Masturbasi pada bayi perempuan, ini yang terjadi dan alasannya

lead image

Inilah fakta yang perlu Parents ketahui terkait dengan bayi masturbasi.

Bayi masturbasi. Mendengar kata ini, boleh jadi Parents akan sedikit terkejut. Atau malah jadi panik?

Tapi tunggu dulu. Parents sebenarnya tak perlu khawatir berlebihan. Seperti yang dikatakan para ahli, bayi masturbasi merupakan perilaku normal. Bahkan, menjadi bagian perkembangan bayi yang sehat.

Oleh karenanya, tidak perlu merasa malu untuk mengulas dan mencari tahu lebih banyak terkait masturbasi pada bayi.

Bayi masturbasi, bukan penyimpangan?

Penting untuk diketahui masturbasi pada bayi bukanlah perilaku yang menyimpang atau penyimpangan seksual. Ingat, konsep masturbasi Parents dan si kecil tentu akan jauh berbeda. Pada bayi, mereka belum memiliki konsep seks layaknya yang dipikirkan orang dewasa.

Ambil contoh, tidak sedikit anak yang akan bermain-main dengan alat kelaminnya saat mandi. Sayangnya, sebagian Parents yang akan memarahinya karena si kecil melakukan, mengatakan bahwa tindakan itu “buruk.”

Padahal dilakukan anak sebenarnya hanya ingin mengeksplorasi rasa ingin tahunya tentang tubuhnya sendiri.

Bayi masturbasi biasanya terjadi pada bayi yang memasuki usia dua bulan. Untuk anak laki-laki, ini melibatkan rangsangan genital, tetapi  bedanya masturbasi pada bayi perempuan sering kali didiagnosis sebagai sesuatu yang lain.

Sebuah studi yang dilakukan oleh University of Rochester Medical Center menemukan bahwa masturbasi pada bayi perempuan sering keliru karena kerap didiagnosis gejala gangguan gerakan.

Bagaimana kita bisa tahu bahwa bayi masturbasi dan bagaimana menghadapinya?

Berbeda dari bayi laki-laki, bayi perempuan masturbasi, biasanya mereka akan cenderung menggerakkan badannya dengan cepat, terlihat berkeringat, menyilangkan kaki, dan menegangkan badannya seperti seseorang yang mengalami kejang.

Tak mengherankan jika pada akhirnya banyak orangtua yang menganggap bayi perempuannya sedang mengalami kejang-kejang dan segera memutuskan untuk segera ke dokter.

Ya, kondisi ini memang bisa sangat mengkhawatirkan bagi orangtua. Begitu mereka membawanya ke dokter anak, kecemasannya yang dirasakan juga belum tentu bisa hilang beberapa mungkin mengalami lebih banyak kecemasan setelah mereka mengetahui bahwa bayi dapat melakukan masturbasi.

Jika ini terjadi, tetaplah tenang.

Meskipun begitu, Parents tetap perlu mengamati tanda-tanda bayi Anda kapan mereka melakukannya, misalnya saat mereka sedang duduk di car seat, atau saat mereka bosan. Parents  bahkan dapat mencatat jika mereka melakukan masturbasi saat tidur.

Jika ingin menghentikan perilaku ini, bisa saja.  Tapi bersiaplah  jika anak pada akhirnya menjadi marah, menangis karena frustrasi.

Untuk bayi perempuan, masturbasi dapat dengan mudah meregang atau menegang 

The American Academy of Pediatrics melaporkan tentang kasus seorang gadis empat tahun, di mana ada seorang bayi perempuan yang berusia lima bulan sering kali terlihat kaku. Ketika dia berbaring telentang, dia akan  kaki dan tangannya akan menegang. Selanjutnya, dia akan membuat gerakan meringkuk sambil mengatupkan bibirnya.

Dia akan melakukan ini beberapa kali sepanjang hari. Dokter anak melakukan pemeriksaan neurologis dan tes lainnya, tetapi kemudian kondisinya kembali normal. Kebiasaan anak ini menegangkan tubuhnya hanyalah sebuah cara untuk menstimulasi daerah genitalnya

Namun laporan dari British Medical Journal juga menemukan bahwa  gejala-gejala ini juga ditemukan pada dua anak yang kemudian didiagnosis dengan epilepsi. 

Oleh karena itu,  jika Parents mencurigai si kecil memiliki gangguan gerak, segeralah konsultasikan kepada dokter. Jangan sampai terjadi kesalahan dalam diagnosis.

Kadang kita menganggap anak sedang bermasturbasi tetapi sebetulnya perilaku tersebut merupakan tanda awal epilepsi. Untuk itu, penting sekali bagi Parents untuk mencatat semua perilaku si kecil guna membantu dokter lebih memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Apakah masturbasi bayi tanda adanya penyimpangan?

Seiring dengan pertumbuhan anak , mereka secara alami akan menanggapi semua dorongan dan perubahan luar biasa dari tubuhnya. Bahkan seorang anak yang belum mencapai pubertas belum merasakan kebutuhan untuk merangsang dirinya secara fisik.

Dr. Jonathan Mink dari Universitas Rochester ingin para orangtua yakin bahwa masturbasi pada bayi tidak berarti anak mereka akan tumbuh menjadi sosok yang akan melakukan  penyimpangan seksual.

“Ini perilaku umum dan normal yang tidak perlu dikhawatirkan. Tidak tepat untuk menghukum anak-anak karena hal tersebut. Mereka mengasosiasikannya masturbasi dengan kenyamanan, seperti layaknya saat mereka sedang mengisap jempol,” paparnya.

 

Disadur dari artikel Bianchi Mendoza theAsianparent SG

Baca juga:

"Aku Melihat Anakku Masturbasi" – Lalu Apa Tindakan Ibu Ini?