang bermimpi untuk bisa membuat sebuah bisnis bersama pasangan demi menambah penghasilan keluarga. Namun tak semuanya bisa berhasil.

Pasangan suami istri seringkali punya hobi dan kemampuan yang berbeda. Mereka kadang punya prioritas yang tak sejalan untuk berbagai hal.

Artikel terkait: ‘Menyulap’ Hobi Menjadi Bisnis Rumahan Modal Kecil

Namun, apa jadinya kalau sepasang suami istri membuat bisnis dari hobi mereka? Adhitya dan Widya adalah contoh nyata yang cukup sukses mendirikan sebuah bisnis fotografi Memoria Photobooth yang selalu memotret keceriaan di berbagai acara.

Bagaimana strategi suami istri dalam mengembangkan bisnis bersama pasangan ini? Simak tips dari mereka:

1. Menyamakan visi berdua

Sejak pacaran, pasangan suami istri kompak ini memang pasangan yang sangat suka dengan tantangan dan sesuatu yang baru. Sebelum memilih bisnis fotografi, pasangan ini sudah pernah memulai usaha jualan kue, parfum, dan lainnya hingga akhirnya memilih photobooth sebagai bisnis bersama pasangan yang lebih serius dan terencana.

“Kami sudah mulai mencoba menjalankan bisnis sejak masih pacaran di tahun 2013 sampai sekarang. Jadi awal mulai bisnis bersama pasangan ya sama mantan pacar yang sekarang jadi suami,” ucap Widya sambil tertawa.

“Kalau Memoria Photobooth sendiri baru benar-benar berdiri di tanggal 7 Desember 2014 di Jakarta. Karena kami melihat Jakarta punya prospek bagus di bidang fotografi dan kami bisa memanfaatkan beberapa peralatan yang sudah kami miliki,” tambah Adhit.

Untuk bisa membuat bisnis jangka panjang, sekalipun dimulai dari nol, mereka mengaku bahwa visi yang ada sudah tersusun hingga 5 tahun kedepan. Misalnya dengan berencana untuk membuka franchise photobooth di berbagai kota dan pengembangan jenis produk baru di setiap tahunnya.

2. Saling melengkapi kekurangan masing-masing

Fotografi yang dipilih karena berkaitan dengan hobi Adhit sejak belum menikah dengan istrinya. Sekalipun begitu, di awal-awal foto, hasil fotografinya tak lantas langsung sempurna.

“Dulu waktu awal hasil foto saya masih cupu. Jadi, saya suka dikritik istri. Dia suka bilang ‘Ini kok hasilnya beberapa ada yang begini ya? Kurang ini kurang itu. Coba Ayah lebih perhatiin detil objek dan komposisinya lagi deh.’ Awal-awalnya dikritik sih saya sebel ya. Bayangin aja, sudah capek-capek kerja, eh pulang-pulang malah dikritik lho. Hahahaha.. Sampai pada suatu titik saya bisa memahami, bahwa mendengarkan kritik dari pasangan dapat membuat saya lebih berkembang dengan menghasilkan sesuatu yang lebih berkualitas. Jadi untuk para pasangan di luar sana coba dengarkanlah kritik dari istri atau suami dengan sabar dan cobalah untuk memahami hal-hal positif yang diharapkannya,” ujar Adhit mengakui.

Hal itu dibenarkan oleh Widya. Wanita lulusan Marketing Management Universitas Bina Nusantara ini mengaku bahwa dirinya memang galak soal menetapkan tingginya standar produk.

Kecerewetan istrinya tentang kualitas inilah yang membuat Adhit makin terpacu untuk bisa membuat produk yang lebih baik lagi.

Mereka pun mulai berbenah dengan berbagi tugas serta mengembangkan bisnis bersama pasangan sesuai dengan visi yang sudah dibuat sejak awal. Lama kelamaan, mereka terbiasa dengan ritme yang sudah ada.

