Suara Hati Seorang Ibu yang Tak Bisa Memberikan ASI Eksklusif Untuk Bayinya

Suara Hati Seorang Ibu yang Tak Bisa Memberikan ASI Eksklusif Untuk Bayinya

Kampanye pro ASI eksklusif kadang menimbulkan ketidaknyamanan di hati para ibu yang tak bisa memberikannya. Mengapa demikian?

ASI eksklusif baik untuk bayi, tapi …

Kesadaran para ibu memberikan ASI eksklusif buat buah hati mereka memang sedang meningkat. Kita dapat dengan mudah menemukan grup-grup pro ASI di medsos, yang menjadi wadah para ibu bertukar informasi seputar ASI.

Kebersamaan misi ASI eksklusif dalam grup-grup pro ASI kadang membuat kita lupa, tak semua ibu berada di posisi yang sama dengan kita. Ada ibu yang berusaha setengah mati agar ASI lancar, tapi tak berhasil.

Kita mengatakan botol susu (susu formula) itu jahat karena bayi baru lahir harus mendapat ASI eksklusif, apapun situasi dan kondisinya.

Lalu apa yang terjadi jika ASI ibu tidak keluar dan bayi tidak mendapat apa yang dibutuhkannya? Bayi menjadi kuning dan ia harus dirawat dari rumah sakit, jauh dari ibunya di hari-hari pertamanya di dunia.

Hal ini diungkapkan oleh seorang ibu bernama Ricka Rahmawati (akun FB Cimoth Ricka) di forum Komunitas Ibu Menyusui di halaman berikutnya.

Apakah seorang bayi yang minum susu formula lantas menjadi hina dina?”

“Banyaknya stigma bahwa seorang bayi harus Inisiasi Menyusu Dini (IMD) dan ASI ekslusif selama 6 bulan, membuat saya merasa ‘harus memberikan IMD dan wajib memberi ASI ekslusif kepada bayi saya, bukan hanya itu saya juga ingin melahirkan secara normal’.

Bahkan saya berpikir seperti itu jauh sebelum saya menikah. Namun kenyataan berkata lain. Beberapa bulan sebelum saya hamil saya didiagnosa mengalami gangguan kelenjar tiroid.

Oleh karena itu ketika saya hamil dokter menyarankan agar ketika saya melahirkan nanti harus dengan jalan operasi, karena akan berisiko kepada saya apabila saya melahirkan dengan cara normal (satu keinginan saya tak terpenuhi).

Ketika memeriksakan kehamilan, saya pernah meminta kepada dokter ingin melakukan IMD kepada bayi saya kelak, dokter pun menyanggupinya.”

“Hari melahirkan pun telah tiba, tepat pada hari itu semua umat Muslim bersiap merayakan Hari Kemenangan. Menjelang subuh saya dioperasi dan proses melahirkan berjalan dengan cepat.

Entah karena apa, dokter lupa memberikan bayi kepada saya untuk IMD. Satu lagi keinginan saya tidak terpenuhi.

Diliputi rasa bahagia karena telah memiliki seorang putri yang cantik, saya tidak begitu kecewa dengan semua keinginan yang tak terpenuhi. Saya berpikir masih bisa memenuhi satu lagi keinginan saya, yaitu memberikan ASI secara ekslusif.”

“Pada waktu itu anak saya lahir dengan berat 2,6 kg. Bisa dikatakan normal walau di batas yang paling bawah. Masih dengan perasaan haru biru saya begitu bersemangat memberikan ASI kepada anak saya, baik di rumah sakit maupun di rumah.

Saya pencet-pencet payudara saya agar ASI bisa keluar. Saya rela begadang tiap malam demi memberikan ASI buat anak saya.

Tepat usianya menginjak 5 hari sang bayi harus kembali ke rumah sakit dan bertemu dengan dokter anak. Saat itu berat badan bayi saya turun menjadi 2,5 kg.

Ternyata bayi saya kuning dengan bilirubin yang mencapai angka 12. Kebetulan saya bertemu dokter yang tidak pro ASI.

Dengan gaya dan intonasi suaranya yang tidak mencerminkan seorang dokter anak, beliau berkata bahwa bayi saya harus dikasih susu formula.

Beliau juga bilang, “Jangan pede sama ASI, Bu.”  “Gimana mau kenyang, ASI Ibu cuma setetes-setetes. Berhubung bayi Ibu kuning, jadi harus dirawat.”

Saya tidak langsung mengiyakan bayi saya dirawat. Saya keluar ruangan sambil bersungut-sungut, apa sih yang diomongkan dokter itu.

Bukannya dukung ASI ekslusif, malah dia suruh kasih susu formula. Jangan-jangan bayi saya suruh dirawat cuma akal-akalan dia aja.”

“Sesampainya di rumah saya langsung bertanya kepada bidan terdekat tentang kondisi anak saya. Dan ternyata anak saya memang harus dirawat dan menjalani terapi blue light.

Akhirnya malamnya saya mengantar anak saya ke rumah sakit, dan ketika ditimbang beratnya hanya 2,25 kg.

Susternya mengatakan bahwa saya tidak perlu menemani anak saya saat di blue light. “Nggak apa-apa Bu, susuin aja sekarang, atau pompa ASI ibu buat bayi ibu. Besok pagi Ibu bisa datang lagi. Ibu harus tenang di rumah karena kalau Ibu ngga tenang, akan berpengaruh sama anak Ibu,” jelas suster.

