Anak minta batal puasa sebelum waktunya? Ini yang perlu Parents lakukan

lead image

Ketahui, yuk, cara mengajarkan puasa yang baik menurut ustazah dan psikolog berikut ini.

Memasuki bulan suci Ramadhan, Parents mungkin memiliki keinginan untuk mengajarkan konsep berpuasa pada si kecil. Hal ini tentu saja membutuhkan proses, dan disesuaikan dengan usia si kecil. Namun, bagaimana jika dalam praktiknya si kecil meminta batal puasa sebelum waktunya?

Setidaknya, hal inilah yang tengah dikawatirkan oleh Dewi Intan. Tahun ini, ibu dari dua orang anak balita ini mulai mengenal konsep puasa pada anaknya. Namun, ia masih bertanya-tanya, apa yang perlu dilakukan jika anaknya mengeluh tidak bisa meneruskan puasa.

“Biasanya anak-anak sering tanya, ‘Bunda puasanya masih lama, ya? Boleh batal puasa sekarang nggak, Bun?’, nah kalau begini baiknya jawab seperti apa ya?,” ujarnya.

Saat belajar puasa, keluhan anak untuk berbuka puasa tentu sangat wajar. Hal ini dikarenakan si kecil masih belum terbiasa, ditambah lagi aktivitasnya yang terlampau aktif juga tidak berkurang. Sebenarnya bagaimana ya cara menyikapi hal ini menurut perspektif agama dan psikologis?

Anak meminta batal puasa

batal puasa

Anak batal puasa

Menurut ustazah

Dilihat dari kacamata agama, bila seorang anak belum memasuki akil baligh sebetulnya memang belum diwajibkan beribadah, misalnya berpuasa. Namun memang ibadah ini perlu dibiasakan sejak dini agar ia memahami konsep nilai, keutamaan, serta terbiasa hingga dewasa kelak.

Terkait dengan berpuasa ini, Ustadzah Aini Aryani, Lc memberikan ulasannya saat ditemui di acara Pepsodent Herbal Sahur Amal 2019: Mulut Adem, Hati Adem di Jakarta. Menurutnya, mengajarkan anak berpuasa memerlukan proses dan tentu perlu dilakukan dengan cara yang tepat.

Dalam ajaran agama Islam untuk banyak ibadah, anak sebaiknya mulai diajarkan sejak usianya berumur 7 tahun, Motivasi yang diberikan haruslah secara positif bukan berupa ancaman, tak terkecuali bila si kecil memiliki keinginan untuk membatalkan puasa di tengah hari.

Saat ini terjadi, orangtua hendaknya bersikap bijak seusai ajaran agama. Selain itu dalam mengajarkan berpuasa pada si kecil ada beberapa saran dari Aini, diantaranya :

1. Orangtua adalah teladan, anak peniru ulung

Selalu ditekankan dalam ajaran agama Islam, setiap orangtua merupakan teladan berperilaku bagi anak-anaknya. Saat Parents hendak mengajarkan anak berpuasa, tentunya harus dimulai dari perilaku dan sikap kita terlebih dahulu.

Hendaknya kita memberikan contoh bagaimana menjalankan ibadah sesuai dengan ajaran agama. Tunjukkan pada si kecil bahwa beribadah khususnya puasa bukalah menjadi suatu beban, melainkan suatu kenikmatan untuk menjalankanya bersama-sama keluarga.

2. Beri pengertian mengenai keutamaan

Konsep tauhid hendaknya sudah dikenalkan sejak dini dengan cara yang menyenangkan dan disesuai dengan pola pikir si kecil. Misalnya mengenai puasa, jelaskan bahwa sebetulnya berpuasa merupakan salah satu cara kita mensyukuri nikmat yang sudah Allah SWT berikan.

“Katakan pada si kecil puasa itu banyak keutamaannya, salah satunya biar disayang Allah. Kita sudah diberikan banyak nikmat oleh Allah, salah satu cara bersyukurnya yaitu dengan cara kitanya berpuasa. Kalau sudah bisa puasa ibadah yang lainnya juga akan lebih mudah, lho.”