“Jadi dia yang foto, aku yang atur management-nya. Mulai dari budget, jadwal, dan lainnya,” kata Widya di kantor theAsianparent Indonesia beberapa waktu lalu.

Sekalipun Adhit jago dalam urusan memotret dan membuat strategi bisnis, pria lulusan Teknik Industri Universitas Diponegoro ini mengaku bahwa ia adalah orang yang cukup lemah dalam masalah kontrol keuangan dan tidak begitu memperhatikan hal-hal yang detil. Oleh sebab itu, selama ini ia selalu mengandalkan istrinya yang sebelumnya juga pernah mengenyam pendidikan di jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada ini untuk merapikan segala sesuatu yang bersifat administratif.

Apalagi, di luar bisnis Memoria Photobooth tersebut, orang tua dari Fuschia Furry Kinara dan Magenta Akasha Deva ini sama-sama bekerja di perusahaan yang berbeda. Bisnis ini juga bisa menjadi sarana positif untuk terus meningkatkan kemampuan dan kompetensi yang bisa berguna buat perusahaan tempat mereka bekerja.

“Kami mempunyai komitmen, jangan sampai bisnis mengganggu pekerjaan kami di tempat kami bekerja. Kami juga tidak pernah merasa keberatan menjalani keduanya. Karena ini adalah bisnis dari hobi kami, kepuasan klien adalah kepuasan kami juga,” lanjut Widya sambil tersenyum.

3. Saling menguatkan di masa-masa sulit

Seperti bisnis lainnya, Adhit dan Widya tak langsung sukses. Mereka butuh waktu untuk bisa terbiasa dengan segala hal terkait bisnis dan pekerjaan utama.

Dalam perjalanan mereka menjalankan bisnis bersama pasangan, sering kali terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada perdebatan panjang. Namun dari situlah mereka bisa belajar mendengarkan dan memahami satu sama lain.

Sebagai contoh, dalam hal perdebatan membuat desain frame foto, Adhit mempunyai idealisme yang tinggi bahwa desain itu harus mempunyai makna filosofis dan nilai. Namun Widya mempunyai pendapat lain, bahwa desain harus terus mengikuti perkembangan tren yang ada namun tetap dengan sentuhan khas Memoria.

Akhirnya setelah perdebatan panjang, mereka memilih untuk win-win solution menggabungkan pemikiran mereka bahwa desain itu harus bermakna dan mengikuti trend yang ada.

Awal bisnis photobooth dimulai, saat itu mereka belum mempunyai tim sama sekali sehingga segala sesuatunya harus mereka kerjakan hanya berdua. Dari mulai operasional pada saat event berlangsung, seperti mengangkat dan memindahkan banyaknya alat-alat fotografi yang biasanya ada di studio ke lokasi acara, memfoto tamu, memastikan kualitas hasil cetak foto, sampai hal-hal strategis seperti strategi pemasaran, pengembangan produk, dan perencanaan keuangan.

“Ada momen di mana saya menyadari bahwa saya benar-benar memiliki seorang istri yang tangguh. Karena saat itu, saya melihat istri yang sedang hamil masih membantu saya mengangkat peralatan photobooth yang cukup banyak dan berat sampai ke lokasi foto. Ditambah lagi dia juga partner yang asik untuk diajak berdiskusi tentang visi misi bisnis bersama pasangan ini. Hal-hal itu membuat saya merasa bahwa ternyata saya memang tak salah pilih pasangan hidup, Istriku hebat!” kenang Adhit.

Masa-masa sulit yang mereka lewati justru jadi kenangan yang sangat indah untuk menguatkan hubungan mereka sebagai suami istri sekaligus tim dalam bekerja dan berkarya. Bahkan bagi mereka, masa-masa sulit itu membuat mereka merasa bangga dan bersyukur memiliki pasangan hidup yang bisa sejalan dengan tujuan yang sama.