Saat itu saya langsung memberikan ASI kepada anak saya dan mempompanya. Namun ASI yang dipompa tidak mencapai 10 ml. Maka dari itu, semua orang yang ada di sana menganjurkan untuk sementara bayi saya dikasih susu formula.

Dengan berat hati saya membeli susu formula di minimarket terdekat, dan berharap di rumah nanti saya bisa memompanya lebih banyak.

Dengan hati yang tidak menentu saya harus rela meninggalkan anak saya di rumah sakit. Betapa saya sangat merasa kehilangan sekali saat itu. Bagaimana tidak, kehadiran seorang anak apalagi anak pertama begitu sangat membahagiakan.

Baru saja saya memeluknya dan mendengar tangisnya di rumah, kini anak saya harus dirawat dan dipisahkan dari saya, bundanya.

Malam itu betapa saya sangat menginginkan ASI yang banyak untuk bayi saya, begitu kuatnya saya memompa dan terus memompa.

Sambil memeluk baju bayi saya berjuang agar ASI yang saya hasilkan bisa memenuhi kebutuhan anak saya.

Bagaimanapun kerasnya saya berusaha, ASI yang saya hasilkan kurang dari 5 ml, saya tidur dengan tidak tenang memikirkan bayi saya pasti kesepian di sana.”

“Keesokan paginya saya langsung berangkat ke rumah sakit dan memberikan asi yang hanya sedikit itu. Sorenya, bilirubin bayi saya sudah normal dan anak saya bisa dibawa pulang.

Rasa bersalah, rasa gagal, rasa tidak dapat menjadi ibu karena tidak dapat memberikan ASI yang diperlukan bayi saya, sungguh sangat menyiksa. Saya terus berusaya agar hanya di rumah sakit anak saya dikasih susu formula.

Walau bayi saya tidak mendapat ASI ekslusif karena sudah mencicipi formula, anak saya harus diberi ASI saja.

Setiap hari saya makan menu sehat yang dapat memperbanyak volume ASI, seperti sayur katuk, bayam, ayam, daging, ikan, tempe (ini dilakukan dari saya baru pulang dari rumah sakit).”

“Saya bertanya ke sana-kemari, mencari info di internet bagaimana agar ASI saya melimpah. Banyak ilmu yang saya terima dari internet maupun dari hasil bertanya. Stigma yang saya dapat merujuk pada opini bahwa, ‘ASI Ibu pasti akan banyak dengan cara A/B/C atau cara-cara lainnya”‘

Semua saya ikuti. Mulai dari makan pare mentah, terus-menerus menyusui selama 2 jam sekali dan masih banyak hal lainnya. Akan tetapi ASI saya tetap saja sedikit.

Lalu apa yang terjadi kemudian? Saya mengalami stres, apa yang salah? Semua sudah dilakukan, kenapa ASI saya tetap sedikit? Oke, ada artikel mengatakan bahwa Ibu harus berbahagia agar ASI lancar. Lalu kapasitas kebahagiaan yang seperti apa? Adakah yang bisa menjelaskannya?

Saya merasa menjadi ibu yang gagal dan sangat merasa bersalah kepada anak saya. Terbesit apa yang saya baca di internet bahwa imun anak saya tidak bisa sekuat anak lainnya yang diberi susu formula (keinginan ketiga saya yang tidak terpenuhi).”

“Anak saya tak kunjung berhenti menangis. Akhirnya anak saya diberi susu formula lagi. Namun setelah diberikan susu formula dia menjadi tenang, tampak ceria, tidak menangis kelaparan dan tidak rewel lagi (mungkin karena kebutuhan asupannya terpenuhi).

Pada akhirnya saya berpikir bahwa, mungkin rezeki ASI anak saya hanya segini. Tapi saya harus terus memberikan ASI walau hanya sedikit sekali.”

Sekarang alhamdulillah Jasmine tumbuh menjadi anak yang aktif, sehat, pinter dan cantik pastinya. Biar bagaimanapun sampai saat ini, ketika Jasmine menginjak usia hampir 6 bulan saya tetap memberinya ASI.

Kesimpulannya adalah : Stigma yang positif kadang malah menjadi negatif, tergantung bagaimana cara kita menyikapinya.”

Curahan hati Ibu Ricka di atas memberi kita sudut pandang berbeda tentang pemberian ASI. Memang betul kita semua menginginkan hal terbaik untuk si buah hati.

ASI hanyalah secuil awal jalan panjang yang harus kita tempuh untuk membesarkan anak. Masih ada banyak hal terbaik lain yang masih dapat kita lakukan untuk anak.

Mari kita berikan dukungan pada ibu yang tidak dapat memberi ASI eksklusif. Jangan bebani perasaan mereka dengan rasa bersalah, karena kita men-judge bahwa bayi yang tidak mendapat ASI eksklusif bisa mudah sakit dan mungkin kurang cerdas.

Terima kasih kepada ibu Ricka yang terlah berbagi pengalamannya kepada kita semua.

Suara Hati Seorang Ibu yang Tak Bisa Memberikan ASI Eksklusif Untuk Bayinya

Baca juga: 

Bun, ini lho 10 penyebab ASI keluar sedikit. Busui wajib baca!

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

Penulis

jpqosinbo

app info
get app banner