3. Beri motivasi, bukan ancaman

Menurut Ustazah Aini, wajar saja bila si kecil masih belum bisa tuntas dalam berpuasa. Justru prosesnya yang paling penting dalam mengajarkan nilai-nilai keagamaan.

“Sebaiknya anak diajari tidak dipaksa, jadi ya memang sesanggupnya anak. Kalau dipaksa nanti jadi bohong, justru nanti inti dari puasa tidak dapat dimengerti. Jadi semuanya harus berjenjang,” ujar Aini.

Bila si kecil melakukannya hanya karena takut akan ancaman orangtua, justru ini akan membebani si kecil. Dikhawatirkan ia malah akan membenci ibadahnya, tidak memahami alasan dan nilai yang mengenai ibadah tersebut.

Bagaimana jika dilihat dari sisi psikolog?

batal puasa

batal puasa

Tak Ustazah Aini, Psikolog Anak Vera Iritabiliana turut memberikan pandangannya terkait dengan pembelajaran puasa pada anak. Menurutnya, ada beberapa hal yang sebaiknya diperhatikan orangtua ketika hendak mengajarkan nilai ini.

1. Lewat pembiasaan

Menurut Vera, dari segi psikologi tidak ada metode khusus untuk mengajarkan anak berpuasa, cukup dengan melakukan pembiasaan. “Jelaskan mengenai sistem puasa yaitu tidak makan tidak minum, lakukanlah dengan fleksibel, pelan-pelan,” ujarnya.

Parents juga bisa mengenalkan konsep puasa ini melalui bahan buku bacaan Islami atau kartun edukasi.

2. Pastikan tidak ada paksaan

Untuk menanamkan esensi dari ibadah berpuasa, pastikan tidak ada paksaan pada si kecil. Bila si kecil belum kuat menjalankannya seharian penuh, sebaiknya maklumi sebagai proses pembiasan yang dilakukan.

3. Ciptakan lingkungan yang menyenangkan

Dalam melakukan ibadah berpuasa, pastikan si kecil melakukannya dengan senang hati tanpa ada paksaan. Hal ini bisa kita biasakan juga melalui lingkungan keluarga yang menyambut Ramadan dengan suka cita.

“Ciptakan suasana Ramadan yang menyenangkan, buka puasa banyak makanan, makanan spesial saat sahur dan berbuka,” ujar Vera.

Bolehkah memberikan reward pada anak?

Agar si kecil bisa mejalankan puasa dengan maksikmal, tidak sedikit orangtua yang memberikan rewards sebagai bentuk motivasi. Menurut Aini, hadiah bisa menjadi salah satu motivasi yang baik selama hadiah tersebut juga positif dan tidak berlebihan.

Namun sebaiknya apa pun hasil dari pelatihan berpuasa si kecil, tidak seharusnya hak si kecil dipotong. Misalnya saja pemberlakukan hadiah saat bisa mencapainya namun sampai memotong uang jajan saat si kecil belum bisa sampai full berpuasa.

Di sisi lain, menurut Vera seorang anak dalam melakukan banyak hal masih butuh motivasi eksternal. “Andak masih butuh reward, hadiah, pujian tidak ada salahnya dijanjikan hadiah asalkan tidak berlebihan. Motivasi internalnya tetap dibangkitkan, misal menggunakan poin, misalnya kamu bangga kan sudah mencapainya,” ujar Vera.

Menurutnya, lambat laun motivasi eksternal anak akan turun, lalu motivasi internalnya akan lebih dominan. Vera sendiri tidak menyarankan pemberian uang sebagai motivasi atau reward.

“Sebetulnya kembali lagi pada konsep awal bahwa anak harus melakukannya dengan senang hati. Anak tak harus diiming-imingi sesuatu asalkan lingkungannya bisa membawa suasana Ramadan yang menyenangkan.” pungkas Vera.

Bagaimana dengan Parents sendiri, apakah sudah mulai mengenalkan konsep puasa pada si kecil dan memberikan reward untuk memotivasinya?


Baca Juga :

20 Ucapan selamat puasa Ramadhan yang tidak pasaran untuk orang tercinta, yuk share!

 

 

Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.