4. Sekalipun satu tim kerja, quality time keluarga tetap penting

Karena waktu libur sering mereka gunakan untuk bekerja bersama, pasangan ini tak lantas mengabaikan pentingnya quality time untuk berlibur bersama keluarga. Mereka pun sudah berpikir jauh sebelumnya untuk membentuk tim yang kompeten agar semua berjalan lebih seimbang, sehingga tidak terlalu banyak mengorbankan quality time yang berharga untuk dapat membahagiakan anak-anak mereka.

“Untuk menjadi besar, kami sadar bahwa tidak mungkin bisa selalu bekerja sendirian, maka dari itu kami sudah merencanakan dari awal untuk membuat sistem pengelolaan bisnis yang mudah dipahami, memperbanyak cabang, memperluas networking, dan membentuk tim, tak lupa juga memberikan training khusus bagaimana cara memberi pelayanan yang baik dan menghasilkan produk yang berkualitas.”

“Selain bisnis bisa berkembang pesat, bonusnya kami juga lebih banyak waktu bersama keluarga, terutama anak-anak kami. Kami tidak ingin kehilangan banyak momen di usia anak-anak kami yang lagi lucu-lucunya ini. Kapan lagi bisa gendong, peluk, cium baby Furry dan baby Genta di usia mereka yang masih imut-imut ini. Hehe…”

“Terima kasih teman-teman tim yang selalu supportif yang namanya tidak bisa kami sebutkan satu persatu. Apalah artinya Memoria kalau tidak ada kalian. Hahaha…” , kata Widya yang semangat sekali menceritakan kekompakan timnya.

Kini lingkup layanan Memoria Photobooth sudah hadir di banyak kota, mulai dari Jabodetabek, Jogja, Semarang, Malang, Purwakarta, sampai Bandung. Pelan-pelan, berkat kesabaran, rasa saling percaya, menghargai satu sama lain, kerja sama tim yang baik dan dasar semangat untuk terus berbagi, pasangan yang kini dikaruniai dua orang anak ini mulai menggapai visi yang dulu mereka rancang baik-baik.

5. Terbuka terhadap tantangan yang ada

Sebagai pebisnis, tantangan akan selalu membuat pengusaha itu berkembang. Kini, Memoria tak hanya hadir dalam bentuk Photobooth. 

Mereka melebarkan sayap ke jasa fotografi dan videografi untuk dokumentasi, pre wedding, wedding, baby birthday, pre sweet 17th , sweet 17th  dan launching produk-produk komersil. Bagi Memoria Photobooth, salah satu tantangan yang paling seru terwujud dalam bentuk memotret anak-anak.

Jika biasanya yang dipotret adalah anak sendiri atau orang dewasa, kali ini para peserta Baby Bash yang jadi sasarannya. Adhit mengaku bahwa memotret anak kecil memang mempunyai tantangan tersendiri karena mereka memang butuh diberi stimulasi lebih agar mendapatkan pose yang diinginkan.

Selain itu karena naluri mereka juga sebagai orang tua yang memiliki kecintaan pada dunia anak-anak, Memoria Photobooth hadir di Baby Bash Indonesia bulan Mei dan Oktober 2017. Jika Parents sudah pernah mengikuti playdate paling seru tahun ini, maka keluarga Anda sudah merasakan racikan cinta potretan Memoria Photobooth sebagai kenang-kenangan serunya Baby Bash tahun ini.

Ingat 5 nilai–nilai prinsip di atas jika ingin mengikuti jejak Adhit dan Widya dalam menjalankan bisnis bersama pasangan ya. Semoga kesabaran dan cinta bisa jadi bumbu suksesnya usaha keluarga.

Ssst… Anda juga bisa lho menghubungi mereka agar momen berharga Anda tak terlewatkan. Kontak Line dan WhatsApp di nomer 081210679270, kunjungi instagram @memoriaphotobooth , @memoria.story dan website mereka di www.memoriaphoto.com.

 

Baca juga:

Tanyakan 6 Pertanyaan Ini Pada Diri Anda Sebelum Memulai Bisnis