Beli Sperma via Online, Ibu Ini Sukses Lahirkan 'Bayi Online' Pertamanya

Beli Sperma via Online, Ibu Ini Sukses Lahirkan 'Bayi Online' Pertamanya

Bisa hamil dengan membeli sperma online, sepertinya ibu ini adalah pionirnya!

Seiring perkembangan teknologi, aneka cara memungkinkan untuk seseorang memiliki keturunan. Mulai dari kehamilan normal, bayi tabung, hingga keputusan beli sperma online! Karena satu dan lain hal, seorang ibu di benua Eropa melakukan cara ini!

Hamil Berkat Beli Sperma Online

Adalah Stephanie Taylor, seorang ibu yang berhasil melahirkan 'bayi online' setelah beli sperma online. Terdengar tak biasa, ada kisah tersendiri mengapa Stephanie melakukan hal ini.

Hamil Berkat Beli Sperma Online

Stephanie sebenarnya telah memiliki seorang anak bernama Frankie. Sayangnya, hubungannya dengan sang kekasih telah berakhir. Padahal, Stephanie sangat ingin memiliki anak kedua.

Alasannya jelas, Stephanie tak ingin anaknya sendirian menjadi anak tunggal. Namun di sisi lain, ia masih meninjau memulai hubungan asmara lagi karena khawatir putranya itu tidak bahagia.

Selain itu, Stephanie juga keberatan dengan biaya program kehamilan di klinik kesuburan swasta yang sangat mahal. Bayangkan, nominal yang harus dikeluarkan mencapai £ 1.600 atau sekitar Rp 31 juta!

Dewi Fortuna rupanya masih berpihak padanya ketika seorang temannya memperkenalkan sebuah aplikasi bernama Just a Baby. Layaknya aplikasi dating Tinder, aplikasi ini berguna untuk mencari donor sperma yang cocok dengan selera pembeli. Pendonor bisa berasal dari lokal maupun luar negeri.

Artikel terkait: Menelan Sperma, Aman atau Justru Berbahaya untuk Kesehatan?

Hamil Berkat Beli Sperma Online

Dengan bersemangat, Stephanie mencobanya. Ia memasukkan kriteria pria yang berorientasi dan penyayang keluarga, juga tanpa ada riwayat penyakit serius di fitur pencarian. Ia juga ingin sperma itu berasal dari orang yang mirip dengannya.

Dengan begitu, anak keduanya nanti akan terlihat mirip dengan putra sulungnya Frankie. Setelah menemukan yang cocok dan berkirim pesan beberapa minggu, pria yang tidak disebutkan namanya itu mengirim sendiri spermanya ke kediaman Stephanie.

"Donornya ramah. Kami minum teh dan mengobrol tentang cuaca," ujar perempuan berusia 33 tahun tersebut. Setelah mendapatkan sperma yang diinginkan, ia pun lantas membeli alat inseminasi buatan yang bisa digunakan di rumah melalui platform eBay.

Selanjutnya, Stephanie juga belajar bagaimana cara menggunakannya melalui tutorial YouTube. Tak ketinggalan, ia sertakan sampel untuk menginseminasi dirinya sendiri. Gayung bersambut, dua minggu kemudian Stephanie hamil!

Sembilan bulan setelahnya tepatnya pada bulan Oktober, lahir seorang bayi laki-laki tampan. Oleh Stephanie, malaikat kecil itu dinamakan Eden. Stephanie menggambarkan Baby Eden sebagai 'bayi online' sesungguhnya yang lahir dengan keajaiban.

"Jika saya tidak memiliki akses ke internet, maka dia (Eden) tidak akan ada di sini. Saya sangat senang bisa menjadi seorang ibu lagi dan saya bangga dengan cara dia hadir ke dunia," pungkasnya.

