Belajar Dari Tragedi Angga, Bunuh Diri di Kalangan Remaja

Angga merupakan gambaran remaja yang labil dan menjalani hidup penuh tekanan. Bagaimanakah semestinya orangtua menghadapi remaja seperti Angga?

Kasus bunuh diri Angga menjadi peringatan bagi orang tua. Kasus bunuh diri Angga menjadi peringatan bagi orang tua.

Tragedi Angga, pelajaran untuk kita semua

Tragedi yang menimpa Angga, remaja SMP yang memilih jalan pintas untuk mengakhiri hidupnya, seakan menohok kesadaran para pendidik dan orangtua, khususnya orangtua yang memiliki anak remaja.

Angga, hanyalah salah satu dari jutaan remaja yang tengah berjuang mencari identitas diri. Ia mencari keberadaan dirinya di tengah-tengah masyakarat yang semakin rumit dan sulit untuk dihadapi. Namun, pada satu titik, Angga memutuskan untuk berhenti berjuang. Ia pun memilih bunuh diri sebagai akhir dari perjalanannya.

Sejumlah asumsi pun merebak di media massa. Ada yang menyalahkan manga, komik asal Jepang yang dinilai memberi pengaruh buruk bagi perkembangan remaja karena sarat pesan-pesan kekerasan dan himbauan bunuh diri.

Ada pula yang menganggap hal itu sebagai efek dari broken home. Dan menyalahkan orangtua yang bercerai tanpa memikirkan masa depan anak.

Asumsi-asumsi yang berkembang itu tidak sepenuhnya betul, dan tentu tidak seluruhnya salah. Beberapa manga Jepang  merupakan serial yang bagus. Seperti Naruto dan Kuroko no Basuke.

Dan tidak seluruh anak yang memiliki orangtua terpisah, memiliki kecenderungan negatif, serta memiliki hasrat ingin bunuh diri.

Saya dikejutkan oleh kenyataan, bahwa, remaja yang berasal dari keluarga harmonis pun ternyata ada yang bisa melakukan aksi bunuh diri.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Masa remaja, menurut Stanley Hall, merupakan periode di mana individu berada dalam periode badai dan tekanan (storm and stress period) serta mengalami peningkatan kepekaan emosi. Hal inilah yang membuat remaja cenderung labil dan sangat sensitif.

Pada masa-masa labil, emosi yang dialami remaja lebih banyak mengarah pada emosi yang bersifat negatif dan tidak menyenangkan. Seperti: mudah marah, cepat tersinggung, cemburu, iri, frustasi dan sedih yang berlebihan.

Sebagian besar remaja pun kurang dapat merasakan emosi-emosi yang bersifat positif, seperti rasa bahagia, cinta dan penerimaan.

Pergulatan antara emosi positif dan negatif inilah yang kelak membentuk kematangan emosi setiap individu. Dari proses tarik-menarik antara dua kutub emosi inilah yang kelak membentuk kepribadian remaja menuju pribadi yang matang dalam bersikap.

Bagaimanakah sebaiknya orangtua menghadapi remaja?

Komunikasi merupakan kunci yang harus Anda miliki, sebagai orangtua.

Komunikasi yang baik hanya dapat terjadi apabila kita, sebagai orangtua, mau memahami kelabilan emosi remaja, memberikan pengakuan terhadap integritas diri si remaja serta berlapang dada menerima keberadaan anak-anak kita.

Hal ini penting sekali, Parents, agar anak-anak remaja kita dapat tumbuh, berkembang dan membuat perubahan-perubahan yang progresif serta belajar menghadapi masalah. Selain itu anak juga akan semakin sehat, produktif, kreatif dan mampu mengaktualkan potensi yang dimilikinya.

Nah, Parents, selamat mendampingi remaja Anda. Semoga bermanfaat.

Referensi : Hurlock, E.B. 1991. Child Development. 6th. Ed. (Alih Bahasa oleh Tjandrasa, M; dan Zarkasih, M.). Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama,  Memahami Dinamika Psikologi Remaja

Baca juga:

Menentukan Jam Malam untuk Remaja

Agar Remaja Terhindar dari Bahaya Merokok