Bayi Usia 41 Hari Selamatkan Nyawa Banyak Orang Lewat Donor Organ

Saat Theo Omondi dinyatakan meninggal di usia 41 hari, tanpa pikir panjang, orang tuanya berinisiatif untuk donorkan organnya demi selamatkan orang lain.

Ketika orang tuanya diberitahu bahwa dokter tak dapat menyelamatkan bayinya, orang tua Theo Omondi langsung memutuskan bahwa mereka ingin mendonorkan organ bayinya. Aksi ini membuat Theo menjadi donor organ termuda di Inggris.

"Kami merasa bahwa kehilangan Theo adalah hal yang berat untuk kami. Tapi kami merasa bahwa mendonorkan orangnya untuk orang lain bukanlah keputusan yang berat. Kami yakin, jika sudah dewasa nanti, anak ini akan melakukan hal yang sama untuk menyelamatkan orang lain dengan keputusannya sendiri," uajr orang tua Theo yang tak mau disebut namanya.

Thoe yang meninggal saat usianya masih 41 hari ini menyelamatkan beberapa nyawa sekaligus dengan organnya. Misalnya seperti yang terjadi pada bayi usia 5 tahun bernama  Imogen Bolton. Imogen menjalani operasi transplantasi paru-paru dan menjadi pasien termuda yang menjalani transplantasi di Eropa.

Bolton awalnya terlahir dengan sehat. Beberapa waktu setelahnya, ia mulai alami masalah paru-paru. Dokter mengatakan bahwa ia menderita  Alveolar capillary dysplasia dan membutuhkan transplantasi paru-paru secepatnya. Di sini lah peran Theo dalam menyelamatkan nyawa yang lainnya.

"Dokter bilang, biasanya penyakit seperti yang dialami oleh anakku ini hanya dapat bertahan selama beberapa minggu. Sehingga fakta bahwa anakku bisa bertahan selama berbulan-bulan membuat kami kaget," tutur ibu dari Imogen Bolton, Hayley Bolton.

Dokter di Great Ormond Street Hospital in London (GOSH) mengatakan bahwa Imogen masuk dalam daftar tunggu penerima donor organ. Mencari donor organ yang cocok bukanlah hal mudah untuk prosedur operasi penggantian dua paru-paru sekaligus.

Seminggu kemudian, orang tua Imogen mendapatkan kabar baik. Akhirnya ada paru-paru yang cocok untuk putrinya. Paru-paru itu adalah milik almarhum Theo.

(Sumber foto: Today. Dokumentasi orang tua.) Theo Omondi sebelum meninggal. (Sumber foto: Today. Dokumentasi orang tua.)

Kepada laman Today, Hayley bercerita bahwa Imogen benar-benar beruntung mendapatkan paru-paru Theo, "seolah ini terjadi secara tiba-tiba. Beberapa orang menunggu hingga berminggu-minggu, berbulan-bulan, dan bahkan ada banyak orang yang menunggu lama tanpa dapat telepon apapun."

Setelah menjalani prosedur operasi selama 7 jam, operasi transplantasi hati itu berhasil. Ia hanya dirawat selama 7 hari di ICU sebelum akhirnya dibawa pulang ke rumah. Proses penyembuhannya juga sangat cepat.

"Beberapa minggu setelah operasi, Imogen kembali ceria," ungkap Hayley.

Hayley mengucapkan terimakasih kepada orang tua Theo yang merelakan organ anaknya untuk didonasikan, "Tanpa donasi dari Theo, anakku tak akan bersamaku saat ini."

Tak hanya paru-paru, ginjalnya juga ditransplantasikan kepada orang lain, dan sel hatinya diberikan kepada 6 orang lainnya yang membutuhkan.

Di Inggris, ada 6500 orang, termasuk anak-anak yang menunggu donor organ. Dalam 12 bulan terakhir, ada 452 orang dewasa dan 11 orang anak yang meninggal saat masih menunggu donor organ.

"Kami sangat bahagia dengan keputusan ini. Karena kami bisa merasakan kehadiran Theo di tempat terindah dalam tubuh Imogen," ucap orang tua Theo.

Di Indonesia juga banyak orang menunggu donor organ yang cocok untuknya. Namun, mendonorkan organ setelah kematian belum menjadi sesuatu yang jarang dilakukan.

Di negara seperti Amerika Serikat, keputusan mengenai akan didonorkan organnya untuk orang lain tercatat dalam KTP mereka. Sehingga ketika yang bersangkutan meninggal, organ orang tersebut akan langsung didonorkan dan disalurkan kepada yang membutuhkan secara gratis.

Kapan ya Indonesia punya kebijakan serupa soal donor organ tubuh?

 

Baca juga:

Bayi Berusia 74 Menit Jadi Donor Organ Tubuh Termuda