Stephenie menyebutkan dirinya tidak akan ada masalah jika Eden ingin bertemu dengan “kontributor DNA” ketika sang anak kelak sudah dewasa. Senada, sang donor juga sangat berbahagia dengan hasilnya. "Dia adalah orang yang luar biasa dan saya senang melakukannya lagi jika dia ingin lebih banyak anak di masa depan."

Artikel terkait: Suami Ejakulasi di Luar Hingga Sperma Terkena Mata? Ini Risiko yang Bisa Muncul

Mengenal Bank Sperma

Hamil Berkat Beli Sperma Online

Di luar keberhasilan Stephanie Taylor membeli sperma melalui aplikasi, sebenarnya hal ini bukanlah barang baru. Adalah bank sperma, wadah bagi para donor sperma dapat menampung sperma untuk kemudian mereka donasikan kepada yang membutuhkan.

Sperma bisa diberikan kepada institusi kesehatan maupun perusahaan komersial. Di sini, pria yang ingin menjual sperma harus melewati rangkaian pemeriksaan sebelum diputuskan bisa menjadi donor.

Berikutnya, sperma yang telah dinyatakan layak akan disimpan agar bisa dibeli atau didonasikan kepada pasangan, dalam hal ini perempuan yang sulit memiliki keturunan. Untuk menjadi seorang pendonor, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.

Antara lain bebas dari penyakit menurun, kondisi sehat, serta memiliki fitur tubuh yang baik seperti tinggi dan berat badan ideal. Sperma juga akan diteliti seperti jumlahnya dan bagaimana dia bertahan di suhu yang dingin. Pasalnya, sperma yang didonorkan sebelumnya akan disimpan dulu di lemari pendingin selama enam bulan lamanya.

Sperma juga akan menjalani proses pengujian yang panjang untuk memastikannya bebas dari penyakit dan virus berbahaya. Menariknya, pendonor sperma juga bisa mendapatkan kompensasi dari sperma yang dijual ke bank.

Mengutip The New York Times, harga satu tabung sperma bisa mencapai US$900 (atau sekitar Rp12,4 juta). Jika dikalkulasi, seorang pendonor bisa berpenghasilan hingga US$ 1.500 (atau sekitar Rp 21 juta) dari dua hingga tiga botol kecil sperma yang ia donasikan!

Artikel terkait: Sedang Promil? Wajib Tahu Ciri-Ciri Sperma Sehat Berikut Ini!

Hingga kini, Denmark masih menjadi surga sperma bagi para perempuan Inggris yang ingin memiliki anak dengan program inseminasi buatan. Faktanya, kebanyakan perempuan Inggris yang melakukan program ini adalah 45% persen lesbian, 35% ibu tunggal maupun janda, dan 20% heteroseksual.

Sepanjang tahun 2004, Bank Sperma di Denmark telah menghasilkan lebih dari 25.000 anak di seluruh dunia. Ingin memiliki bayi tanpa suami dan keterbatasan stok sperma di Inggris menjadi alasan mengapa hal ini sangat populer. Menariknya, lebih dari 60% pria pendonor sperma di Denmark memilih untuk menjadi donor terbuka.

Setelah lulus menjadi seorang pendonor, ia akan bisa mendapatkan kompensasi tersebut setelah spermanya ada yang membeli atau telah didonasikan. Mengingat dalam prosesnya tak ada batasan secara hukum terkait frekuensi pendonoran, jangan heran bila satu orang pria bisa saja menjadi ayah biologis dari puluhan anak.

Di bank sperma mayoritas pendonor tidak beridentitas alias anonim. Dengan demikian, secara implisit mereka tidaklah berstatus sebagai ayah dan tidak berkewajiban menafkahi sang anak. Namun, seiring dinamika teknologi tak sedikit anak dari hasil donor sperma ini dapat mencari ayah biologis mereka ketika sudah dewasa.

Bagaimana pendapat Parents mengenai beli sperma online ini?

Baca juga:

id.theasianparent.com/azoospermia

id.theasianparent.com/kesuburan-sperma

id.theasianparent.com/sperma-harus-dikeluarkan

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.